Perubahan Pertemanan yang Perlu Disikapi

Perubahan Pertemanan yang Perlu Disikapi

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Aku mencoba mengingat bagaimana pertama kali aku mengenal laki-laki itu. Saat itu dia adalah salah satu sahabat terdekat dari istriku. Sosok yang menemani Gita kala dia bertemu denganku pertama kali kala itu.

Dia adalah sosok yang tidak banyak berbicara, tapi dari gerak mata dan gesturnya dia tampak seperti selalu memikirkan sesuatu. Ya, kurang lebih mungkin seperti diriku.

Pertemuan pertama kali dia mendiskusikan sesuatu. Tentang sebuah film yang saat itu heboh karena dianggap tidak mendapat dukungan yang layak. Dia kemudian menuliskan argumentasinya melalui sosial media biru miliknya dengan menutup kalimatnya menggunakan kalimat yang ku lontarkan. “Film yang baik itu, adalam film yang setidaknya akan membuat orang rela untuk membajaknya.”

Tulisan ini bukan tentang film itu, tapi tentang bagaimana perkenalanku dengannya berkembang dan surut. Kami sempat bersahabat meski berjarak, beberapa kali pendapatnya aku dengarkan dan aku ingat selalu. Seperti yang sempat dia sampaikan saat aku mengalami krisis Oktober itu.

“Dari pada meminta maaf, lebih baik dirimu ucapkan terima kasih. Karena belum tentu orang-orang yang telah membantumu merasa direpotkan, mereka malah meluangkan waktunya untuk dirimu.”

Sejak saat itu aku sebisa mungkin menghindari permintaan maaf yang berangkat dari rasa bersalah dan rasa tidak enak karena telah dibantu.

Itulah kedewasaan yang mungkin bisa aku ambil darinya.

Tapi memang situasi juga bisa berubah. Sejak aku memutuskan untuk serius dengan Gita, relasi kami perlahan bergeser. Ada banyak momen yang mungkin mengecewakan, bahkan mungkin membuat marah. Bukan buatku, tapi untuk Gita.

Aku paham bahwa persahabatan mereka begitu erat bahkan sebelum aku datang ke kehidupan mereka. Namun perkembangan situasi membuat relasi persahabatan menjadi hal yang buruk.

Kadang aku berpikir, apakah aku penyebabnya. Tapi tentu saja pikiran seperti itu tidak akan menjadi solusi. Sehingga apa yang bisa dilakukan adalah berusaha menyikapinya dengan bijaksana meski mungkin aku bukan orang yang bijak.

Aku tidak pernah lupa bagaimana suasana hati Gita kala itu. Kami berkomunikasi jarak jauh, kemudian bercerita tentang apa yang telah terjadi. Situasi buruk itu bertahan hingga berhari-hari. Beruntung, tidak ada hal buruk yang menghampiri setelahnya.

Saat sitausi mereda, ada beberapa kata yang aku simpan dari Gita tentang persoalan ini.

“Best friend doesn’t avoid each other. Why you avoid me but tell me that I am your best friend in your whole life ever? What makes you feel hurt and why do you think you might hurt other? Does our friendship a wrong game for you? So that if your girl knows she will get hurt?

Perubahan-perubahan relasi seperti inilah yang aku dapati ketika perjalanan hidup terus berjalan. Ketika orang terdekat sering kali menjadi sumber rasa sakit yang luar biasa.

Aku pun mengalami hal yang sama. “Saat telah memutuskan, otomatis kehidupan pertemanan itu tidak akan pernah sama lagi,” kata seorang sahabat yang saat ini berada di salah satu perusahaan rintisan paling bernilai di Indonesia.

Ya, aku sepenuhnya paham dengan itu. Meski terasa menyedihkan, tapi memang seperti inilah yang harus di jalani. Aku dan Gita pun pada akhirnya harus berdiskusi panjang dan membahas soal ini.

Belajar dari apa yang pernah dialami, kita semua tentu akan selalu mengevaluasi untuk tidak lagi mengalami masalah yang sama. Semenjak niatan itu tersampaikan, aku tentu tidak lagi seterbuka itu dengan orang baru. Sehingga aku hanya perlu fokus pada orang-orang terdekat yang memang bisa diperhatikan. Gita tentu saja dan beberapa sahabat yang Gita pun aku perkenalkan.

Aku senang dengan konsepsi Gita tentang sahabat, baginya sahabatku harus mengenal dirinya. Begitu pula sahabatnya harus mengenal diriku. Karena menurutnya bisa jadi suatu saat salah satu dari kita menghadapi situasi darurat dan harus bergantung pada para sahabat.

Jadi itulah perubahan situasi yang rupanya harus disikapi. Aku tidak pernah tahu apakah seiring berkembangnya waktu, akan ada perubahan-perubahan yang lebih baik lagi terkait dengan relasi pertemanan ini. Semoga saja begitu. Termasuk jika teman datang dari orang asing yang membaca situs kami ini. Mari berharap agar kita bisa menjalin silaturahim yang lebih baik.

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Penulis konten yang punya latar belakang pendidikan bisnis. Sempat jadi jurnalis. Kemudian terobsesi dengan buku dan pengetahuan. Impian terbesarnya adalah membuat film dokumenter dan bikin perusahaan yang peduli keberlangsungan alam.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *