Soetta: 9/11. Memulai Perjalanan

Soetta: 9/11. Memulai Perjalanan

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Hari ini tepat satu minggu setelah kau melamarku menjadi calon istrimu. Seminggu yang lalu, di depan kedua orang tuaku kau duduk bersimpuh dengan lutut sedemikian rapat dan jemari terkepal karena gugup.

Kau menemukan aku yang lain

“Jadi, maksud saya datang ke rumah bapak dan ibu hari ini, adalah menunjukkan niat saya sekaligus menyampaikan pesan dari keluarga saya, bahwa kami sungguh-sungguh ingin meminang putri Bapak dan Ibu,”demikian kau berujar kepada orangtuaku. Kalimatmu tidak selugas biasanya, kau sedemikian gugup hari itu. Aku bisa mendengar ada hela napas dalam dan panjang di ujung kalimatmu. Canggung dan gemetar.

Aku duduk di sebelah kiri Ibu hari itu. Hanya diam dan menundukkan wajah. Kau tidak menemukan aku yang tertawa lepas dan bercanda seperti biasanya. Kau menemukan aku yang lain, aku yang tidak ingin bicara apa-apa, aku yang tetap diam bahkan ketika Ayah bertanya “Jadi, apa kamu sudah menjawab ‘iya’?”

Aku tidak mau bicara. Perasaanku hari itu sedemikian aneh dan tak kukenali. Ada sebulir air mata di sudut pelupukku dan mengeluarkan sepatah kata sudah pasti akan serta merta membuat pertahanan air mataku tumpah. Lagipula, kita tidak akan duduk bersama di sana hari itu bila jawabanku bukanlah ‘iya’, kan?

“Pernikahan itu berat. Bapak dan Ibu, juga orangtuamu adalah bukti dari perjuangan sebuah cinta dan pernikahan. Kamu sudah sangat cukup dewasa untuk memahami itu, kan?” ujar Ayah kepadamu.

“Tapi pernikahan juga indah. Bahkan pada bagiannya yang mungkin kelak tidak kalian sukai sekalipun, adalah ibadah,” lanjutnya kemudian.


Beberapa jam sebelum pertemuan itu adalah penerbangan bersama kita yang pertama, dari Jakarta menuju kota tempat orangtuaku tinggal. Aku lebih dahulu sampai di bandara sedangkan kau masih dalam perjalanan terbang dari kotamu menuju Jakarta. Kita hampir saja tertinggal pesawat di penerbangan pertama kita, tapi melihatmu datang dari boarding gate toh sudah cukup menghapus semua kekhawatirkanku. Kau ada dan semua akan baik-baik saja.

Bila waktu dan cerita perjalanan bisa kumuseumkan, aku berani menyebutnya sebagai cerita pembuka paling romantis yang menjadi gapuranya.

“Dengan menyebut nama pencipta semesta, penerbangan pertama, untuk bandara demi bandara selanjutnya, berdua.” katamu.

Kau adalah energi yang membuatku kembali menyala setelah padam

Di ketinggian dua puluh empat ribu kaki, aku mengingat begitu banyak hal yang kita lalui hingga sampai pada titik ini. Kau pernah bilang, sepanjang perjalanan hidupmu, kau belum pernah menginginkan sesuatu lebih kuat daripada ini. Tumbuh bersamaku hingga tua untuk melihat cinta bekerja tanpa kenal kata lelah. Kau sedemikian yakin bahwa aku adalah jawaban dari segenap tanda tanya dan do’a-do’a yang pernah kau haturkan pada Tuhan; yang terkatakan dan tidak terkatakan, yang kau lupa dan yang kau ingat-ingat.

Sementara aku ingin meragukanmu hingga aku tidak lagi ragu sama sekali. Sebelum ini kau berkali-kali mendengarku berkata ‘aku tidak siap menikah’ meski kau tidak pernah bosan membalasnya dengan ‘izinkan aku menunggu sampai kamu siap’. Tapi melihatmu duduk di sebelahku hari itu, dalam kecepatan terbang hampir delapan ratus kilometer perjam yang memungkinkan kau dan aku lenyap dalam sekejap mata, keraguanku hilang.

Kau adalah energi yang membuatku kembali menyala setelah padam. Bahkan bila aku diberi kesempatan untuk memutar balik waktu atau menukarmu dengan orang lain, aku tidak akan melakukannya. Kau cukup dan kau tepat.

Kurasa benar bahwa di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Perihal seseorang yang tepat untuk membersamaimu hingga tua adalah tentang kesesuaian, fit and proper. Kau tidak untuk kuperbandingkan dengan (si)apapun. Bilapun ada, barangkali yang menjadikanmu berbeda adalah cinta yang disematkan Tuhan dalam hatimu itu tidak lagi diam-diam.

Ia menyeruak dan bertindak. Begitu teguh hingga membuatmu berani mengambil langkah besar untuk langsung mendatangi titik kiblat, bicara dalam jarak terdekatmu dengan Tuhan. Meminta restu seisi alam di hadapan hajar aswad dan menyebut namaku di sana; adalah seorang perempuan biasa yang kau ajak mendampingi jiwamu, tanpa terikat ruang atau masa.

Untukmu, aku menjawab “iya”


Aku tidak ingin berlebihan mencintaimu tapi kurasa aku lebih dari bersyukur mengetahui kaulah yang ada bersamaku di titik ini. Kau seperti muncul dari cerita-cerita yang dahulu pernah kutuliskan. Kau seperti hadiah dan aku seperti anak kecil yang tidak ingin melepasmu dari dekapan.

Mungkin ketika dulu aku menuliskan cerita imaji tentang bandara dan seseorang yang akan selalu kutunggu di pintu kedatangan, Tuhan mengumpulkan paragraf demi paragrafnya satu persatu, merangkainya menjadi cerita baru yang kemudian Dia beri nyawa.

Ternyata kau nyata.

Melihatmu seperti melihat keajaiban cara kerja semesta. Kurasa kini ‘dia’ dalam cerita-ceritaku sudah punya nama.

Raguku sudah cukup. Kini tolong temani aku untuk terus yakin. Seperti katamu: kita mulai perjalanannya sama-sama.

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Hello! Thankyou for visiting our page! Hit me up through Instagram too @gita.prayitno or send me some mails to hellogita@kulawarga.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *