Ulasan Buku Mojok: Tentang Bagaimana Media Kecil Lahir, Tumbuh, dan Mencoba Bertahan

Ulasan Buku Mojok: Tentang Bagaimana Media Kecil Lahir, Tumbuh, dan Mencoba Bertahan

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Sudah lama sekali rasanya saya tidak mengulas sebuah buku. Terakhir mengulas sepertinya dua tahun yang lalu. Nah, tahun 2021 saya rasa harus menjadi tahun yang baik untuk memulai kembali kebiasaan baik: membaca dan mengulas buku.

Buku “beruntung” yang akan saya ulas pertama kali di tahun ini adalah buku berjudul “Mojok: Tentang Bagaimana Media Kecil Lahir, Tumbuh, dan Mencoba Bertahan”. Sebuah buku antologi memoar yang lahir karena Mojok bertambah usia menjadi lima tahun.

Di ulasan kali ini, saya akan mencoba untuk memberikan ulasan dengan cara yang berbeda yakni dengan cara tanya jawab. Melalui cara ini saya berharap agar ulasan buku yang saya lakukan bisa lebih simpel dan to the point.

Tidak bertele-tele berhamburan dengan opini saya pribadi. Metode tanya jawab juga akan membantu kamu sebagai pembaca untuk skimming dengan lebih mudah.

Saya paham kok, kalau kamu malas membaca begitu banyak teks. Jadi tenang saja, saya akan bantu kamu.

Tampak depan, belakang, dan salah satu halaman isi.

Oke kita mulai saja dengan ulasannya.

“Mas Bagus kenapa tertarik untuk membeli buku ini?”

Bagus: saya tertarik membeli buku ini karena beberapa hari lalu saya melihat ada sebuah Tweet yang mengumumkan diskon buku. Buku yang didiskon itu adalah buku terbitan Mojok yang berjudul Mojok ini. Selain karena diskon, saya tertarik dengan buku ini karena dari tampilan depan, subjudul menjelaskan kalau buku ini berisi tentang cerita balik layar Mojok.

Saya adalah orang yang tertarik dan punya mimpi untuk memiliki sebuah perusahaan media. Jadi mengetahui balik layar dan cara kerja sebuah media adalah hal yang menarik buat saya. Tanpa pikir panjang akhirnya saya beli buku ini.

“Diskonan? Emang berapa sih harganya mas?”

Bagus: Harga normalnya adalah Rp60.000 dijual oleh Kedaiboekoe (Twitter: @kedaiboekoe | Instagram: kedaiboekoe) tapi tanggal 5 Februari kemarin didiskon menjadi Rp51.000. Karena turun harga saya tertarik untuk membeli. (Padahal ya cuma turun sembilan ribu rupiah, duh).

Tapi jujur saya memang ingin membeli karena semangat untuk tahu dapur Mojok jadi harga tidak terlalu jadi masalah. Apalagi seller mengatakan kalau buku ini hanya tersisa satu unit. Makin menjadi semangat saya untuk membeli.

Dari harga diskon Rp51.000 lalu dikirim ke Surabaya dengan ongkos kirim Rp19.000. Jadi total biaya yang saya keluarkan untuk buku ini adalah Rp70.000. Cukup terjangkau.

“Tampilan bukunya seperti apa sih mas?”

Bagus: Mulai dari sampul buku sebenarnya cukup minimalis. Desain depan hanya bertuliskan judul dan subjudul yang ditulis dengan warna emas berlatar warna biru laut pastel. Tidak ada keterangan dan penjelasan bahwa buku ini adalah kumpulan tulisan dari beberapa penulis.

Hanya di bagian penulis ditampilkan ada 12 penulis. Ini sudah menjadi indikasi bahwa buku ini adalah hasil kerja kroyokan. Tapi tidak ada keterangan sedikitpun kalau ini adalah buku antologi memoar.

“Kok antologi memoar? Memang isinya seperti apa?”

Bagus: Saya mungkin mengkategorikan buku ini sebagai antologi memoar. Mungkin kurang tepat, tapi rasanya seperti itu. Mengapa? Karena isinya berkisah tentang cerita para pegawai dan punggawa penting Mojok beberapa tahun terakhir. Ceritanya mengangkat tentang hiruk pikuk Mojok dari sudut pandang penulisnya masing-masing.

Puthut EA sebagai tokoh sentral di Mojok membuka impresi pertama di buku ini pada bagian pengantar. Lalu diikuti oleh tulisan-tulisan lainnya.

Hampir semua tulisan adalah sudut pandang pertama. Jadi menurut saya ini cocok untuk sebut sebagai memoar. Catatan pribadi dan juga curhatan para manusia di balik media sedikit nakal bernama Mojok.

Cerita-cerita yang disajikan cukup beragam. Karena cerita ditulis oleh sosok yang memiliki keahlian dan keseharian yang berbeda-beda. Jadi buku ini bukan semata ditulis oleh para redaktur, kontributor ataupun penulis bayangan. Penulis di buku ini adalah sosok desainer grafis, admin media sosial, videografer, pengembang website, sekretaris, bahkan “alumnus” Mojok.

Keberagaman penulis lah yang menjadi daya tarik buku ini. Karena saya tidak bisa menebak, seperti apa insight atau sudut pandang cerita yang tertulis karean setiap sosok pasti memiliki kisahnya masing-masing.

Keberagaman tulisan ini juga yang membuat saya kagum dengan Mojok karena buku ini membuktikan bagaimana Mojok bisa menjadikan menulis sebagai salah satu kualitas dari sumber daya manusia yang dimiliknya. Satu perusahaan penuh dengan sosok yang bisa menulis? Itu adalah impian dan standar saya saat merekrut seorang tim di TEKNOIA.

Hanya saja, para penulis yang memang tidak semuanya punya rutinitas menulis membuat tulisan yang ada di buku ini terasa jomplang. Terasa dari gaya penulisan, cara penulisan, dan kaidah penulisan yang berbeda-beda. Jelas untuk penulis yang sudah biasa menulis seperti redaktur, punya tulisan yang lebih “bagus” dari penulis yang kesehariannya membuat desain, atau ngadmin.

Nah kualitas tulisan yang jomplang inilah yang membuat saya melihat bahwa buku ini masuk ke dalam kategori kumpulan cerita tanpa ada penyetaraan kualitas. Sunting pun sepertinya juga dilakukan secara minimal agar tetap menjaga rasa penulis untuk setiap tulisan yang disajikan. Tapi yang saya salut adalah, sepertinya tidak ada satupun salah ketik (typo) di buku ini. Keren sekali.

“Oh isinya banyak cerita ya? Lalu apa yang mas Bagus dapatkan dari buku ini?”

Bagus: Sejujurnya saya terlalu menaruh ekspektasi yang terlalu tinggi untuk buku ini. Saya mulanya berharap agar bisa menemukan semacam “panduan-panduan” teknis untuk membangun sebuah media. Tapi nyatanya, saya harus membaca banyak cerita “curhat” dari kru Mojok.

Kecewa? Tidak juga, karena saya tetap mendapatkan nilai dari cerita-cerita yang disampaikan oleh para penulis. Di dalam cerita-cerita tersebut juga sesekali tersemat bagaimana Mojok mengelola rumah tangga perusahaannya. Jadi saya tetap dapat gambaran bagaimana sih aktifitas sebuah media kecil seperti Mojok di Yogyakarta.

Juga sudah saya jelaskan di awal, kalau buku ini juga menunjukkan bagaimana kru Mojok itu solid. Sebab untuk menghasilkan memoar bersama yang tentu tidak mudah.

Membuat buku keroyokan seperti ini bukan cuma tentang mengumpulkan naskah tulisannya saja, tetapi juga tentang bagaimana mengatur cerita dari masing-masing penulis agar tulisan yang tidak terlalu baik, tidak terlalu tenggalam karena tulisan yang lebih bagus.

Menurut saya proses ini butuh upaya yang ekstra untuk menyusun naskah-naskah yang ada menjadi satu buku dengan bahasan yang runut: bercerita tentang kelahiran, pertumbuhan dan dinamika bertahan hidup Mojok. Jadi menyusunnya bukan sekadar berdasarkan abjad nama penulis tetapi juga dari pertimbangan alur cerita.

Satu hal yang saya sayangkan adalah buku ini tidak memberikan ending atau penutup buku! Akhirnya saat saya sedang enak membaca, eh ternyata sudah habis. Ini jadi pengalaman yang ganjil bagi saya karena sebagai sebuah buku memoar yang berisi tentang banyak sekali curhatan, ternyata malah tidak menyajikan sebuah tulisan yang menutup sejarah Mojok dengan harapan-harapan masa depan.

Memang, Puthut EA sudah membahas sedikit tentang harapan masa depan sedikit di bagian pengantar. Tapi itu bahasan itu ada di depan, di pengantar. Lalu beberapa penulis juga sudah menuliskan pengharapannya tentang masa depan di akhir tulisan mereka. Tapi menurut saya, buku ini perlu sebuah tulisan akhir yang bisa menyimpulkan semua tulisan yang ada menjadi satu dalam bentuk epilog.

Kenapa saya ngotot ingin ada epilog? Karena jika ada bahasan tentang harapan dan rencana masa depan, saya sebagai pembaca juga akan menjadi terpacu untuk menyimak langkah-langkah Mojok berikutnya. Alhasil sebagai pembaca bisa lebih loyal, lebih penasaran dan ingin meniru cara-cara sukses Mojok.

“Wah ada yang bikin kecewa ya ternyata. Jadi berapa skor untuk buku ini mas?”

Bagus: Iya walaupun ada hal yang membuat saya kecewa, buku ini tetap menarik untuk di baca. Terutama untuk kamu yang sudah berinteraksi dan sering membaca produk-produk Mojok. Di buku ini, kamu akan menemukan cerita balik layar Mojok yang tidak mudah untuk kamu temukan. Buku yang bisa menambah koleksimu jika kamu seorang yang loyal dengan Brand Mojok.

Secara skor, mungkin saya bisa beri nilai 3,8 dari skala 1,0 hingga 5,0. Artinya buku ini lumayan bagus, tapi tidak untuk orang yang belum kenal Mojok. Buku ini juga tidak cocok untuk mereka yang berharap akan mendapatkan kitab panduan membangun sebuah media alternatif.

“Terakhir, untuk melengkapi ulasannya, spesifikasi bukunya seperti apa mas?”

Untuk spesifikasi buku, saya ambil dari situs resmi penerbit ya, di Buku Mojok.

Dimensi: 14 × 21 cm
Format: Softcover
Jumlah Halaman: xvi + 136 halaman
ISBN: 978-6237284-09-3
Penerbit: Buku Mojok
Penulis: Agus Mulyadi, dkk.
Tahun Terbit: 2019

“Terima kasih untuk ulasan bukunya mas Bagus”

Bagus: Sama-sama, semoga bermanfaat. Sampai jumpa di ulasan berikutnya ya.

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Penulis konten yang punya latar belakang pendidikan bisnis. Sempat jadi jurnalis. Kemudian terobsesi dengan buku dan pengetahuan. Impian terbesarnya adalah membuat film dokumenter dan bikin perusahaan yang peduli keberlangsungan alam.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *