Sisi Baik Dari Sebuah Pernikahan

Sisi Baik Dari Sebuah Pernikahan

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Bulan April 2020 ini genap satu tahun usia pernikahan saya dan suami. Rencananya kami ingin bikin kaleidoskop apa saja perubahan yang terjadi pada pribadi dan hidup kami selama bersama satu tahun ini.

Awalnya kami ingin menikah pada 23 April 2019, di Hari Bumi, mengingat lifestyle suami saya yang sangat ramah lingkungan. Makan permen saja dia tidak mau karena bingung mengelola sampah plastiknya. Dia ingin hari Bumi juga menjadi hari istimewanya. Tapi kemudian atas kesepakatan keluarga, akad dilaksanakan pada 20 April 2019.

The 4.20, International Weed Day. The Marijuana Holiday.

Hahaha.

Saya dan suami bukan teman lama, kami tidak pernah mengenal sebelumnya sama sekali. Masa perkenalan kami dimulai pada 2017 dan terbilang singkat hanya dari jarak jauh. Bahkan di awal-awal masa pertaman, saya tidak tahu kalau dia punya pacar (lagipula saya tidak terlalu tertarik dengan hubungan personal orang lain, jadi saya tidak pernah bertanya).

Baru pada November 2018, sepulang umroh, dia langsung datang minta izin ke orang tua saya. Lima bulan setelahnya, pada April 2019 kami menikah.

Hanya lima bulan kami menjalani proses hingga akad nikah. Padahal di masa-masa itu, saya sih nggak ada niat mau menikah. Wong sidang skripsi saja belum. Saya yang tidak memprioritaskan “nikah” dalam rencana hidup ini sempat membuat dia berpikir tidak punya kesempatan. Tapi memang dasarnya tipikal analitis, harus turun lapangan supaya dapat jawaban valid.

Akhirnya dengan risiko siap ditolak, dia terbang sendirian dari Surabaya ke Bandar Lampung. Naik pesawat yang delayed 4 jam karena mesinnya rusak. Di depan orang tua sayalah, saya baru menjawab “iya”.

Banyak yang bertanya kepada saya, bahkan berulang kali, apa yang membuat saya yakin menikah secepat itu. Proses hanya 5 bulan, sebelum sidang skripsi dan wisuda sarjana, saya juga belum punya pekerjaan tetap waktu itu.

Oh, ditambah lagi, saya yang dikenal feminis tipis-tipis dan tidak setuju pada dominasi dalam hubungan antar lawan jenis.

Saya rasa, salah satu yang membuat saya menerimanya adalah saya bisa melihat dengan jelas akan seperti apa kami di usia 40 tahun atau 60 tahun nanti jika hidup bersama. Ini majas ya, saya bukan cenayang. Saya merasa saya mampu mengemban amanah pernikahan, saya percaya pada diri saya sendiri.

Di dalam dirinya, saya melihat potensi luar biasa. Diiringi dengan karakter yang sangat tenang, tertarget, realistis, konsisten, analitis dan selalu punya jawaban dengan perhitungan hampir sempurna untuk semua pertanyaan saya. Karakter yang belum pernah saya temui pada laki-laki lain di dalam hidup saya. Tentu bukan juga untuk saya bandingkan dengan ayah saya.

Dia juga tidak datang dari negeri dongeng dan punya banyak kekurangan. Tapi setelah mengetahui berbagai sisi dari dirinya (begitu pula sebaliknya) kami merasa bisa memberikan toleransi bahkan pada hal-hal yang kami kurang suka dan tidak bisa kami ubah.

Waktu itu, suami saya tidak punya banyak harta. Dia baru saja resign dari tempatnya bekerja dan merintis sebuah usaha baru. Sisa-sisa tabungannyalah yang digunakan untuk biaya melamar saya, akad nikah di rumah, serta mahar 1 dinar dan 4 dirham.

Pertimbangan setiap orang berbeda. Kalau untuk saya sendiri, belum wisuda, belum punya cukup dana, atau belum punya pekerjaan tetap bukanlah alasan saya untuk menunda menikah. “Belum” bukan berarti “tidak akan”. Justru saya harus bersiap lebih cepat.

Pernikahan bagi saya bukan kerangkeng yang mengekang kebebasan. Tidak ada korelasi antara belum wisuda dengan boleh atau tidaknya menikah. Tidak ada korelasi antara kebutuhan biaya pesta dengan sah atau tidaknya pernikahan. Dan bukan berarti apabila hari ini belum punya pekerjaan tetap, bulan depan akan tetap sama.

Potensi-potensi itulah yang saya ukur. Saya dan dia saling percaya dan punya rencana yang sangat penuh pertimbangan untuk ini. Saya tahu, kami sama-sama orang yang mau bergerak.

Bulan-bulan awal pernikahan, kami tinggal terpisah. Saya tinggal di Depok menyelesaikan sidang skripsi bahkan tanpa ditemani olehnya. Dia tinggal sendiri di rumahnya, di Surabaya. Tapi tidak apa-apa. Ketika orang bilang hari-hari awal menikah itu pasangan lengket bak perangko, kami justru langsung LDM dan hidup sendiri-sendiri.

Saya tetap dengan rutinitas kampus dan perjalanan lintas kota, dia tetap dengan aktivitasnya bahkan sempat beberapa kali ke luar negeri. Kami baru tinggal bersama setelah saya wisuda pada Agustus 2019.

Saya sering bertanya kepada orang-orang tua yang sudah lama menikah, bagaimana mereka menjalani fase-fase awal pernikahannya. Saya percaya, banyak kisah rumah tangga kuat yang tidak ditulis di buku-buku.


Selama setahun menikah, saya merasa banyak sekali perubahan baik yang terjadi di hidup saya.

Satu bulan pascamenikah, saya sidang skripsi dan lulus dengan baik. Beberapa bulan setelahnya, saya baru diwisuda. Padahal, skripsi ini sudah saya kerjakan sejak dua tahun sebelumnya, tapi saya justru merasa selesai lebih cepat setelah saya memutuskan menerima lamarannya. Haha. Mohon bagian ini tidak untuk ditiru.

Saya senang sekali karena suami saya adalah orang yang tidak sembrono. Termasuk juga dalam merawat rumah tangga.

Kami punya rencana jangka pendek, menengah dan panjang. Kami membuatnya seperti sebuah business canvas, berikut pengembangannya. Mulai dari prenuptial agreement, financial planning, rencana pendidikan, rencana berketurunan, rencana aset dan sebagainya.

Kami juga menyusun Key Performance Index dalam keluarga kami yang dievaluasi setiap bulannya: mulai dari kebiasaan, produktivitas, pengembangan diri, juga capaian target.

Ya, kami berusaha mengelola rumah tangga dengan profesional. Menjadi suami-istri, partner kerja, support system, rekan debat (tanpa ampun), sparring partner, dan tentu saja hard lover. Dia tidak pernah melihat saya hanya sebagai pengikutnya, apalagi pelayan.

Dalam satu tahun pernikahan, sebagai perempuan saya merasa sangat didukung dalam segala aspek. Saya didukung mandiri secara finansial, diberi kemerdekaan untuk mengembangkan diri dan mengelola emosi.

Kalau bukan bersama dia, mungkin saya tidak berani juga mengambil keputusan gila memulai bisnis skala menengah hampir zero modal, memiliki asisten dan karyawan, juga segera melanjutkan S2 tanpa beasiswa.

Pada September 2019, saya memulai Manualle.com, sebuah platfom pernikahan minim sampah dan produk souvenir ramah lingkungan. Pada bulan yang sama Manualle mendapat proyek pertamanya dengan nilai hampir 10 juta. Bukan angka yang kecil untuk bisnis yang baru saja dimulai.

Suami saya meyakinkan bahwa Manualle tidak boleh dibiarkan jadi biasa-biasa saja. Dengan berbagai perencanaan matang, Manualle dipersiapkan untuk melakukan brand launching pada Februari 2020. Konsep adalah Talkshow “How To Organize A Minimal Waste Wedding” yang sejalan dengan konsep pernikahan kami dulu. Brand Launching ini diliput oleh tiga media.

Pada Oktober 2019, suami saya bertanya, apakah saya masih ada niat melanjutkan S2. Tentu iya! Melanjutkan pendidikan hingga S3 itu bukan kompromi buat saya, meskipun saya perlu mempertimbangkan banyak hal, terutama kemampuan finansial.

Waktu itu suami saya bilang, saya tidak boleh membuang kesempatan, saya harus segera ikut tes ujian masuk pascasarjana sesuai jurusan yang saya mau. Perkara bagaimana membayarnya, dia bilang “Percaya saja, insya Allah bisa.”

November 2019, dengan persiapan secukupnya (bahkan saya belum pernah mengambil tes TOEFL) saya mengikuti SIMAK UI Pascasarjana, mengambil peminatan Politik dan Hubungan Internasional Timur Tengah. Singkat cerita, pada Desember 2019 saya diterima S2 di Universitas Indonesia.

Dengan berbagai pertimbangan, saya melakukan defer atau tunda kuliah ke semester berikutnya. Masih banyak yang harus saya persiapkan, khususnya membuat kaki Manualle kokoh sebelum saya meninggalkannya untuk fokus kuliah nanti.

Kami disibukkan oleh beberapa kegiatan sejak Januari 2020. Mengembangkan bisnis, menjadi pembicara di beberapa kegiatan dan seminar, juga mengajar kelas. Suami saya punya program kelas pelatihan bulanan bagi para konten kreator di Surabaya.

Saya senang dia melakukan pekerjaan sesuai minatnya tanpa harus banyak keluar dari rumah. Di sisi lain, brand launching Manualle mendapat sambutan yang sangat baik. Kami kini punya kantor sendiri.

Masih dengan dukungannya, pada Maret 2020, bisnis berikutnya lahir. Cheffmomma namanya. Sebuah usaha catering rumahan, harian, kantor, dan sekolah yang saya jalankan bersama ibu saya.

Cheffmomma dikembangkan di Bandar Lampung dan dipantau langsung oleh ibu saya. Bukan hanya saya yang bahagia mengembangkan bisnis baru, tapi ibu saya juga senang karena ternyata, ketika pandemi menyerang, Cheffmomma justru survive membuat dapur tetap ngebul. Bulan Ramadhan ini, Cheffmomma juga menyediakan berbagai produk cookies dan kue lebaran premium.

April 2020 adalah bulan kedua belas pada usia pernikahan kami. Setahun perjalanan rumah tangga ternyata berlalu cepat sekali. Pandemi Covid-19 sedang menyerang seluruh dunia, yang terdampak bukan hanya kesehatan tapi juga ekonomi.

Suami saya penuh persiapan jangka panjang menghadapi situasi ini. Sejak awal tahun, dia sudah mencari banyak informasi bahkan membaca berbagai artikel sejarah dan ilmiah tentang penanganan pandemi. Prediksinya, paling cepat 6 bulan hingga 2 tahun ke depan kami harus bisa bertahan melewati gelombang demi gelombang pandemi.

Tidak hanya memikirkan bagaimana bisa menjaga kestabilan pola hidup dan finansial keluarga sendiri, tapi juga memikirkan apa yang bisa kami bantu untuk orang-orang terdekat kami di situasi seperti ini. Pandemi memaksa tubuh kami diam di rumah sekaligus memaksa isi kepala kami bekerja lebih cepat.

Surabambu adalah hasil dari masa karantina ini. Tidak bisa diam saja, kami justru mengembangkan usaha baru sebagai supplier sedotan bambu jumlah besar yang berpusat di Surabaya.

Suami saya adalah orang yang percaya bahwa apa yang bisa riil di dalam kepala bisa juga ada wujudnya di dunia nyata. Dia orang yang tidak pernah menertawakan ide gila saya, tidak pernah ragu apalagi memandang saya sebelah mata. Tidak ada yang tidak mungkin karena semua bisa dihitung dan dipersiapkan.

Saya tidak pernah menyangka ternyata pernikahan bisa cukup menyenangkan, bahkan punya kekuatan seperti ini membuat kami melesat. Satu tahun ini rasanya lebih baik daripada lima atau sepuluh tahun masa hidup saya sebelumnya.

Mungkin memang inilah sisi baik dari sebuah pernikahan yang saya jalani. Saya jadi ingat, dulu sekali sahabat saya pernah bilang, “Kalau dia nggak bisa membuat lo bergerak, berarti mungkin bukan dia orangnya.”

Setelah menjalaninya saya baru mengerti, mungkin maksudnya bukan sekadar seseorang yang bisa membuat kita termotivasi, tapi juga seseorang yang memberikan ruang seluas-luasnya untuk kita bisa bergerak dan mengambil pilihan sendiri.

Suami saya tidak pernah mendikte saya sama sekali. Dia selalu bertanya bagaimana pendapat saya untuk tiap keputusan di dalam rumah tangga. Dia juga tidak pernah memaksa saya berbagi ruang privat dengannya.

Kami tidak pernah bertukar ponsel, saling memberi tahu password, kepo isi media sosial apalagi sampai tahu pin ATM satu sama lain. Catatannya ada, tapi kami menyimpannya bersama dan hanya akan membuka apabila kondisi sangat mendesak untuk kepentingan bersama.

Dia membebaskan saya berkomunikasi dengan siapapun, begitu pula saya sebaliknya. Pernikahan ini terasa sangat merdeka, atas nama konsensus dan masing-masing bertanggung jawab penuh dengan semua keputusannya.

Sebagai pasangan, kami juga suka melakukan hal-hal kecil seperti memberi pelukan di tengah waktu bekerja sebagai jeda, membuatkan satu dan lainnya minuman hangat, memasak bersama, mencuci dan menjemur bersama, menata rumah, teras, garasi dan membereskan tanaman bersama. Juga “memelihara” beberapa ekor kucing yang sering datang ke rumah.

Pun kami sering meledek satu sama lain, kabur tidak mau dipeluk kalau salah satunya belum mandi, memasak indomie tengah malam, ngomel sambil tertawa kalau ada yang mencuri camilan, bercanda sambil rebah di tempat tidur, membahas konspirasi dunia atau berdebat dengan serius sampai pagi membahas kebodohan kami sendiri.

Pernikahan ini tumbuh dengan baik. Kami rasa, kami telah menikahi orang yang tepat.

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Hello! Thankyou for visiting our page! Hit me up through Instagram too @gita.prayitno or send me some mails to hellogita@kulawarga.id

One comment

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *