Terorisme dan Kita Yang Perlu Belajar Sadar Diri

Terorisme dan Kita Yang Perlu Belajar Sadar Diri

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Manusia digerakkan oleh idea. Sesuatu yang merasuk kuat ke dalam pikiran, mengakar, menumbuhkan keyakinan sehingga kita mau melakukan apa saja atas nilai tersebut.

Tak ubahnya teror. Yakinlah yang kita sebut ‘pelaku teror’ itu memiliki sesuatu yang cukup kuat mereka yakini sampai mau menukar nyawa dan keluarga. Bukan perihal duniawi pastinya, tapi lebih dari itu. Karena toh apa yang didapatkan setelah mencipta kekacauan yang membuyarkan isi tubuh?

Akui saja bahwa (masih) ada yang bicara kekerasan dengan iming iming besar di dalam agama, mengatasnamakan Tuhan dan hukum-hukumNya. Tentu tidak semua dan memang tidak dapat dibenarkan dengan penasfiran semena-mena.

Teroris tidak punya agama, katamu? Nyatanya mereka punya, meski sekadar abjad pada tanda pengenal. Tidak semudah itu berkata mereka bukan dari golongan kita. Toh boleh jadi, mereka juga manusia yang sembahyang siang malam sama seperti kita, meyakini kemahabesaran Tuhan yang sama dengan kita, menyayangi keluarganya persis seperti kita. Mereka punya kehidupan sedari pagi hingga petang yang boleh jadi sama dengan kita. Kecuali kita merasa lebih benar dan menolak introspeksi diri.

Sakit hati, iya. Tapi jauh lebih menyakitkan ketika menyadari ada yang bergumul di kepala sembari berkata: itu ada saudara kita yang baru saja melakukan bom bunuh diri.

Kok kita nggak mikir, kenapa saudara kita bisa mempertaruhkan nyawa membunuh sesiapa yang nggak pernah mengusik ibadahnya? Kok kita malah melepaskan diri dengan bilang itu bukan saudara kita? Agama sama sekali tidak mengajarkan membunuh orang seenak jidatnya, membuat kekacauan, atau meledakkan bom bunuh diri. Jangankan itu, bunuh semut saja mikir.

Ketika ada manusia yang punya keyakinan pada kemahabesaran Tuhan yang sama dengan kita, harusnya kita prihatin, setan macam apa yang merasuki pikiran mereka sampai melakukan hal sedzolim itu.

Betapa menyakitkan hati, karena bisa jadi ini karena diri kita sendiri yang kian tak acuh dan sebegitunya tidak peduli. Menjadikan ada sebagian dari kita merasa berbeda, tertolak, terasingkan, sehingga mereka terasuki oleh pikiran dan doktrin-doktrin jahanam yang merusak kemanusiaan dan mengkhianati nilai ketuhanan yang semestinya indah.

Ketika kedzoliman terjadi, kita sibuk menyalahkan satu golongan dan lainnya. Kita sibuk pada kenyamanan kita sendiri. Luput menyadari bahwa barisan shaf ummat jauh dari rapat.

Agamamu tidak mengajarkan melukai orang lain, agamaku pun demikian. Kalau ada segelintir manusia yang mengganggu konsensus kita untuk hidup berdampingan tanpa menyinggung hal-hal prinsipil yang sensitif, yang harus kita lawan bukan fisiknya, tapi setan yang merusak isi pikirannya.

Melawan setan memang tidak mudah. Menuduh kelompok tertentu jauh lebih mudah. Dalam pikiran yang kacau, air bisa terlihat seperti api dan api bisa terlihat seperti air. Tapi dangkal sekali kalau kita pun ikut tertipu oleh permainannya dan mulai menyalahkan simbol-simbol. Permainan simbolis ini sudah teramat memuakkan.

Terorisme terorganisir memakan terlalu banyak korban. Mereka yang tak tahu mengapa dirinya harus terluka dan terbunuh, keluarga yang ditinggalkan dengan trauma mendalam, kita semua yang dipermainkan keadaan, si pelaku teror sendiri yang mati sia-sia, juga kemanusiaan itu sendiri. Narasi ketakutan disebarluaskan melaui media apa saja, bahkan oleh tangan-tangan kita sendiri, yang kadang kala juga salah sasaran.

“Kenapa gak si dia aja sih yang di bom?!”

Ini bukan lagi soal helai kain apa yang mereka kenakan atau institusi pendidikan apa yang mereka ikuti. Di luar sana pelaku teror bisa mengenakan pakaian macam apa saja dan berasal dari latar belakang apa saja. Apapun kasusnya, apapun media menakut-nakutinya, bagaimanapun caranya, intinya sama: akal sehat mereka teracuni dan diracuni.

Barangkali sebagian dari pelaku teror itu diracuni dengan iming-iming surga, diracuni dengan keputusasaan atas penguasa yang makin semena-mena, diracuni oleh ketidakpercayaan pada saudara sesama manusianya yang semestinya saling menumbuhkan harapan. Saudaranya, kita-kita ini, yang di satu sisi mengutuk terorisme — yang memang terkutuk, sementara di sisi lain masih hobi mengutuk orang lain yang tidak kita sukai sambil bilang, “Kenapa gak si dia aja sih yang di bom?!”

Ada permasalahan yang lebih rumit dari sekadar identitas yang melekat pada “pelaku teror.” Boleh jadi masa lalunya yang pelik, boleh jadi lingkungan bermainnya yang salah arah, boleh jadi kebutuhannya akan empati yang tidak terpenuhi, apapun yang membuat racun-racun kekerasan terdengar lebih indah dan membuat mereka memilih sukarela menjadi alat perenggut nyawa.

Terorisme dan Kita Yang Perlu Belajar Sadar DiriSementara di balik itu semua, juga ada kita yang alpa peran bahkan lepas tangan karena seringnya lebih sibuk menabrakkan dan membandingkan satu isu dengan isu lainnya padahal satu dan lain sama penting. Tanpa menafikan bela sungkawa pada segenap korban kebiadaban tindak terorisme, barangkali kita yang hari ini duduk tenang di ruang-ruang yang nyaman juga sekali lagi perlu belajar sadar diri.

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Hello! Thankyou for visiting our page! Hit me up through Instagram too @gita.prayitno or send me some mails to hellogita@kulawarga.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *