Sejak Nikah Apa-Apa Semuanya Sama-Sama

Sejak Nikah Apa-Apa Semuanya Sama-Sama

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Beberapa hari lalu saya ngobrol dengan Gita soal pembagian tugas antara suami dan istri. Suami harus apa, istri harus apa. Pembahasan yang selalu bikin ribut kalau dilempar lewat sosial media. Tiap orang punya opini dan pandangannya masing-masing dan tentu saja kami juga punya.

Sebagai pasangan baru di rumah yang alhamdulilah sepenuhnya jadi tanggung jawab kami tentu banyak hal yang harus diatur. Karena ga mungkin juga kita membangun rumah tangga tanpa aturan-aturan yang disepakati. Muncullah Konstitusi Kulawarga saat itu.

Tapi Konstitusi Kulawarga saat itu disusun dengan konteks yang masih belum ada tempat tinggal. Tentu ada beberapa hal yang menjadi berbeda ketika tinggal di rumah berdua.

Ya seperti yang biasa diributkan oleh orang-orang, biasanya yang dibahas adalah pembagian tugas apa yang pantas untuk seorang istri. Lalu tugas apa yang harus dilakukan oleh suami. Berbagai meme bermunculan. Para influencer tidak ketinggalan meramaikan pembahasan.

Ada pihak yang bicara dengan dalil agama, ada pihak yang bicara dengan dalil budaya. Macam-macam. Saya pun pusing menyimaknya.

Dari sekian banyak keributan yang terjadi saya melihat satu hal yang menarik dari perdebatan ini. Hal menarik itu adalah pembahasan soal perempuan itu bukan pembantu. Ya, argumentasi ini cukup kuat karena didukung oleh dalil agama.

Tapi yang perlu dicermati adalah bagaimana jika situasi tidak memungkinkan? Berkeluarga hanya berdua dengan pendapatan yang mungkin dengan sedikit tabungan untuk masa depan. Apa mungkin jika kegiatan rumah tangga dilakukan hanya dengan berdua? Perlu asisten rumah tangga? Bisa jadi. Namun peran asisten rumah tangga pun sebenarnya tidak butuh-butuh amat.

Coba kita daftar apa kira-kira yang bisa dikerjakan oleh asisten rumah tangga jika dipekerjakan di sebuah rumah dengan dua anggota keluarga saja.

  1. Mencuci baju
  2. Menyapu rumah
  3. Menyeterika pakaian
  4. Memasak

Sudah

Selebihnya tentu tidak ada. Coba dicermati satu-satu. Mencuci baju untuk dua orang, kalau dilakukan dengan mesin tentu saja sangat mudah dilakukan. Untuk apa mencuci manual seperti dahulu ketika sudah ada mesin yang mengerjakan.

Mencuci manual mungkin perlu dilakukan jika terkait dengan hal yang agak pribadi seperti pakaian dalam.

Tapi jelas pakaian dalam adalah urusan pribadi. Tidak mungkin dianggap menjadi kebutuhan rumah tangga yang harus dilakukan oleh satu orang penanggung jawab. Tentu dasar asumsinya adalah setiap anggota rumah tangga sudah memahami apa kebutuhan pribadinya masing-masing.

Lalu soal menyapu rumah atau kita sebut juga bebersih rumah. Saya merasakan bagaimana rumah harus selalu disapu agar tidak ada debu. Apalagi Gita termasuk cukup sensitif dengan debu dan kotoran. Membersihkan rumah jelas tugas yang sangat kontekstual. Kenapa? Karena ukuran rumah satu orang dengan lainnya jelas berbeda.

Jika rumahnya sebesar istana dan hanya dihuni dua orang lalu harus menyapu dan membersihkan seluruh ruangan tentu tidak mungkin dilakukan dalam waktu singkat. Aktifitas yang seperti ini tentu tidak produktif jika dilakukan oleh anggota keluarga inti.

Bagaimana jika rumahnya memang sederhana? Tidak banyak ruangan dan memang ideal untuk keluarga kecil Apalagi kalau tempat tinggal di apartemen. Bersih-bersih ruangan jelas hal yang sederhana dan simpel. Siapa yang harus melakukan?

Di Kulawarga, urusan seperti ini memang agak tricky karena kalau saya yang mengerjakan biasanya tidak bersih. Sementara kalau Gita yang mengerjakan akan beresiko memicu alerginya. Jadi ya sejauh ini kami kerjakan secukupnya saja. Masih cenderung berantakan sih, tapi di sudut-sudut tertentu sudah sering bersih dan rapi.

Kemudian soal setrika pakaian. Mencuci pakaian memang lebih mudah tapi urusan merapikan jelas lebih rumit. Haha

Ini juga tricky nih. Saya itu termasuk yang tidak terlalu mahir menyetrika. Setiap usai menyetrika pakaian, bajunya sudah kusut lagi. Entah apa yang salah saya kurang paham.

Jadi biasanya saya minta tolong Gita untuk setrika baju-baju formal saja.

Terakhir soal masak. Asisten rumah tangga tentu tidak perlu mengerjakan hal ini kalau salah satu anggota rumah tangga bisa masak.

Soal masak Gita jagonya banget. Saya biasanya tidak mau membuat dia memasak sendiri. Jadi membantu apa-apa yang diminta. Misal diminta untuk potong-potong atau goreng-goreng. Saya dulunya ga bisa sama sekali masak.

Masak telur dadar saja ga bisa. Tapi ya karena sering jadi asisten Chef Momma Gita, akhirnya makin mahir. Walaupun belum dapat nih sentuhan intuitif memasaknya. Masih takut-takut dan ragu. Tapi tidak apa-apa namanya juga belajar.

Nah, sisi belajar ini yang menurut saya perlu untuk ditekankan dalam berkeluarga. Sebelum memutuskan menikah memang kita punya banyak referensi dan mungkin pendidikan seputar keluarga, mulai dari hubungan berdua sampai dengan parenting saat punya anak. Tapi semangat belajar adalah kunci dari semuanya.

Mustahil jika kita memutuskan menikah karena kita sudah tahu segalanya. Semuanya sudah sempurna, kemudian kita memutuskan untuk menikah. Jelas itu utopia. Karena siapapun yang berusaha mengambil keputusan dalam hidup akan dihadapkan pada keraguan dan ketakukan pada masa depan yang tidak pasti. Termasuk dalam pernikahan.

Dan ingat, belajar tidak perlu sendirian. Dalam pernikahan tentu segalanya bisa dilakukan bersama-sama. Belajar bareng, kemana-mana bareng. Jadi ya apa-apa semuanya sebisa mungkin bersama-sama.

Saya cukup bersyukur harus bekerja untuk diri sendiri dibandingkan harus kantoran. Karena bisa lebih punya waktu di rumah. Walaupun memang juga butuh perjuangan yang lebih untuk mencapai kesuksesan finansial.


Balik lagi soal istri bukan pembantu. Saya setuju dengan itu, tetapi bukan berarti istri tidak punya tanggung jawab dalam rumah tangga. Pun bukan juga saya sebagai suami tidak melakukan tugas-tugas yang biasanya diidentikkan dengan tugas perempuan.

Intinya semuanya harus sama-sama. Kalau belum bisa ya dipelajari sama-sama. Mungkin ini yang disebut dengan enaknya kalau sudah menikah, beban dan tekanan ditanggung bersama.

Jadi untuk yang ingin menikah, ada baiknya melihat potensi-potensi keterbukaan satu sama lain. Karena ya, pembagian tugas di rumah bisa jadi rumit kalau belum saling terbuka.

Mungkin itu saja untuk kali ini. Maaf ya baru sempat menulis lagi. Semoga di bulan Maret akan lebih rutin untuk menulis.

Semoga bermanfaat. Sampai jumpa di post berikutnya.

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Penulis konten yang punya latar belakang pendidikan bisnis. Sempat jadi jurnalis. Kemudian terobsesi dengan buku dan pengetahuan. Impian terbesarnya adalah membuat film dokumenter dan bikin perusahaan yang peduli keberlangsungan alam.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *