Perempuan: Antara Hukum Syari’ah dan Feminisme

Perempuan: Antara Hukum Syari’ah dan Feminisme

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Ulasan ini ditulis pada April 2016, sebagai salah satu referensi wacana kontemporer mengenai relevansi Islam dan Feminisme. Dalam jurnal yang ditulisnya, Ziba Mir-Hosseini mempertanyakan keberadaan keadilan terhadap perempuan yang barangkali juga menjadi pertanyaan banyak perempuan muslimah di masa ini yang merasa berada pada subordinat laki-laki.

Pada hakekatnya, keadilan gender adalah visi mutlak dalam Islam. Keadilan dan kesetaraan juga tercantum sebagai prinsip penting dalam Islam dan dalam pelaksanaan hukum syariat. Namun demikian, pada kenyataannya seringkali ditemukan banyak ketidakadilan gender justru terjadi di negara-negara yang mengaku menerapkan hukum syariat. Bukan hanya itu, hak asasi manusia (dalam konteks universal) pun seringkali terabaikan justru oleh negara-negara yang mengaku memegang teguh prinsip-prinsip Islam. Hal ini terutama terkait dalam kedudukan perempuan yang hampir selalu ditempatkan di bawah dominasi laki-laki.

Menurut Mir-Hosseini, patriarki merupakan hal yang patut dipersalahkan atas hal ini, selama ada patriarki (yang mengatasnamakan Islam sebagai pembenaran), selama itu pula perempuan akan berperan sebagai gender kedua. Hal yang menarik, Mir-Hosseini berpendapat kondisi ini justru dimanfaatkan oleh negara-negara lain untuk mengintervensi negara Islam dengan dalih mempromosikan demokrasi dan hak asasi manusia, membebaskan perempuan dari “kungkungan hijab dan burqa”, seperti yang terjadi dalam kasus intervensi militer Amerika atas Iraq dan Afghanistan.

Lalu, ketika negara-negara Islam sendiri tidak bisa menjamin hukum syariat yang mereka terapkan mampu menjadi adil bagi laki-laki dan perempuan, apakah feminisme akan menjadi alternatif pilihan?

Sebenarnya, dalam pembahasan mengenai Islam dan feminism, terdapat dua pendapat; pertama, seiring realita yang terjadi, banyak yang beranggapan bahwa Islam harus mulai terbuka pada feminisme, sementara pendapat lain mengatakan bahwa tanpa ada pandangan yang shahih dari Islam, tuntutan perempuan atas “keadilan gender” hanya sekadar akan menjadi sarana kecenderungan politik semata.

Kesalahan utama menurut Mir-Hosseini adalah, kegagalan dari mereka yang berbicara mengenai Islam tetapi tidak mampu membedakan antara Islam sebagai wahyu, Islam sebagai konteks, Islam sebagai nilai, Islam sebagai kepercayaan (faith), sebagai agama (religi), atau bahkan Islam secara fiqh. Menurutnya begitu banyak yang hanya menggunakan interpretasi pribadi. Intepretasi pribadi inilah yang menjadi penyebab praktik budaya patriarki lebih terlihat dibandingkan dengan ajaran Islam dalam memperlakukan perempuan dengan mulia. Karena mayoritas interpretasi tidak melibatkan peran dan pemikiran kaum perempuan secara masif.

Hal ini dapat dikaitkan dengan buku Islamic Feminism: Current Perspective yang membenarkan adanya praktek budaya patriarki di negara-negara Islam. Buku tersebut memaparkan isu-isu perempuan dalam Islam yang menjadi pembahasan hangat sejak 1990, serta banyaknya pihak yang menginterpretasikan Islam sebagai sebuah agama yang tidak ramah pada perempuan, terutama disebabkan oleh begitu banyak kasus kekerasan dan penindasan terhadap perempuan yang justru terjadi di negara-negara berlabel Islam.

Kenyataan yang diperlihatkan oleh berbagai negara mayoritas muslim pada masa kontemporer menujukkan berbagai tindakan patriarki melekat dalam praktek-praktek dan perlakuan terhadap perempuan atas nama agama. Padahal, Al-Qur’an dan Al-Hadits sejatinya telah merangkum segala hukum dan aturan mengenai keadilan gender, keseimbangan peran dan dan pemberdayaan sosial, sehingga mengherankan apabila ditemukan berbagai bentuk ketidakadilan justru di negara-negara yang mengaku menjunjung tinggi hukum Islam dan syariah.

Menanggapi fenomena ini, perjuangan feminisme atas hak-hak perempuan yang dipertanyakan oleh Mir-Hosseini sebelumnya justru kembali ditawarkan sebagai alternatif solusi yang dirasa mampu “menyelamatkan” kaum perempuan dari budaya patriarki di negara-negara dengan mayoritas muslim — setidaknya untuk sementara. Lebih luas lagi, feminisme diharap mampu memberi jawaban bagi persoalan hak asasi manusia.

Namun demikian, diskursus yang ditawarkan oleh TAPRI dalam bukunya mengenai Perspektif Feminisme Masa Kini, mulai memunculkan konsep baru “Islamis Feminis” yang berusaha mengkombinasikan antara Islam dengan feminisme itu sendiri, meski tentu konsep baru ini ditentang oleh berbagai pihak yang merasa Islam dan feminis berada pada sisi yang berseberangan.

Membahas mengenai Islamis Feminis akan berkembang kepada munculnya berbagai definisi yang berbeda. Hal ini pula merupakan tantangan bagi muslim maupun para peneliti bidang ini untuk kembali mengkaji Al-Qur’an dan Al-Hadits untuk memastikan konsep Islamis Feminis tidak bertentangan dari nilai-nilai ajaran Islam.

Meskipun fakta di lapangan tidak lagi bisa dipungkiri bahwa praktek patriarki yang jelas merupakan isu utama bagi feminisme, terjadi dalam masyarakat muslim kontemporer.

Hal menarik yang kemudian dipaparkan oleh buku ini adalah bentuk-bentuk kebijakan politik di beberapa negara Islam terkait dinamika undang-undang dan peraturan syariah yang ditetapkan oleh pemerintah. Bagi sebagian kaum feminis sendiri, banyak aturan syariah yang membatasi ruang gerak dan kebebasan perempuan, seperti kewajiban mengenakan hijab atau kewajiban keluar bersama mahram. Meski demikian, para peneliti dalam buku ini menyebutkan bahwa pembahasan Islam, perempuan dan feminisme sesungguhnya akan jauh lebih mendalam daripada itu, perdebatan antara Islam dan feminisme sampai saat ini belum sampai kepada titik temu.

Meski belum memberikan kesimpulan, buku ini cukup memberikan berbagai diskursus mengenai Islam dan feminisme dan dapat menjadi salah satu referensi untuk memahami konsep Islamis Feminis secara lebih jauh.


Pada perkembangannya, khususnya di Indonesia, konsep Islamis Feminis banyak ditolak oleh aktivis perempuan muslim dengan argumen bahwa Islam tidak membutuhkan feminisme. Wacana argumen lainnya yang sedang ramai dibahas di media sosial adalah Indonesia tidak membutuhkan feminisme. Bahkan dalam konotasi yang cukup kasar, beberapa menganggap mencampur adukkan Islam dan Feminisme sama seperti menghalalkan sesuatu yang haram.

Tidak sedikit kaum perempuan muslim yang juga membenci ide-ide feminisme karena dianggap racun yang merusak tatanan masyarakat muslim, baik secara individual maupun komunal; yakni bahwa feminisme memicu pemberontakan kaum perempuan atas fitrah religiusitasnya hingga mengajarkan kaum perempuan muslim untuk menolak aturan-aturan syari’at dalam berbagai aspek.

Argumennya terang: Islam adalah mabda yang sempurna dan mampu menyelesaikan masalah-masalah yang selama ini menjadi konsentrasi perjuangan feminis. Kelompok ini menentang fakta budaya patriarki yang juga menjangkiti para penganut Islam. Mereka berargumen, patriarki — sebagai isu utama yang dilawan oleh feminisme — lahir akibat kapitalisme dan tidak dikenal dalam Islam. Padahal “patriarki”, “malestream thinking”, “mansplaining” dan budaya superordinasi laki-laki sudah ada dalam sejarah panjang peradaban umat manusia, jauh sebelum kapitalisme dikenal.

Sayangnya, pembahasan tentang teori dan esensi kadangkala mengalami distorsi pada tatanan praktek. Bahkan sekalipun Islam dan Feminisme memiliki relevansi ide, pada parkteknya tentu memiliki perbedaan. Interpretasi keduanya terlalu luas, variatif dan dalam untuk menjadi bahan perdebatan di media sosial. Jauh daripada itu, persoalan ketidakadilan dan kekerasan adalah fakta ironis yang terus terjadi, di tengah perdebatan antara kedua pemikiran ini tiada henti: dan pelakunya boleh jadi juga sedang berada dalam arena perdebatan itu.


Catatan:
Tulisan ini tidak menawarkan kesimpulan melainkan wacana dan gagasan yang umum dan dapat menjadi salah satu referensi baca. Tulisan ini sangat perlu dikritisi kembali, referensi lain dibutuhkan demi ulasan yang lebih komprehensif.

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Hello! Thankyou for visiting our page! Hit me up through Instagram too @gita.prayitno or send me some mails to hellogita@kulawarga.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *