Persiapan Serba Mendadak, Idealis vs Pragmatis

Persiapan Serba Mendadak, Idealis vs Pragmatis

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Persiapan segera dimulai sejak kesepakatan tentang tanggal sudah diperbincangkan. Kala itu ditentukanlah lamaran terjadi pada tanggal 26 Januari 2019. Sebagaimana sudah aku ceritakan sebelumnya, persiapan kedua keluarga hanya kurang dari 3 minggu.

Mempersiapkan ruang, mempersiapkan dekorasi, bahkan keluarga Lampung ternyata ingin menggunakan terop. Persoalan sajian dan panganan disiapkan. Tidak lupa juga soal seserahan!

Aku dan Gita sebenarnya begitu tidak paham soal seserahan. Apalagi di keluarga, kami sama-sama merupakan yang pertama. Aku anak pertama dan Gita juga anak pertama. Orang tua kami belum pernah mengadakan pernikahan sebelumnya. Masing-masing hanya memiliki referensi lamaran dari era masing-masing.

Orang tua Gita melaksanakan lamaran dan pernikahan dengan besar-besaran, kabarnya malah berhari-hari. Sementara orang tuaku melaksanakannya dengan sederhana. Dari pengalaman ini saja sebenarnya sudah membuatku minder. Apakah bisa aku memenuhi standar ekspektasi keluarga Lampung. Mungkin orang tua Gita bisa menerima, tetapi belum tentu keluarga besarnya bisa menerima. Aku khawatir.

Belum lagi tahun 2019 adalah tahun pertamaku disituasi sulit. Mungkin ada puluhan alasan yang bisa mendesak aku untuk bilang, “kamu nekad!”

Tapi ini memang sesungguhnya adalah ujian keimanan. Godaan itu begitu besar untuk mengurungkan niat. Bahkan mendorong untuk merasa kecewa, marah atau bahkan berputus asa. Mungkin ini yang mereka bilang dengan godaan menjelang acara. Banyak sekali bisikan-bisikan dari dalam yang membuat kita ragu.

Begitu pun dengan Gita, perbincangan kami sering kali menyasar pada tataran rasa. Kami sering mempertanyakan hakikat dan pemaknaan menuju sebuah pernikahan. Belum lagi soal metode-metode yang mungkin selalu bisa diperdebatkan. Tapi godaan itu jelas harus dilawan dengan gerakan-gerakan pragmatis.

Gerakan yang sedikit demi sedikit mengantarkan persiapan menuju hari H. Satu per satu barang persiapan dibeli. Ada kesenangan tersendiri ketika satu per satu barang itu terbeli. Ada kelegaan dan ada rasa semangat yang kembali.

Gita malah begitu senang bisa memilih sendiri barang seserahan sesuai dengan budget dan kebutuhannya. Memang sih ini berbeda dengan kebiasaan yang sering kali seserahan dibelikan oleh pihak laki-laki.

Hasilnya? Barang-barang yang kami dapatkan seperti ini.

  • Kotak Seserahan – Ayuwulan

Kotak seserahan ini awalnya kita mau bikin sendiri. Seperti biasa Gita punya idealisme, tapi pertimbangannya tentu saja waktu. Aku yakin memang Gita bisa membuatnya, tapi kalau terbentur waktu hasilnya pasti tidak maksimal. Beruntung, ternyata tetangga dekat rumah Lampung ternyata penyedia kebutuhan seserahan. Kita dapat sewa dengan harga yang terjangkau.

  • Kain – Danar Hadi Batik

Aku tidak begitu ingat kain yang mana ini. Tapi sepertinya Gita yang membelinya. Mungkin nanti dia bisa bercerita sedikit soal ini.

  • Cincin perak lamaran

Cincin adalah salah satu yang paling ribet yang harus kami cari berdua. Karena ukuran jari Gita memang terlampau kecil. Kalau aku memang lebih umum walaupun ukurannya juga cukup besar. Kami mencari-cari di banyak mall di Depok, hingga akhirnya menemukan yang cocok di Detos. Kami membeli cincin perak alasannya karena ini terjangkau dan keluarga ternyata ingin setelah akad kami tidak menggunakan cincin ini. Jadi ya nasib cincin ini hanya sampai akad nikah. Tiga bulan coy!

Aku tidak ingat apa nama toko yang menjual cincin ini. Awalnya kami berusaha mencari toko yang bisa membuat cincin silver bentuk custom. Ya karena kami punya impian sebuah cincin susunan kimiawi Dopamin dan Serotonin.

Jelas tidak ada, sangat sulit untuk mencari pengrajin cincin yang berani untuk membuat produk sangat niche seperti ini. Ini vendornya di Belgia! Hahaha.. Jadi cita-cita deh buat ke sana. Amiin semoga suatu saat bisa ke sana. Cuma buat beli cincin..

Akhirnya kami dapat cari yang biasa-biasa saja. Itupun untuk ukuranku masih tidak pas di jari. Kata tokonya bisa diperkecil dan bisa jadi hari itu juga, tapi setelah kami ambil rasanya tidak ada beda. Rugi bayar biaya pengecilan ukuran cincin deh.

  • Gelang – Rokute.id

Soal gelang ini inisiatifku. Sejak kami berkenalan sebagai Paus dan Unicorn aku terpikir untuk punya gelang persahabatan. Entah, sampai segitunya aku berpikir untuk bisa dekat dengan Gita. Akhirnya aku coba cari gelang yang sedikit unik, dan ketemu. Aku menemukannya di Instagram dengan merek Rokute.id. Mereka jual banyak jenis gelang dengan gantungan yang unik-unik.

Gelang yang aku cari bukan gelang yang rumit, tapi simbolnya jelas. Aku cari Paus dan Unicorn. Pausnya ada memang, tetapi Unicorn ternyata tidak ada. Hanya ada charm pegasus. Ah tidak apa pikirku, dari pada tidak ada sama sekali. Harganya cukup terjangkau, dan respon selernya cukup baik. Buat yang tertarik lihat-lihat bisa langsung cek ada akunnya.

  • Buku – Asrur

Kami berdua selalu menekankan bahwa seserahan harus bisa bermanfaat. Bisa digunakan dan ada nilainya. Jadi tentu saja sebagai penggila baca, buku jadi benda yang tidak terelakkan. Kami membeli dua buku tentang parenting dan pernikahan. Dua-duanya kami beli dari sahabat sendiri yang berjualan buku di Asrur Store.

  • Al Quran – Asrur

Sama seperti buku, kami juga beli Al Quran dari Asrur Store. Walaupun masing-masing sudah punya Quran sendiri, tapi ini untuk formalitas pelengkap saja upacara seserahan.

  • Dress

Untuk pakaian, Gita memilih dress. Aku sendiri tidak ingat di mana dia membelinya. Tapi warnanya aku suka. Warna biru gelap. Kabarnya sih lumayan terjangkau tapi bagus. Jadi Gita suka dengan dress itu. 

  • Sepatu – Elizabeth

Barang yang satu ini mungkin salah satu yang paling mahal di antara barang seserahan. Gita memang pintar cari barang bagus dan untuk sepatu dia ambil dari Elizabeth. Sepatu yang menurutku haknya lumayan tinggi. “Untuk acara nikahan nanti,” kata Gita waktu itu. “Biar ga timpang tingginya sama mas.” Ternyata itu alasannya. Hehe. Baiklah.

  • Tas – Christian Siriano

Wah kalau ini aku lihat barangnya saja sudah takjub. Berapa harganya? Aku ga hapal sih. Bu Gita yang membeli, mungkin sama mahalnya dengan sepatu. Tapi kalau lihat dari modelnya, agaknya bakal jarang dipakai sih sama dia.

  • Jam Tangan – Pilot

Untuk jam tangan ini salah satu yang membuatku terheran-heran model dan warnanya bagus, tapi herganya begitu terjangkau. Gita bilang sih belinya di mall gitu. Ya mungkin yang murah-murah itu. Tapi baik sangka saja, kualitasnya mungkin bagus. Kalau ada minus-minus ya wajar, ada harga ada barang.

  • Mukena & Sajadah

Aku tidak ingat untuk mukena ini dari mana. Sepertinya mukena dan sajadah adalah pemberian dari mamaku. Mama punya banyak mukena dengan harga lumayan yang menumpuk. Sementara Sajadah, mama punya banyak karena dulu sering belanja oleh-oleh umroh dari Saudi. Jadi Sajadahnya memang dari Saudi Arabia sih, tapi untuk mukena aku kurang tahu.


Lihat daftarnya, banyak kan? Tapi aku cukup bersyukur sih jumlah barangnya ga sebanyak seperti yang aku lihat di sosial media saat itu. Sebuah acara lamaran yang seserahannya adalah lengkap perabotan rumah plus hewan ternak. Gita pun juga cerita kalau seserahan mama dan papanya kurang lebih mirip. Tapi memang tidak ada hewan. Semua kebutuhan rumah tangga diserahkan. Aku cukup stres waktu dilihatkan dan diceritakan soal itu.

Untungnya, daftar seserahannya cuma seperti yang di atas. Dengan budget kalau tidak salah Rp1.500.000 semuanya bisa terbeli. Alhamdulilah idealisme masih bisa terpenuhi.

Urusan seserahan selesai, selanjutnya urusan acara. Urusan acara juga tebilang cukup lancar, walaupun keluarga Lampung ada keinginan-keinginan yang bisa terakomodir. Tapi karena acara di rumah jadi lebih mudah. Rundown dan tim yang bertugas juga sudah disusun dengan rapi. Jago emang bu Gita kalo soal ginian.

Puyeng lainnya adalah soal dekorasi. Bu Gita sangat ketat soal ini. Dekorasi lagi-lagi, ingin didekor sendiri. Tapi akhirnya tetangga dekat rumah Lampung ada yang siap bantu untuk dekorasi. Ternyata tetangga ada yang punya vendor dekorasi. Tapi standar dekorasi harus sesuai dengan keinginan Gita. Itu yang agak sulit. Sempat beberapa kali ribut gara-gara dekor tidak sesuai dengan keinginan. Tapi akhirnya semua set up rumah selesai.

Terakhir soal akomodasi dan perjalanan keluarga Malang. Perjalanan keluarga Malang mulanya agak rumit, karena mau mengajak sanak famili untuk ada yang turut hadir. Tapi karena acara dadakan jadi tidak ada sanak famili yang ikut kecuali keluarga inti. Papa malahan mengajak kolega-kolega kantornya yang ada di Jakarta karena lebih dekat dan bisa diminta untuk bantu-bantu.

Perjalanan keluarga awalnya naik pesawat ke Jakarta, baru kemudian naik pesawat lagi ke Lampung. Transit di Jakarta karena memang tidak ada pesawat langsung dari Malang ke Lampung. Selain itu kalau tidak salah saat itu, adik perempuan juga masih posisi di Jakarta jadi keluarga Malang jemput dia dulu baru kemudian bebarengan ke Lampung.

Sementara aku, datang lebih dahulu dengan menggunakan perjalanan darat dari Jakarta. Usai persiapan seserana selesai aku naik mobil bertiga dengan Gita, ada sopir juga. Selama perjalanan aku dikasi tau pengenalan soal Lampung dan Sumatra. Bu Gita ni pengalaman perjalanannya uda jauh lebih banyak dari aku. Sumatra sudah khatam dia, gile emang.

Sampai di Lampung langsung menuju ke penginapan. Lho? Mas Bagus sama Gita ke penginapan? Kan belum resmi, masih mau lamaran. Ya iya lah! Sapa juga yang mau inap bersama. Aku ke penginapan buka kunci kamar termasuk persiapan untuk keluarga Malang. Sedangkan Gita diantar langsung ke rumahnya. Persiapkan diri di rumah, dan menyusun seserahan di sana.

Kok? yang susun seserahan malah pengantin perempuan?

Haha iya, aneh sih memang. Seharusnya dari pihak pria kan. Tapi ya begitulah bu Gita. Maunya perfect! Dia sendiri yang menata dan atur tata letak seserahannya bagaimana. Ya aku ga jago juga sih nyusun-nyusun gitu. Setelah seserahannya jadi, malam sebelum acara seserahannya dibawa ke penginapan keluarga Malang. Biar besoknya bisa diantar ke acara. Bolak-balik aja kayak ingus.

Kalau seingatku ada sekitar tujuh baki seserahan kayu. Sebagian ada yang ditutup menggunakan mika. Ada yang dibiarkan terbuka. Semua pengaturan Gita yang taulah pokoknya.

Esok harinya, lamaran dilakukan pagi. Aku lupa sih jamnya, bentar lihat rundownnya. Oh sekitar jam 07.30 sampai menjelang dhuhur jam 11.45. Nah yang bikin situasinya agak ketar-ketir adalah, hari-hari itu Bandar Lampung hujan terus. Bahkan sampai keberangkatan rombongan keluarga Malang ke lokasi lamaran masih hujan. Tapi alhamdulillah, ketika rombongan Malang datang, hujan mereda dan matahari menampakkan diri, menyaksikan sejarah kami berdua. Ihir~

Susunan acaranya biasa saja sih, yang menyusun rundown acara juga bukan dari pihak pembawa acara atau MC tapi kami berdua juga. Semua hampir dikerjakan sendiri memang.

Hari itu Gita terlihat cantik dengan kain batik jarit yang Mamaku beli di Malang. Warnanya senada dengan warna kemeja batik yang aku kenakan. Awkward sih sebenarnya, dan ada banyak momen-momen yang tidak terlupa di peristiwa ini. Tapi aku tidak mau cerita, mungkin bisa untuk disimpan pribadi saja.

O ya sedikit cerita, Papaku sebenarnya orang yang termasuk sangat mewanti-wanti soal kepastian penerimaan lamaran dari pihak perempuan. Karena ada kejadian dari keluarga yang ternyata ketika datang ke keluarga perempuan berniat untuk melamar, ternyata lamarannya ditolak. Padahal di rombongan tersebut keluarga besar ikut mendampingi, jelas ada rasa malu yang begitu besar. Dan di kejadian itu Papa ada di salah satu pengantar laki-laki.

Jadi tidak heran jika ketika aku mengutarakan ingin serius dengan Gita, Papa berulang kali bilang, keluarga Lampung bagaimana kepastiannya. Jangan sampai datang tapi ditolak.

Ya alhamdulillah lamaran diterima, dan kedua keluarga mulai mendiskusikan tanggal akad nikah. Kedua keluarga sepakat untuk melangsungkan acara agung tersebut sebelum puasa Ramadhan. Sehingga jatuh di bulan April, bulan kelahiranku.

Mulanya ingin dilangsungkan hari Jumat, tapi dengan pertimbangan kehadiran keluarga-keluarga besar, akhirnya disepakati untuk dilangsungkan di hari Sabtu, 20 April 2019.

Ketika seluruh rangkaian acara selesai, beres-beres dan foto-foto properti. Kira-kira ini sih hasilnya.

Satu hal yang aku dapat dari lamaran ini adalah, mungkin aku menyadari bahwa jodoh dan soal kesetaraan atau yang sering disebut sekufu, itu bukan kita yang menentukan. Dan perjalanan cerita kami berdua mungkin memperlihatkan kekompakan itu. Memang sekacau itu, seabstrak itu, dan seaneh itu. Tapi selalu saja banyak hal baik yang kami percaya akan bisa memiliki dampak pada orang lain, setidak-tidaknya, untuk diri kita sendiri.

Kira-kira itu sih yang bisa aku bagikan soal momen lamaran yang kami lalui awal tahun ini.

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Penulis konten yang punya latar belakang pendidikan bisnis. Sempat jadi jurnalis. Kemudian terobsesi dengan buku dan pengetahuan. Impian terbesarnya adalah membuat film dokumenter dan bikin perusahaan yang peduli keberlangsungan alam.

One comment

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *