Poligami di Indonesia: Kritik Praktek atau Kritik Syari’at?

Poligami di Indonesia: Kritik Praktek atau Kritik Syari’at?

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

 setelah menulis kritik terhadap video Vice yang mengulas poligami, saya berkesempatan bertemu langsung dengan Komunitas Keluarga Poligami Samara sekaligus Riski Ramdani, wajah muda poligami Indonesia, narasumber framing media Vice Indonesia.

15 September 2018 lalu, VICE Indonesia melalui akun youtubenya mengunggah sebuah video mengenai praktek poligami kontroversial di Indonesia. Video berdurasi dua puluh empat menit itu diberi judul yang sangat menggelitik publik; Heaven and Hell: Indonesia’s Battle Over Polygamy.

Dua minggu setelahnya pada 1 Oktober 2018, saya sempat menulis perspektif saya mengenai video tersebut, berupa kritik kepada pihak Vice Indonesia sekaligus kepada para narasumber yang dikutip oleh Vice berjudul Poligami Pecah Belah Ala VICE: Soroti Praktisi, Lalai Filosofi. Tulisan tersebut telah dibaca sebanyak 792 kali melalui berbagai akses dan muncul pada halaman pertama Google dengan kata kunci “Vice — Poligami”.

Uniknya, beberapa bulan setelah itu, ketika saya sedang diminta menulis naskah untuk sebuah tajuk acara televisi dengan tema poligami, tanpa saya sangka pihak produksi mengarahkan saya untuk melakukan interview dengan Forum Keluarga Poligami Samara (FKPS). Ternyata, forum ini merupakan narasumber yang sama dengan yang diwawancarai oleh Vice Indonesia pada video viralnya itu.

Sebuah kesempatan bagi saya untuk merangkum pertanggungjawaban atau opini saya lebih lanjut.

Minggu, 10 Februari 2019, saya hadir di pertemuan FKPS di Pasar Kemis, Tangerang, Banten, dengan tujuan interview dan shooting acara televisi tersebut. Sebagai penulis naskah, saya wajib hadir untuk mendapatkan informasi seobjektif mungkin mengenai poligami. Naskah yang saya tulis perlu validitas. Saya tidak ingin sekadar menulis demi memenuhi hasrat sebagian orang yang mungkin masih memandang poligami dari sudut pandang negatif atau sebaliknya menggebu-gebu mengampanyekannya.

FKPS sendiri merupakan sebuah forum yang sudah berbadan hukum legal dan berafiliasi dengan Yayasan Keluarga Samara Indonesia (YKSI), beranggotakan laki-laki dan perempuan yang umumnya sudah menikah dan aktif mengampanyekan poligami terutama bagi anggotanya. Anggota FKPS rata-rata adalah keluarga poligami.

Hari itu pula saya berkesempatan berbincang langsung dengan Riski Ramdani — wajah muda poligami Indonesia, mengutip Vice dalam narasi videonya. Kalimat pertama yang muncul dari beliau ketika saya memulai briefing untuk menjelaskan sudut pandang yang saya cari untuk naskah produksi kami adalah, “waktu itu (saat wawancara dengan Vice Indonesia)saya menjelaskan kritik dan pro kontra panjang lebar, tapi ternyata dipotong oleh VICE. Framingnya buruk. Saya seperti dikibulin,” ia geleng kepala.

“waktu itu (saat wawancara dengan Vice Indonesia)saya menjelaskan kritik dan pro kontra panjang lebar, tapi ternyata dipotong oleh VICE. Framingnya buruk. Saya seperti dikibulin”

Framing dalam media itu hal biasa. Menurut wikipedia, framing adalah teknik membingkai sebuah peristiwa yang digunakan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan wartawan atau media massa ketika menyeleksi isu dan menulis berita. Poligami menjadi yang popular diantaranya. Apalagi dengan fakta kacaunya rumah tangga poligami yang kerap dipaparkan. Jangankan sekelas FKPS dengan Vice Indonesia, bahkan saya yang bukan siapa-siapa saja pernah mengalami framing yang sama ketika menjadi narasumber investigasi Tempo Indonesia –untuk tema radikalisme kampus, saat itu.

‘Curhat’ Riski Ramdani jadi gerbang pembuka komunikasi saya untuk ambil bagian dalam pertemuan bertajuk “Poligami Syar’i Menuai Cinta Penuh Berkah”. Pada hari itu para anggita FKPS datang beserta istri-istri dan anak-anaknya dan terlihat akrab satu sama lain seraya mengajukan pertanyaan “bawa istri berapa?” — pertanyaan yang awam bagi para pegiat poligami.

Meja-meja panjang disusun berbaris dengan alas duduk tikar. Para laki-laki di barisan kanan dan para perempuan sejajar di barisan sebelah kiri. Anak-anak kecil tampak berlarian dan berkejaran didampingi ayah-ibu mereka bergantian sepanjang acara.

“Orang kalau diskusi selain tentang poligami itu biasa aja, tapi kalau bicara tentang taadud zaujad (istilah Bahasa Arab untuk poligami), perasaannya pasti agak berbeda. Padahal poligami, sholat, zakat, sama sama peritah Allah SWT,” — ujar pembuka acara.

Argumen penolakan terhadap poligami hampir selalu sama: karena poligami dianggap merendahkan martabat perempuan dan merugikan institusi keluarga. Pernyataan bahwa manusia tidak mungkin bisa membagi kasih dengan adil menjadi dalih untuk sebaiknya poligami tidak dilakukan. Saya sepakat mengenai poin membagi kasih ini, khusus dalam konteks relasi antar manusia (pasangan) yang melibatkan ego untuk memiliki seutuhnya. Barangkali ego kepemilikan ini berbeda bila melibatkan relasi dengan Tuhan dan nilai religiusitas.

Namun demikian, seorang muslimah bercadar saat itu angkat bicara dan beragumen bahwa wajar setiap manusia memiliki perasaan nano nano dalam menghadapi poligami. Tetapi menurutnya, ketika Allah memberi syari’at dan laki-laki diberikan kemampuan untuk berpoligami, maka ya jalankan saja sebagai bentuk ibadah kepada Allah. Dirinya mengaku tidak ada kekhawatiran ketika suaminya menikah lagi karena ia melihat suaminya mampu berpoligami. Dirinya mendukung sejak awal perkenalan dan justru mencarikan calon untuk suaminya menikah lagi.

Pendapat serupa sempat muncul dalam video Vice, tapi reporter Vice kemudian mengatakan bahwa pikiran seperti ini muncul karena tampaknya para istri telah didoktrin oleh pemikiran patriarkis suami.

Pada pertemuan yang saya hadiri itu pula, ada muslimah lain yang berpendapat, ketika poligami dilakukan sesuai syariat yang ditentukan, ia merasa ada banyak sekali keberkahan. Ia mengaku nyaman dan tidak ada perasaan was-was. Suami menjalani semua kewajibannya dengan tenang, nyaman dan dengan istri-istri yang juga mendukung. Yang saya garis bawahi kemudian adalah kalimatnya mengenai proses dari awal yang menentukan bagaimana poligami itu terlaksana kedepannya.

Saya tidak bisa membahas secara objektif mengenai para muslimah yang merasa nyaman dalam kehidupan poligami. Karena ada juga yang tidak. Karena saya juga tidak pernah hidup dalam keluarga poligami. Tapi bagi saya, pendapat mereka berdasarkan pengalaman dan perlu dicatat juga sebagai referensi. Artinya, barangkali, tidak semua praktek poligami itu simulasi neraka.

Dalam banyak kasus, poligami dilakukan dengan sembunyi-sembunyi dan tanpa izin istri pertama. Tanpa kesepakatan keluarga besar. Tanpa mengikutsertakan pendapat anak-anak (bila mereka sudah bisa dimintai pendapat). Padahal, seluruh anggota keluarga berhak memahami perubahan-perubahan signifikan yang terjadi di dalam keluarganya. Adalah sebuah arogansi ketika pihak yang berperan sebagai kepala keluarga justru tidak melibatkan anggota keluarga dalam keputusan yang krusial hanya karena merasa dirinya tangguh seorang diri.

Lebih jauh dari itu, pernikahan poligami bukan hal mudah dilakukan di Indonesia meski peraturan perundang-undangan memperbolehkannya. Dalam tata cara pelaksanaan nikah poligami, ada prosedur yang harus dipenuhi di antaranya surat izin poligami dari pengadilan agama sesuai daerah suami bertempat tinggal, surat izin atasan/komandan untuk berpoligami pada bidang profesi tertentu, menyertakan fotokopi KTP istri pertama, fotokopi surat nikah dengan istri pertama yang ditanda-tangani dengan materai, menyertakan surat persetujuan poligami bertanda tangan istri pertama, serta menyertakan keterangan penghasilan.

Untuk memenuhi prasyarat tersebut saja, tidak mungkin bila tanpa sepengetahuan dan izin istri pertama. Kecuali, memang pernikahan poligami yang dilakukan tidak dengan izin istri pertama atau bahkan dilaksanakan dengan memalsukan berkas resmi. Karena tidak mungkin akan ada buku nikah yang resmi dari KUA bila prasayat pernikahannya tidak sesuai (dan bila ada surat nikah resminya, maka dipertanyakan legalitasnya). Bila demikian, jangan dulu membahas sakit hatinya seorang perempuan, sedangkan secara hukum, tindakan itu saja sudah bentuk kriminalitas: penipuan dan pemalsuan. Lain cerita lagi, bila sebagian orang berusaha bersembunyi di balik “rukun nikah” asal mempelai bersedia, wali yang menikahkan dan dua orang saksi.

Tapi bukankah pernikahan itu berdasar asas pergaulan yang baik? Tentu memulai pernikahan dengan penipuan, kebohongan dan sembunyi-sembunyi bukanlah bentuk pergaulan yang baik bagi umat yang berani mengaku muslim 🙂

Ya. Saya mengkritik keras praktek poligami yang merugikan institusi keluarga. Saya mengkritik keras segala pemikiran yang memandang perempuan pada posisi kelas kedua dalam bernalar. Saya mengkritik keras praktek poligami tidak bertanggung jawab yang tidak menghormati hukum negara, tidak menghormati asas pergaulan dalam agama dan justru menciptakan citra buruk pada syari’at Islam.

Tapi saya juga mengkritik siapapun yang bicara mengenai poligami tanpa melihatnya sebagai bagian dari syari’at yang memang tertera dan ada dalam sejarah.

“Kenapa sih kita hanya mengambil hukum hukum islam yang menguntungkan? Yang kesannya merugikan kita tolak. Bisa jadi itu terasa menyakitkan dan karena kita belum siap menerimanya dan tidak sanggup melakukannya. Padahal kita yang bermasalah adalah kita, bukan hukum islamnya.” ujar salah seorang senior forum kepada saya. Dirinya mempertanyakan sikap orang-orang yang luput memandang poligami dari sudut pandang syari’at yang pasti bernilai hikmah.

Poligami di masa lampau hadir untuk mengatur kebiasaan masyarakat yang semena-mena memperlakukan perempuan. Ketika masyarakat bebas memiliki belasan bahkan puluhan istri tanpa pertanggungjawaban yang adil, syari’at mengatur keadilannya dan membatasinya hanya maksimal empat istri. Tidak boleh lebih.

Itupun berikut maksud memuliakan para perempuan, para janda (tua ataupun muda) dan/atau para perempuan korban perang yang ditinggal gugur suaminya. Hal ini, pada konteks masa itu, jauh lebih manusiawi daripada kebiasaan masyarakat. Maka betapa memalukannya, bila syari’at yang baik itu, kini tercoreng karena pelaksanaannya justru tidak memanusiakan.


Pertemuan hari itu memang tidak untuk didengar khalayak luas yang secara umum sudah memberi stigma buruk pada poligami. Karena tentu saja perbincangan dan canda-tawanya ramashok untuk pihak umum. Dalam forum ini ada juga laki-laki yang sempat bicara “perempuan kalau tidak bisa dibina, ya dibinasakan.”

Sialan, memang 🙂
Tapi saya berani jamin, tidak semuanya punya level bercanda yang tiarap seperti itu.

Bagi saya pribadi yang sempat mengkritik pendapat Riski Ramdani berdasar video framing Vice Indonesia sebelumnya, berbincang langsung dengan Riski dan forumnya jadi memperluas sudut pandang saya, meski tetap menggelitik. Apalagi ada yang membercandai saya dengan bilang “hayo, kamu kapan dipoligami?” atau “kamu ngobrol sama saya dua jam juga pasti jadi mau ikut poligami”. Lah lah….

Tapi setidaknya, perspektif saya jadi lebih objektif, karena saya bisa menilai jalan pikiran Riski dan istri-istrinya tidak hanya dari verbatim, tapi juga indera yang lain; gestur, nada bicara, tatap mata dan sikap-sikap penekanan tertentu.

Saya juga sempat meminta Riski untuk memberikan kritiknya terhadap praktek poligami yang kerap terjadi dan menimbulkan polemik di Indonesia. Dirinya dengan tegas berkata, “Jangan memulai sesuatu dengan kebohongan. Karena sekali berbohong, anda akan terus berbohong.”

Barangkali karena saya perempuan, saya masih sangat mempertimbangkan perspektif etis dalam praktek poligami. Jadi, meski banyak pelaku poligami masa kini yang berkata “berpoligami dengan yang masih muda pun tetap halal”, saya ingin membercandainya “halal belum tentu toyyib, tapi yang toyyib pasti halal,” hehehe.

Perspektif etis ini mencakup kerelaan hati, kepantasan, keadilan terkait perasaan dan psikologis, keseimbangan afeksi, sikap yang bijak dan tidak bermudah-mudah serta lain sebagainya.

Banyak yang mengkritik praktek poligami tapi kebablasan karena luput memahaminya sebagai syari’at. Banyak pula yang membela diri atas nama syari’at tapi lalai pada prakteknya. Framing poligami sedemikian negatif di media, tapi menjadikan poligami bahan candaan juga tidak kalah memalukannya. Semoga, sekali lagi, kita menjadi manusia yang mampu menyebrangi jembatan antara syari’at dan praktek dengan bijaksana. Karena keadilan dalam poligami tidak semuah membagi nominal saldo rekening awal bulan pada dua, tiga atau empat rumah tangga.


Gita Prayitno,
Maret 2019.

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Hello! Thankyou for visiting our page! Hit me up through Instagram too @gita.prayitno or send me some mails to hellogita@kulawarga.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *