Putuskan Dengan Percaya Pada Diri Jika Kamu Ragu Berkeluarga

Putuskan Dengan Percaya Pada Diri Jika Kamu Ragu Berkeluarga

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Entah bagaimana dan sejak kapan, menikah dan berkeluarga saat ini dianggap sebagai keputusan yang begitu mengerikan. Banyak sekali obrolan, utas, carousel, video yang selalu mewanti-wanti kita untuk siap dulu baru menikah. Siap yang seperti apa? Sayangnya tidak ada jawaban yang baku untuk ini. Di tulisan ini saya ingin ajak kamu untuk merenungkan lagi soal cara kita melihat sebuah keputusan.

Menikah memang keputusan yang besar, tidak bisa dipungkiri karena menikah akan mempengaruhi seluruh aktifitas sehari-hari kita. Jika dulu sendirian, sekarang bersama seseorang yang kita sayangi bersama setiap hari. Bila dulu keputusan hanya dilakukan sendirian, sekarang sesekali perlu dipertimbangkan bersama.

Begitu juga perubahan di keluarga besar. Perhatian kita tidak lagi hanya untuk orang tua dan saudara kandung kita. Tapi juga harus mulai memperhatikan mertua dan saudara-saudara ipar kita. Perhatian dan tanggung jawab semakin besar dan tentu saja kemampuan harus ikut semakin berkembang.

Inilah yang menurut saya membuat banyak orang ketakutan dengan menikah. Apalagi media dan influencer terus menerus memamerkan gaya hidup standar yang tidak semua orang bisa capai. Bukan berarti kita harus merasa kalah dan tidak punya harapan, tapi yang perlu dilakukan adalah kita perlu punya mental yang benar.

Mental dan sindrom impostor

Urusan mental ini panjang sekali ujungnya. Kalau mental ga siap, ingin menunggu menikah sampai paruh baya pun tidak akan pernah siap. Mental adalah kekuatan yang penting bagi manusia. Tapi mental juga aspek yang paling rentan dari manusia.

Pertanyaannya tentu saja bagaimana caranya untuk bisa memaksimalkan kemampuan mental untuk memutuskan keputusan yang penting seperti menikah.

Sebagai informasi, saya bukanlah orang yang punya mental super. Saya hanya orang yang terus berusaha untuk bisa mengembangkan kemampuan mental untuk mencapai apa yang saya dan Kulawarga inginkan. Jangan pernah mengira bahwa saya tidak pernah ketakutan atau gelisah karena masalah di rumah tangga atau pekerjaan.

Bahkan saat menulis tulisan ini, saya masih dalam situasi mental yang kurang fit akibat impostor syndrome yang berkepanjangan. Saya begitu “takut” untuk kembali membuat konten seperti apa yang pernah saya lakukan satu tahun lalu. Akibatnya saya terus menunda-nunda. Padahal tahun lalu saya selalu berkomitmen untuk membuat satu konten setiap hari.

Apa kaitannya impostor sindrom dengan pernikahan? Menurut saya kaitannya adalah ada pada kepercayaan diri kita untuk melangkah menuju menikah.

Sindrom impostor adalah situasi di mana seseorang merasa tidak punya kemampuan karena merasa tidak layak dan sebenarnya tidak punya pengalaman yang cukup. Sindrom ini sering terjadi pada para profesional yang merasa dirinya belum punya kualifikasi cukup, sehingga pencapaian yang dia raih dianggap biasa saja karena ada banyak orang lain yang lebih hebat dari pada dirinya. Sindrom ini berbeda dari merasa rendah diri, karena sindrom impostor terjadi karena kita sebenarnya punya kemampuan namun merasa tidak punya kemampuan.

Sindrom impostor dinilai membuat para orang yang punya kemampuan menjadi buta pada peluang, kesempatan dan prestasi yang sebenarnya bisa mereka dapatkan.

Nah, sama halnya dengan menikah. Saya begitu yakin dengan banyak pemuda sekarang yang punya akses informasi dan ilmu ecara luas. Mereka bisa mengetahui apa saja yang perlu dipelajari, apa saja yang perlu dikembangkan, dan bagaimana mendapatkan uang. Hampir segala sumber daya yang dibutuhkan untuk mencapai kesuksesan bisa terjangkau.

Tapi menariknya, semakin banyak tahu ilmu, kok semakin takut untuk memutuskan keputusan penting seperti menikah? Di sinilah sindrom impostor bermain-main. Akibatnya, seseorang bisa saja merasa belum layak karena belum mencapai capaian yang menurutnya hebat (yang entah hebat itu ada di mana) untuk menjalani hidup berumah tangga.

Padahal ya sudah punya kemampuan dan kapabilitas. Cuma karena tidak percaya dengan kemampuan diri akhirnya ciut dan bersembunyi.

Bagi saya, membuat konten adalah salah satu cara untuk mengatasi sindrom impostor ini. Saya menjadi sedikit lebih percaya diri bahwa saya punya kemampuan dan bisa berbagi kemampuan. Termasuk di kulawarga ini. Meski saya masih begitu sedikit pengalaman tentang berkeluarga, saya akan mencoba berbagi pengalaman yang mungkin akan berguna bagi kamu yang sedang berkeluarga atau yang sedang berencana menikah dan membangun rumah tangga.

Menurut saya kunci dari sindrom impostor sebenarnya ada dua yakni: percaya diri dan komitmen.

Kunci mengambil keputusan

Percaya diri adalah situasi di mana kita bisa mengetahui kemampuan diri. Kemudian mengambil keputusan dengan sepenuh hati. Tentu saja dengan mengetahui konsekuensi dan ekspektasi yang sudah diatur.

Kemudian tentang komitmen bahwa keputusan yang telah kita ambil dengan percaya diri akan terus kita jaga dan bangun dengan sepenuh hati. Bukan komitmen namanya jika kemudian di tengah jalan akhirnya kita bosan dan memutuskan untuk berhenti.

Dalam konteks menikah, ketika seseorang dengan percaya diri memutuskan untuk menikah, dan memulai rumah tangga dengan segala ekspektasi. Lalu ternyata ekspektasi tersebut tidak terpenuhi, akhirnya memilih untuk mengakhiri. Jelas ini bukan keputusan yang diambil dengan komitmen yang baik.

Memang penyebab berakhirnya rumah tangga ada banyak. Tetapi dengan asumsi situasi ekonomi cukup, saya kira masalahnya justru sering terjadi akibat masing-masing tidak punya komitmen yang kuat. Dan komitmen ini membutuhkan kepercayaan diri saat mengambil keputusan dan bukan kepasrahan diri.

Nah, itu mengapa mulailah untuk memutuskan dengan percaya diri. Apakah kamu benar-benar ingin menikah, atau apakah kamu benar-benar belum siap menikah. Jangan sampai kamu ragu maju dan mundur untuk memutuskan keputusan besar yang akhirnya berdampak pada rentetan mental berikutnya yang tidak cuma berbahaya untuk kamu tetapi juga untuk orang di sekitar kamu.

Jadi, kalau ada merasa belum kapabel, putuskan aja segera. Merasa belum punya ilmu, ya cari ilmunya. Buat komitmen. Merasa belum punya harga, ya cari hartanya. Buat komitmen. Ingin menikah meski merasa belum cukup ilmu dan harta, ya putuskan sepenuh hati. Lalu buat komitmen. Dengan begitu, setiap keputusan yang kamu buat sepenuhnya diambil dalam keadaan sadar dan percaya diri.

Mulai sekarang, pastikan kita mengambil keputusan dengan sepenuh hati ya. Percayalah pada keputusan diri. Jangan mengukur diri dengan orang lain.

Semoga bermanfaat.

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Penulis konten yang punya latar belakang pendidikan bisnis. Sempat jadi jurnalis. Kemudian terobsesi dengan buku dan pengetahuan. Impian terbesarnya adalah membuat film dokumenter dan bikin perusahaan yang peduli keberlangsungan alam.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *