Pertanda Baru, Hilangnya Rasa Di Antara Tekanan Jiwa

Pertanda Baru, Hilangnya Rasa Di Antara Tekanan Jiwa

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Usai lebaran kala itu, aku memutuskan untuk silaturahim ke keluarganya. Bukan, bukan keluarga Gita. Keluarga yang sempat aku datangi untuk maksud yang besar. Ini adalah silaturahim pertama yang melibatkan orangtuaku, lebih tepatnya ibu.

Kami datang malam-malam kala itu. Disambut cukup pantas, dengan hidangan dan hampir seluruh keluarga datang. Intinya momen itu adalah momen formal untuk membangun keakraban dua keluarga. Tanpa hadirnya Papa tentu saja forum itu hanya berputar membicarakan entah apa. Hingga akhirnya keluarganya memperjelas apa maksud kedatangan. Jawaban ibu tentu saja sedikit mengelak dengan mengatakan keputusan ada di Papa. Sehingga harus ada kehadiran beliau sebelum memutuskan.

Malam itu aku tampak kehilangan sesuatu. Sesuatu yang selama ini mengikat diri sesuai ucapan yang pernah tersampaikan. Sebuah rasa dengan diiringi hilangnya komitmen. Rasa yang kala itu mungkin mati akibat melihat orang tua yang tidak tampak antusias. Tidak ada perubahan apapun semenjak pertama kali aku memperkenalkan sosoknya. Berbeda dengan kala aku mempertemukan Gita dengan Ibuku di suatu tempat di Jakarta beberapa bulan kemudian.

Aku bukan tanpa usaha untuk berusaha bagaimana mengembalikan rasa itu. Sisa-sisa komitmen membuatku tetap bertahan. Aku mencari jawaban termasuk berkonsultasi pada seseorang yang sering aku datangi untuk bertanya perihal agama. Menurutnya, bisa jadi ini adalah jawaban dari perjalananku Februari yang lalu. Memang bisa jadi ini godaan, bisa pula ini adalah jawaban. Itu sebabnya aku diminta untuk memperbanyak ibadah. Sembari menerungkannya baik-baik.

Sementara hubungan itu semakin tidak sehat. Tekanan verbal masih terus berlanjut bahkan usai aibku terbuka di kalangan teman terdekat. Aku mencoba untuk tetap menjadi sahabat terbaik meski aku sendiri sadar, tekanannya membuatku stres hebat. Kala itu aku mulai mempertimbangkan untuk resign dari kerja mengingat produktifitasku sangat menurun. Situasi kerja di Surabaya juga tidak begitu bagus. Aku terpikir untuk berwirausaha saja bersamanya. Sempat sebuah mesin jahit terbeli. Tapi entah di mana sekarnag mesin itu berada.

Resign rasanya tidak terelakkan lagi, berhenti bekerja dan fokus pada mengembangkan diri. Sembari berusaha keluar dari tekanan-tekanan. Pernah suatu ketika aku berusaha menyelesaikan semua urusan di sebuah kedai jus pinggir jalan dekat tempat tinggalku. Usaha itu berakhir dengan aku harus mengikutinya sepanjang malam berjalan kaki. Sampai subuh menjelang dan aku kemudian pulang.

Mungkin itulah jawabannya, ketika segalanya begitu sesak. Mungkin memang bukan jalan dan pilihan yang tepat. Bukan karena faktor ada siapa yang datang dan pergi dalam diri. Tapi tentang bagaimana diri bisa mampu untuk terus berkembang dan tumbuh dalam proses menuju ikatan yang agung.

Masa-masa itu akhirnya hanya ada para sahabat dan keluarga. Harta tak bernilai yang secara kebetulan dipertemukan denganku. Tanpa siapa yang tahu, seseorang di antara mereka menjadi pendamping hidup di kemudian hari.

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Penulis konten yang punya latar belakang pendidikan bisnis. Sempat jadi jurnalis. Kemudian terobsesi dengan buku dan pengetahuan. Impian terbesarnya adalah membuat film dokumenter dan bikin perusahaan yang peduli keberlangsungan alam.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *