Poligami Pecah Belah Ala VICE: Soroti Praktisi, Lalai Filosofi

Poligami Pecah Belah Ala VICE: Soroti Praktisi, Lalai Filosofi

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

“Aku sudah nonton video Vice yang kamu kasih. Menurutku nggak menarik, padahal aku agak berharap lebih, nggak sekadar mendengar bahasan prakitisi poligami mainstream seperti media-media lainnya,” ujar seorang temanku dini hari tadi.

Sebuah video dari Vice Indonesia menjadi viral lantaran membahas praktik poligami dan menyebutnya sebagai fenomena kontroversial di Indonesia. Pembahasan poligami sendiri, perlu diakui, memang selalu memancing pro dan kontra dari berbagai kalangan. Pendukung dan penolaknya datang membawa argumen lintas perspektif, dari religiusitas, legal formal hingga persoalan gender dan kemanusiaan.

Video dari Vice Indonesia kali ini memang menjadi agak berbeda karena reporter Vice, Arzia Wargadireja, ternyata cukup beruntung bisa terlibat dalam sebuah observasi partisipatif. Arzia menyaksikan langsung perspektif para pendukung poligami melalui sebuah Konferensi Komunitas Poligami yang dilaksanakan di Bekasi, Jawa Barat, juga sempat berbincang langsung dengan pelaku dan korban poligami. Meskipun tentu saja, Arzia tidak datang dengan meninggalkan pemikirannya sendiri.

“Heaven and Hell: Indonesia’s Fight Over Poligamy” menjadi judul yang dipilih oleh Vice untuk menyajikan videonya. Sekilas melalui terminologi yang dipilih, kita dapat mengetahui di mana posisi tim Vice Indonesia berada; yakni sebagai penentang yang memandang masyarakat Indonesia sebagai subjek dan poligami sebagai musuh dengan pertaruhan antara surga dan neraka. Dalam narasi pembukanya, Vice menyebutkan bahwa umat muslim Indonesia berada di tengah pertarungan definisi menjadi muslim sejati namun hanya sedikit yang mampu memecah belah umat seperti poligami. Kalimat tersebut menunjukkan indikasi seakan-akan dalam pertarungan definisi menjadi muslim sejati, poligami disebut oleh Vice menjadi pemecah belah, dan perspektif ini menggiring anggapan bahwa poligami berada di posisi yang terpisah dari kehidupan muslim. Vice memberikan data 86% orang menentang praktik ini namun ada sebagian orang yang mencari celah mengubah perspektif negatif poligami, meski saya belum turut memastikan dari mana sampel populasi survei ini diambil dan apa-apa saja variabelnya.

Menyaksikan video tersebut memang sangat menggelitik untuk dikritisi, baik untuk praktik poligaminya maupun untuk Vice sendiri. Bagaimana tidak, Vice tentu sengaja menampilkan cuplikan beberapa laki-laki yang pro pada poligami dan ingin menambah istri dengan berbagai alasan. Mulai dari celetukan bercanda sebaik-baik manusia adalah yang istrinya paling banyak (dan ya, saya setuju ini cringe)alasan wanita sebagai fitnah terbesar akhir zaman dan ingin menyelamatkan aqidah keluarga dari fitnah tersebut, program Keluarga Berencana (KB) adalah ajaran orang di luar islam untuk membuat populasi muslim sedikit sehingga bisa dilawan dengan poligami (untuk meningkatkan kuantitas populasi), harapan poligami adalah ibadah yang akan menghantarkan sampai ke surga, hingga alasan seorang ibu yang ingin mengenalkan kepada anak-anak supaya tidak terkejut kalau sang ibu dipoligami. Pada satu lini, Arzia ditawarkan untuk memperkenalkan diri di konferensi tersebut dan ditawarkan apakah tertarik ikut poligami dan ia berbisik pada juru kamera, “Kalau boleh punya suami dua, ayo!”. Sebuah punchline yang membuat saya seketika tergelak.

Ulasan poligami Arzia tidak berhenti setelah konferensi usai. Pada hari berikutnya Arzia mencoba menggali perspektif lagi dengan menyambangi kediaman Rizki Ramdani — yang ia sebut sebagai wajah muda poligami Indonesia dan juru kampanye poligami — , sosok laki-laki sentral dalam narasi yang ditawarkan oleh Vice. Profil pria muda yang terbilang cukup menarik dan menjanjikan, berpendidikan, berpenghasilan di atas rata-rata, memiliki dua orang istri dengan istri kedua yang sedang mengandung anak kelima.

Menurut Rizki, Tuhan telah mengkonfigurasi laki-laki untuk memiliki kemungkinan tertarik pada lebih dari satu perempuan. Hal ini menyebabkan terjadinya perselingkuhan dan banyak laki-laki yang menggunakan jasa prostitusi untuk menunaikan hasrat biologisnya. Kecenderungan demikian pada laki-laki ini menurut Rizki tidak dapat dipungkiri sehingga menikah lagi menjadi jalan keluar yang ditawarkan oleh islam dan penyaluran hasrat tersebut menjadi ibadah.

Apa yang dikatakan Rizki adalah sebuah argumen yang menurut saya sangat mentah. Sepertinya, Rizki perlu bisa memisahkan mana hal yang bersifat ide dan ketertarikan dengan mana yang merupakan tindakan. Pada tataran ide, kemungkinan tertarik pada lebih dari satu lawan jenis bisa saja terjadi dan tentu tidak bisa digeneralisir. Kita perlu sepakat bahwa ketertarikan yang tujuan akhirnya adalah komitmen pernikahan, tentu tidak hanya diwakili oleh peningkatan dopamin dan adrenalin ketika melihat lawan jenis yang bukan pasangannya, tapi dibutuhkan pula kesesuaian jiwa dan ini tidak mudah sama sekali. Sebelum ketertarikan bergeser menjadi tindakan (selingkuh, menggunakan jasa prostitusi atau menikah lagi), setiap isi kepala dan hati manusia pasti telah diberi fase pertimbangan: apakah kira-kira tindakan tersebut dipastikan tidak menzalimi orang lain? Bagaimana kebaikan dan keburukannya, tidak hanya dilihat dari standar hukum tetapi juga kemanusiaan. Jangan sampai karena poligami tercantum pada syariat agama, maka serta merta manusia bermudah-mudah atasnya dan luput mempertimbangkan hak-hak orang lain.

Lebih lanjut, Rizki juga menyebutkan bahwa “kita” perlu realistis. “Faktanya perempuan lebih dominan dikuasai oleh perasaannya dibandingkan dengan logika, lebih besar rasa cemburunya,” ujar Rizki. Oleh karena itu, Rizki mengajak “kita” untuk berpikir secara logis dan mengakui bahwa berdasar hitungan matematis, tidak ada yang hilang dalam sebuah poligami: suami tetap hadir dalam kehidupan keluarga sebagai suami dan ayah, tetap bertanggung jawab atas nafkah, tetap adil membagi perhitungan jumlah waktu bersama.

Memang benar, mampu berlaku adil menjadi prasyarat utama yang disepakati untuk seorang laki-laki berpoligami. Adil yang seperti apa dan siapa yang bisa menilai hal seperti itu adil atau tidak? Pada poin ini terdapat dua konsep adil yakni keadilan yang bisa dikuantifikasi dan yang bersifat kualitatif. Rizki menjelaskan tuntunan poligami tidak menuntut adil dalam persoalan perasaan melainkan adil dalam hal-hal yang dapat terukur dengan jelas, seperti misalnya soal pembagian harta dan waktu bersama keluarga bukan pada persoalan perasaan apalagi indeks kebahagiaan, Rizki mengakui hal ini. Sayangnya, manusia memang hanya cukup mampu berupaya untuk adil atas hal-hal yang terukur, karena hanya pada poin itulah manusia bisa mengusahakan keadilan yang dapat dipertanggungjawabkan. Sementara menyoal kecenderungan perasaan, manusia sekali-kali tidak akan bisa berlaku adil meskipun sangat ingin berbuat demikian.

Uniknya, justru inilah yang mematahkan logika psikis yang dibangun oleh sebagian pelaku poligami — dan diwakili oleh argumen Rizki — terjadi. Apabila Rizki dan laki-laki lainnya sudah tahu bahwa pada faktanya perempuan dikuasai oleh perasaan, bagaimana bisa laki-laki yang menurutnya logis hendak mengusahakan berlaku adil dalam perihal perasaan pada lebih dari satu wanita? Bukankah perempuan cenderung khawatir pada ketidakadilan perasaan dan kebahagiaan anak-anaknya, bukan sekadar sandang, pangan, papan dan pendidikan? Di mana letak pertimbangan naluri kemanusiaan seorang suami kepada istrinya, apalagi bila alasannya sekadar karena khawatir punya kecenderungan tertarik pada lebih dari satu wanita? Kalau sedemikian sederhana, untuk apa perasaan kasih sayang diciptakan menjadi fitrah manusia? Maka saya yakin, keadilan dalam poligami sama sekali tidak semudah membagi nominal saldo rekening awal bulan pada dua, tiga atau empat rumah tangga. Kita tidak pernah bisa memastikan keadilan terukur justru pada poin paling krusial dalam kekhawatiran perempuan atas poligami, yakni ketahanan keluarganya sendiri: ketidakseimbangan afeksi terhadap keluarga, istri anak, tumbuh kembang dan harmonisnya rumah tangga.

Terlepas dari logika prakitisi, sepanjang video Arzia tampak menentang poligami. Wajar bagi saya, karena pembahasan Vice Indonesia tentang poligami kali ini amat sempit dan praktis, begitu pula dengan argumen narasumbernya. Vice luput mengulas poligami pada tataran konsep, filosofis, nilai, ataupun latar belakang kehadirannya dalam kehidupan beragama. Bila poligami dikatakan tercantum dalam kitab suci, selayaknya membahas poligamipun dengan lebih dahulu memahaminya dari sudut pandang definisi dan interpretasi kitab suci. Setidaknya sebagian besar orang meyakini, praktik menikahi lebih dari satu perempuan pada dasarnya memiliki nilai filosofis yang sedemikian agung; untuk menjaga kehormatan dan menjamin kenyamanan hidup perempuan itu sendiri. Menjadi absurd bila poligami sebagai sebuah konsep yang memiliki nilai filosofis serta merta ditabrakkan dengan logika kesetaraan gender — salah satu basis di alam pikir Arzia yang mungkin melatarbelakangi celetukannya. “Kalau laki-laki boleh beristri banyak, kenapa perempuan tidak boleh bersuami dua,” menunjukkan betapa Vice alpa dalam mengupas habis dan holistik konsep poligami itu sendiri. Sehingga topik poligami dalam video ini hanya diletakkan dalam sebuah wadah berisi fenomena relasi kuasa, penindasan kemanusiaan dan tentu saja, sebuah stereotip negatif.

Pada tataran konsep, perlu diakui eksistensi tata cara poligami itu ada. Belum ada putusan ulama yang berani mengatakan poligami haram. Namun, kebijaksanaan menjadi pagar bagi siapapun untuk mempertimbangkan kepantasan berpoligami. Sementara pada tataran praktis, siapapun punya hak untuk melakukan atau menghindarinya. Terlalu terburu-buru menyebut poligami sebagai pemecah belah umar Islam, karena ini hanyalah perbedaan keputusan yang sifatnya furu’iyyah, suatukebebasan memilih dengan pertanggungjawabannya sendiri.

Banyak sekali kasus ketidakharmonisan keluarga yang berdampak serius bagi kehidupan masyarakat diakibatkan praktek poligami yang semena-mena tanpa mutual understanding dan kesadaran yang bebas. Tidak sedikit pula yang berhasil menjalani poligami dengan harmonis, bahkan tumbuh menjadi keluarga yang memberi pesan positif bagi sekitarnya. Tapi, apakah cukup layak menjadi standar baku untuk menggeneralisir penerimaan atau penolakan terhadap poligami? Tentu saja, penawaran Vice Indonesia secara implisit maupun eksplisit untuk menentang poligami melalui video berdurasi 24 menit tersebut menjadi sikap media yang kekanakan.

Mungkin teman saya benar, kami berharap lebih pada Vice untuk memberikan pemaparan yang mumpuni. Semoga tim Vice Indonesia berkenan mengulasnya secara objektif dan holistik di lain waktu, bila memang sempat dan dirasa cukup penting. Meskipun kita memang sama-sama tahu, kontroversi selalu lebih ciamik daripada edukasi.

A. Putri Roadiastuty
Depok, 1 Oktober 2018.

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Hello! Thankyou for visiting our page! Hit me up through Instagram too @gita.prayitno or send me some mails to hellogita@kulawarga.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *