Perubahan-perubahan yang Terjadi Setelah Menikah

Perubahan-perubahan yang Terjadi Setelah Menikah

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Cerita ini bermula saat beberapa waktu lalu saat saya bertemu dengan sahabat-sahabat saya, Ivandhana dan Mochammad Fadli di Journey Coffee, Tebet.

Dari pertemua itu ada hal menarik yang akhirnya saya jadikan ide untuk bahasan ini. Hal menarik itu adalah tentang diskusi yang kami lakukan terkait dengan kehidupan pernikahan. Apa yang berubah semenjak menikah?

Pertanyaan tersebut tentu menarik buat saya karena saya sendiri baru menyadarinya ketika pertanyaan itu dilontarkan. Apalagi pertanyaan itu mundul di tengah-tengah diskusi saya dengan mereka yang memang sering membahas sesuatu secara objektif dan menarik.

Di tengah pertemuan yang tentu saja terjadi beberapa hari sebelum pengumuman kasus pertama COVID-19 di Indonesia itu kami saling melakukan audit. Kecuali Fadli yang memang belum menikah. Jawaban dari apa yang berubah semenjak menikah tidak bisa saya jawab saat itu juga. Seperti biasa saya butuh waktu untuk memikirkannya dengan benar.

Ya namanya juga seorang thinker yang mikirnya panjanggg.

Dan di forum itu saya hanya menjawab normatif. Hal-hal yang biasanya memang berubah saat pernikahan terjadi. Seperti makan lebih teratur, atau tidur lebih awal dan bangun pagi.

Tapi setelah beberapa waktu, ya satu bulan ini memikirkan tentang hal itu saya kemudian menemukan beberapa hal menarik. Tentu tentang jawaban untuk pertanyaan tersebut.

Apa sih yang berubah sejak Bagus Ramadhan menikah dengan Gita Prayitno?

Nah, kira-kira ada lima hal yang berubah sejak saya menikah dengan istri. Lima hal ini adalah beberapa hal yang saya rasakan dan sepertinya memang terjadi perubahan sejak menikah. Apa saja itu?

  1. Produktifitas meningkat

Menjadi seorang suami jika dibandingkan dengan sebagai seorang lajang tentu akan memiliki ruang gerak yang berbeda. Orang beranggapan bahwa ketika seseorang sudah menikah, maka mereka akan mendapatkan kekangan. Tidak lagi mudah bergerak. Ada hambatan yang terjadi dari suami ataupun istri.

Namun satu tahun terakhir ini, saya merasakan hal yang berbeda. Saya tidak merasa saya mendapatkan penurunan produktifitas. Saya bahkan merasa produktifitas cenderung meningkat meski harus membagi waktu dengan aktifitas di rumah.

Saya pun berusaha untuk menemukan apa yang membuat beda? Perbedaannya ternyata ada di efektifitas dan habit atau kebiasaan.

Di masa lajang kita punya kecenderungan untuk tidak peduli dengan kebiasaan. Saya yakin, kamu seperti saya yang senang mengerjakan pekerjaan secara spontan dan mendekati masa garis mati. Asalkan selesai dan tetap berkualitas. Pikir kita.

Sayangnya, kebiasaan seperti ini tidak memberikan produktifitas yang berkualitas. Kenapa? Karena sangat jauh dari kata efektif. Memang efisien tapi sangat tidak efektif.

Efektif yang saya maksud adalah bagaimana memanfaatkan setiap momen dan waktu untuk sesuatu yang tepat sasaran dan berguna. Sementara efisien adalah memanfaatkan sumber daya waktu dan momen dengan seminimal mungkin.

Saat telah menikah, hal yang bisa dilakukan untuk bisa melaksanakan tugas-tugas adalah dengan membuat semua aktifitas menjadi efektif. Tidak selalu dikerjakan dalam waktu singkat memang, tapi tetap tepat guna dan baik hasilnya.

Contoh sederhana adalah ketika bangun pagi. Bangun lebih awal itu tidak mudah, kita cenderung untuk begitu malas bangun pagi. Tapi karena dalam pernikahan saya merasa bertanggung jawab dengan setiap roda rumah tangga, saya harus tetap bangun dan mengerjakan tugas-tugas.

Bangun pagi tentu adalah pemandangan yang langka saat masa lajang ataupun kuliah. Saya sendiri cenderung sangat malas untuk bangun pagi. Saya yakin juga banyak anak-anak muda kuliahan yang juga seperti saya.

Jadi, semenjak saya menikah saya menjadi lebih produktif dan bisa memanfaatkan waktu lebih baik. Hasilnya? Tentu saja karir profesional saya membutuhkan manajemen waktu yang lebih tepat. Dan jika tidak mampu untuk melakukannya, maka jangan heran jika harus mengalami masa stagnan dalam kualitas hidup.

  1. Fokus tidak mudah goyah

Hal lain yang juga meningkat sejak menikah adalah tentang fokus. Fokus saya terhadap kemajuan, perkembangan dan juga peningkatan kualitas pada diri dan rumah tangga menjadi meningkat.

Saya mulai bisa tidak banyak menghabiskan waktu untuk aktifitas yang tidak berkaitan dengan visi ataupun tujuan rumah tangga kami. Saya menjadi jarang untuk menggunakan waktu untuk mencari hiburan ataupun bersantai-santai.

Bekerja terus menerus memang tidak mudah, itu mengapa fokus sangat dibutuhkan. Tanpa fokus saya tidak akan mampu untuk terus menerus membuat konten ataupun meningkatkan kualitas karya.

  1. Kemampuan diri semakin baik

Dampak dari meningkatnya produktifitas dan fokus tentu saja adalah peningkatan kualitas kemampuan. Dari produktif dan fokus saya menjadi lebih bisa meningkatkan kemampuan diri dalam berkarya.

Saya adalah orang yang percaya bahwa hidup itu membutuhkan latihan, belajar, dan pengulangan yang membutuhkan fokus yang tidak mudah. Tanpa fokus dan produktif seseorang akan menganggap bahwa dirinya tidak perlu berlatih dan belajar hal baru.

Kemampuan semakin baik ini tidak hanya terbatas pada kemampuan profesinoal, dalam hal ini kemampuan saya dalam menulis dan membuat konten marketing. Tetapi peningkatna kualitas kemampuan juga terjadi dalam hal rumah tangga.

Salah satunya adalah kemampuan baru yang saya dapatkan selama bersama istri yakni memasak. Penyebabnya adalah karena saya diajak untuk ikut belajar memasak di dapur. Saya dahulu adalah orang yang tidak bisa memasak sama sekali. Saya tidak paham seperti apa itu memasak. Hal yang saya tahu tentang memasak adalah memasak mi instan yang begitu praktis dan sederhana.

  1. Batin menjadi lebih tenang tenang

Selanjutnya setelah kemampuan saya terus meningkat selama menikah, saya menjadi tenang bahwa di masa depan saya tidak perlu untuk khawatir tentang perkembangan karir.

Karir saya di bidang digital marketing akan bisa terus meningkat selama saya bisa menjaga kebiasaan diri. Bila kemampuan meningkat tentu saja saya akan lebih tenang saat berhadapan dengan klien.

Selain itu dengan hadirnya Gita di rumah, saya juga merasa ketenangan. Saya kerap kali diprotes Gita hanya karena saya sering tertawa dengan lontaran-lontaran gurauannya yang kerap kali membuat mikir panjang.

Saya menjadi tenang karena saya tidak lagi perlu untuk mengarungi perjalanan hidup sendirian. Saya bersama dengan Gita akan membangun Kulawarga bersama dan akan saling melengkapi untuk meningkatkan kualitas hidup masing-masing,

  1. Semakin bisa berempati

Hidup bersama dengan orang lain adalah hal baru bagi saya. Saya semenjak kecil sudah kerap kali memiliki ruang hidup sendiri yang cenderung tidak melibatkan orang lain. Namun dalam pernikahaan jelas tidak mungkin bila hanya fokus pada diri sendiri.

Gita sebagai bagian dari rumah tangga tentu perlu saya kenali dengan baik. Seperti apa karaternya, seperti apa sudut pandanganya, seperti apa ritme kerjanya banyak hal yang membutuhkan empati untuk mendapatkan informasinya. Empati saya juga cenderung meningkat karena harus memahami Gita, partner perjalanan saya hingga masa depan nanti.

Jelas empati ini bertambah ketika menikah, berbeda dengan di masa lajang yang hanya perlu memperhatikan diri sendiri. Tidak banyak empati tapi berusaha mendapat banyak simpati.


Itulah kira-kira lima hal yang saya alami selama satu tahun menikah. Kebetulan pada 20 April yang lalu kami menikah. Sehingga artikel ini rasanya juga menjadi sebuah persembahan bersama tentang perjalanan bersama.

Gita pun telah menulis tulisan yang sama terkait dengan tema ini, tentang bagaimana dirinya mendapatkan pengalaman unik sejauh perjalanan menikah.

Saya pun akhirnya percaya bahwa untuk mencapai tujuan yang lebih jauh maka saya perlu untuk berjalan bersama. Sementara jika ingin berjalan dan mencapai tujuan dengan cepat saya sebenarnya bisa lakukan sendiri. Namun pernikahan dan hidup adalah tentang perjalanan panjang. Itu sebabnya saya memilih Gita sebagai partner yang saya yakin mampu untuk tugas berat bersama ini.

Kami adalah sosok yang cenderung senang melihat pencapaian. Sehingga apa yang telah kami capai bersama, termasuk perubahan ini adalah sesuatu yang cukup membanggakan.

Memang, tetap saja ada nyinyiran dan omongan dari orang-orang di sekitar. Salah satunya adalah tentang momongan. Namun saya tidak terlalu mementingkan hal tersebut saat ini. Memiliki anak bukanlah prioritas saat ini karena masih ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan jika rumah tangga kami mendapatkan amanah untuk membesarkan seorang insan.

Perlu dicatat juga bahwa apa yang saya jelasin di tulisan ini tidak serta merta jadi panduan apakah kamu juga harus mengalami perubahan yang sama saat menikah.

Alasannya tentu saja karena konteks hidup saya dengan kamu apalagi pernikahan, akan beda satu sama lain. Sehingga tidak ada aturan yang baku ataupun cetakan yang sama yang bisa digunakan untuk melihat perkembangan pernikahan masing-masing individu.

Jadi, saya lebih ingin mengajak kamu yang membaca tulisan ini untuk berbagi cerita, tentang apa yang kamu alami dalam pernikahan satu tahun pertama. Saya tidak berharap hanya cerita-cerita positif yang datang, tetapi juga bisa jadi cerita-cerita sedih ataupun negatif yang bisa kita selesaikan bersama-sama.

Mungkin cukup itu saja tulisan kali ini.
Terima kasih atas perhatiannya. Semoga bermanfaat.

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Penulis konten yang punya latar belakang pendidikan bisnis. Sempat jadi jurnalis. Kemudian terobsesi dengan buku dan pengetahuan. Impian terbesarnya adalah membuat film dokumenter dan bikin perusahaan yang peduli keberlangsungan alam.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *