Rollercoaster Akad Nikah

Rollercoaster Akad Nikah

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

“Pernikahan itu selalu ada ujiannya,”

Begitu kata orang-orang di sekitar ku termasuk dari Gita saat aku memang berniat untuk menikah. Semuanya naik turun ibarat sebuah roller coaster. Sebentar tegang, sebentar santai, lalu tegang lagi. Kacaulah pokok-nya.

Ujian dan naik turun itu bahkan datang sejak dua tahun yang lalu. Ya dua tahun yang lalu aku pun sudah meniatkan untuk menikah. Di saat itu aku juga sudah menjelaskan pada perempuan yang aku ajak kala itu bahwa jika prosesnya berlarut, maka hasilnya tidak akan menggembirakan. Dan memang benar seperti itu.

Lalu apa yang berbeda dengan saat aku memilih Gita? Sebagaimana aku telah ceritakan di pos proses menuju lamaran, proses yang kami alami begitu singkat waktunya. Bahkan kami berdua pun terkaget-kaget dengan jalan yang diberikan untuk proses penting ini.

Apakah ini memang sebuah tanda restu? atau bahkan sebaliknya? Kami tidak pernah tahu.

Hal yang pasti kami bisa sikapi adalah proses ini sudah tidak bisa dibendung. Kedua keluarga telah bertemu dan niat baik telah diutarakan. Rencana jelas sudah ditentukan, 20 April menjadi hari yang ditentukan itu.

Tapi tentu semua tidak berjalan mulus-mulus saja. Ada banyak hal yang terjadi seperti kebanyakan orang bilang, drama menuju pernikahan.

1. Konflik Komunikasi

Selama proses persiapan, ujian-ujian datang silih berganti. Komunikasi antar keluarga mulai bertukar silang. Dua keluarga yang dahulu tidak pernah berinteraksi, kini harus rela untuk bertukar pikiran, gagasan dan standar budaya.

Jelas terjadi konflik, karena ada keinginan yang mungkin tidak bisa diakomodir satu sama lain. Aku akan ceritakan soal itu nanti.

Konflik tentu tidak hanya terjadi di antara keluarga, tetapi juga di antara aku dan Gita. Jarak yang mengharuskan komunikasi lewat pesan elektronik, membuat energi dan maksud tidak tersampaikan dengan baik.

Gita sembari mempersiapkan pernikahan masih harus berkomunikasi dengan dosennya untuk menuntaskan skripsinya. Setidaknya naskah itu bisa selesai dan siap untuk sidang sebelum pernikahan.

Afeksi ternyata juga menjadi salah satu hal penting yang harus terus dijaga menuju acara. Celakanya aku adalah orang yang tidak terlalu peka dengan hal-hal emosional seperti ini. Akibatnya adalah naik turun emosi adalah sesuatu yang harus dihadapi.

Seperti saat ketika Gita mulai mempertanyakan apa manfaat dari menikah atau saat bertanya tentang kenapa harus bersama dan pertanyaan-pertanyaan filosofis seperti itu.

Diskusi dan pertanyaan seperti itu tentu sangat membuat emosi naik turun. Bagiku berdikusi tentang rasa dan logika bisa menjebak karena memang menguji pengetahuan, sikap dan prinsip.

Jika menjawab pertanyaan dengan jawaban yang tidak memuaskan bisa jadi aku terlihat tidak kompeten dan tidak meyakinkan. Apalagi Gita adalah sosok yang dekat dan kerap berkonsultasi dengan orang tua termasuk soal cara pandang dan visi yang aku tawarkan.

Kunci dari konflik komunikasi adalah tentang menjaga kesabaran dan mau untuk aktif mendengar.

Tanpa kesabaran kita tidak akan mampu untuk menahan amarah, sementara dengan aktif mendengar kita akan bisa saling memahami dan mengerti apa maksud dan keinginan orang lain. Lalu kemudian bisa menawarkan kompromi dan solusi.

2. Kualitas Spiritual

Pertanyaan soal cara pandang tentang berkeluarga adalah satu hal. Ada pula pertanyaan soal standar spiritual dari keluarga Gita seperti kegiatanku tentang mengaji rutin, ataupun jumlah hafalan surat.

Ini adalah aspek spiritual yang tentu juga menjadi penilaian tentang apakah aku pantas untuk mendampingi Gita.

Aspek spiritual ini juga sesuatu yang cukup berat untuk dipenuhi. Aku harus mulai benar-benar serius untuk membangun kebiasaan baik untuk kualitas diri. Jelas aku tidak boleh mengeluh soal ini, sebab bagiku pribadi kualitas spiritual adalah salah satu aspek yang aku juga ingin bisa capai terlepas apakah akan menikah atau tidak.

Semenjak lamaran terjadi, aku memutuskan untuk mencoba menghafal beberapa surat pilihan. Tidak mudah memang karena kebanyakan surat adalah surat yang cukup panjang dan jarang dibaca saat sholat fardhu. Itu artinya saat mengaji pun aku harus membaca surat ini agar tetap terjaga ingatan.

Tidak hanya soal surat, ibadah yang lain juga berusaha untuk diperbaiki. Sholat fardhu, sholat sunnah dan puasa mulai diperbaiki.

Tidak mudah, dan agak konflik dengan niat sesungguhnya “ibadah cuma karena ada maunya”. Menjaga konsistensi ibadah setelah menikah Ini yang benar-benar berat. Tapi tentu saja harus selalu diusahakan.

Hal yang perlu diperhatikan dari membangun spiritualitas tentu saja adalah tentang keikhlasan untuk terus menerus berproses. Hasilnya tentu tidak bisa dirasakan dalam waktu singkat. Pernikahan sendiri adalah salah satu bentuk dari membangun spiritual sehingga sikap sabar juga menjadi kunci utamanya.

3. Kesiapan Finansial

Kualitas lain yang juga harus dipersiapkan adalah soal finansial. Kondisiku yang cukup mendesak akibat aku memutuskan untuk resign dari pekerjaan sebagai jurnalis membuatku sedikit terdesak untuk bisa bertahan hidup secara pribadi. Meminang anak orang tentu akan menjadi sesuatu yang beresiko.

Soal finansial orang tua Gita adalah sosok yang percaya bahwa pola pikir yang tepat akan membuat hidup berkeluarga tidak perlu khawatir soal rezeki. Meskipun beliau-beliau berasal dari keluarga yang terhormat dan dipandang di lingkungannya masing-masing.

Aku sendiri juga orang yang percaya bahwa tidak ada rezeki tanpa usaha. Sehingga kondisi finansial adalah sesuatu yang sedikit membuatku terus termotivasi untuk terus bekerja walaupun kadang cenderung tidak kenal waktu.

Gita dan ibu mertua pun sering mengatakan, soal rezeki pasti ada jalannya. Syaratnya, kita harus terus bekerja dan produktif.

Di saat usai lamaran itulah akhirnya aku memutuskan untuk mendirikan TEKNOIA Creative. Sebuah agensi konten yang fokus pada maksimalisasi story untuk kebutuhan marketing. Agensi ini lahir dua hari setelah lamaran terjadi di Bandar Lampung. Yakni pada tanggal 27 Januari 2019.

Gila? Ya, mungkin inilah kelakuanku yang disebut gila oleh Gita ditulisannya beberapa waktu lalu.

Tapi sejujurnya, keputusan tentang TEKNOIA Creative ini adalah keputusan yang tidak pernah aku sesali sampai detik ini.

Memang tidak mudah untuk mendirikan sebuah perusahaan, tetapi di sanalah letak tantangan dan pembelajarannya. Apalagi dengan membangun perusahaan aku dilatih untuk dewasa dengan tekanan yang cukup tinggi. Lain kali aku akan ceritakan lebih detail soal ini.

4. Kesiapan Komitmen pada Pre-Marital Agreement

Aku sebenarnya adalah orang yang tidak terlalu suka dengan aturan yang rigid atau kaku. Tetapi dalam pernikahan secara formal memang kesepakatan pernikahan dianjurkan untuk dimiliki. Mengapa? Karena kepribadian, karakter dan perspektif diri akan bisa berubah seiring dengan waktu. Dan momen, kata, janji dan waktu hanya bisa diikat melalui tulisan.

Tulisan kesepakatan bersama antara aku dan Gita kemudian dituang dan dirumuskan dalam Konstitusi Kulawarga.

Isinya bermacam-macam dan mencakup banyak hal. Sebenarnya ingin sedikit share isinya seperti apa, tapi nanti aku coba tanyakan pada Gita apakah boleh konstitusi itu dilihat oleh khalayak.

Untuk sementara, bila kamu penasaran dengan isinya, mungkin bisa memberi komentar dan menyampaikan ketertarikanmu terntang contoh pre-marital agreement yang kami miliki.

Mulanya pihak keluarga besar juga tidak terlalu pro dengan kesepakatan ini. Karena sifatnya cenderung mengikat dan bisa saja mempersulit kami masing-masing di suatu saat. Tetapi ada juga keluarga yang lebih ingin kami membuat kesepakatan menggunakan Taklik yakni perjanjian nikah yang sudah dibuatkan oleh Kementerian Agama.

Namun aku dan Gita melihat ada beberapa hal yang kurang sesuai dengan keinginan kami. Beberapa penjelasan lain dalam Taklik memang cukup memberi ruang yang seimbang pada pihak perempuan namun terlalu longgar.

Setelah utak atik dan mencari referensi akhirnya kami membuat konsitusi sendiri.

Kami sadar bahwa jika isinya benar-benar ditulis dengan baik dan berorientasi pada keuntungan bersama, kesepakatan ini malah akan membantu. Terutama jika isinya lebih banyak tentang panduan terkait harapan dan visi masa depan.

Tentu saja ketika ada visi di masa depan, apapun yang mengancam visi tersebut akan dianggap sebagai bentuk tidak hormat pada kesepatakan bersama yang telah dibuat. Dan bisa diperkarakan karena tidak lagi sesuai dengan tujuan bersama.

Tapi bagi kamu yang ingin membuat kesepakatan sebelum menikah, aku menyarankan agar kalian menulisnya dengan seksama dan dipertimbangkan matang. Apalagi jika berencana untuk mengesahkannya di notaris sebagai dokumen yang sah dan bisa diakui kekuatan hukumnya.

Terkait dengan pengesahan, kami sendiri sampai saat ini tidak mengesahkan konstitusi tersebut. Selain saat itu tidak memiliki biaya, kami juga merasa kesepakatannya cukup disimpan bersama. Ditulis dan dipahami secara mandiri.

Mungkin jika perlu suatu saat bisa dicetak dan disimpan di rumah. Tapi entah kapan.

5. Uji Keimanan

Kembali soal persiapan menuju akad. Pada akhirnya berbagai tekanan membuat kesiapan mental naik turun. Aku yang dahulu cenderung lari dari masalah mau tidak mau harus menghadapi. Stres? Jelas. Itu pasti. Untungnya aku mulai bisa mengatur diri dan mengatakan pada diri bahwa persiapan pernikahan adalah pembelajaran, pendewasaan dan sebuah tantangan sekaligus uji keimanan.

Dengan melihat pernikahan sebagai bentuk proses dan bukan tujuan akan menentukan bagaimana kita bersikap. Jika aku menganggap semua ini berat, akan terasa berat. Sehingga semua tekanan yang ada bermuara pada sebuah kesimpulan, menuju pernikahan adalah tentang keimanan.

Aku diuji apakah aku percaya pada kemampuan diri, aku diuji apakah aku cukup bersabar menghadapi tekanan. Pun aku juga merasa diuji apakah aku berani untuk merelakan jika memang niat agung ini gagal.

Mengapa berfikir ada kemungkinan gagal? Ada banyak cerita bahwa apapun bisa terjadi jelang akad nikah. Itu kenapa aku juga harus bersiap jika proses akad gagal terjadi aku tetap bisa mengendalikan diri.

Nothing to lose menjadi sikap yang utama agar aku tetap bisa tenang menghadapi ujian ya kan?

Lalu bagaimana hasilnya? Hasilnya adalah seperti yang berjalan saat ini. Alhamdulillah akad nikah berjalan lancar.

Aku benar-benar ingat bagaimana saat ijab kabul sangat-sangat gugup. Dan ketika seluruh saksi mengatakan “sah!” aku merasa begitu lega dan bisa bernafas dengan lancar. Ucap syukur berulang kali aku ucapkan saat itu.

Prosesinya seperti apa? Standar saja. Mungkin foto-fotonya di bawah bisa menggambarkan secuplik suasana acara saat itu.

  • akad nikah
    Foto: @Ziyanzeinzain

Misteri yang terjawab

Rahasia takdir terjawab sudah. Takdir menentukan bahwa diriku ternyata bisa memulai petualangan bersama dengan Gita. Setelah beberapa usaha terdahulu untuk menawarkan nama lain yang ternyata belum sesuai dengan takdir. Dan memang di sanalah proses usahanya.

Ada beberapa orang yang mungkin merasa aku bukan orang yang adil. Tidak tepat janji dan tidak dewasa atau semacamnya. Namun proses besar seperti nikah tentu bukan hal yang mudah untuk ditempuh. Langkah ini harus melibatkan restu berbagai pihak dan harus memikirkan bagaimana kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa depan.

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, benar bahwa rasanya proses menuju menikah adalah proses uji iman. Tekanannya begitu hebat, dan ini bukan lagi soal uji kesabaran.

Bagiku, prosesnya bisa seperti apakah ketiga gagal, aku akan begitu marah, kecewa dan menyalahkan Tuhan. Sementara ketika prosesnya berhasil, aku tetap melakukan proses-proses hebat yang aku lakukan di masa-masa mendatang.

Misteri jalan yang gelap itu terlah terbuka. Perjalanan yang sepi tidak lagi dilalui sendirian, karena kini kami berjalan bersama. Melewati jalan-jalan asing, yang akan terus terkuak seiring kesabaran bersama untuk menyorot jalanan yang gelap. Hingga sampai ke tempat tujuan yang dicari.

Terima kasih atas doa-doa dari para sahabat, teman, sejawat dan kolega sekalian. Semoga kalian juga diberi kebaikan-kebaikan yang melimpah.


Buat kamu yang punya pertanyaan mungkin bisa mengirimkan pertanyaan apapun yang terlintas terkait dengan persiapan pernikahan. Pertanyaan bisa dikirim melalui kolom komentar, bisa pula melalui DM di sosial mediaku @bagusvdr maupun Gita @gita.prayitno.

Kami akan berusaha menjawabnya sebaik-baiknya dan mungkin beberapa pertanyaan nanti akan kami tulis menjadi artikel baru.

Sampai jumpa di cerita berikutnya!

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Penulis konten yang punya latar belakang pendidikan bisnis. Sempat jadi jurnalis. Kemudian terobsesi dengan buku dan pengetahuan. Impian terbesarnya adalah membuat film dokumenter dan bikin perusahaan yang peduli keberlangsungan alam.

One comment

  1. Halo, Bagus dan Gita. Aku termasuk pembaca setia tulisan kalian. Selalu seru membaca tulisan tentang proses pernikahan. Nah, kalau boleh, aku ingin lihat prenup yang kalian susun itu. I’ve been thinking to do it in the future too. Terima kasih atas kekonsistenan kalian dalam menulis. 🙂

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *