Perasaan Asing Tentang Pernikahan

Perasaan Asing Tentang Pernikahan

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Pernikahan selalu jadi hal asing bagiku, sampai hari ketika aku benar-benar menikah. Pernah ada masa aku sama sekali tidak ingin menikah. Pernah ada masa aku membayangkan pesta pernikahan sebagai euforia yang justru kuhindari. Membicarakan tentang merayakan jatuh cinta yang disaksikan banyak orang itu, jauh di dalam benakku, tidak ingin kulakukan.

Tentu bukan karena aku benci laki-laki atau punya trauma tersendiri. Ini juga bukan karena ketakutan tentang biaya. Argumen jangan menikah muda, menikah harus mapan, menikah itu mahal, apalagi soal gaji tidak cukup, tidak pernah ada di kepalaku. Aku hanya risih menyaksikan dua kutub: antara sparkle merah jambu yang selalu digembar-gemborkan para pasangan dan ancaman asumtif tentang mengerikannya berumah tangga di kalangan muda (terutama yang seusiaku). Bisa jadi, ini pun perspektif sempitku sendiri.

Di kepalaku, pernikahan justru tentang hal-hal yang disembunyikan dalam-dalam. Seperti ikan paus raksasa yang berenang di lautan atau mutiara di dasar samudera, sesuatu yang ajaib tapi hening. Pasalnya, menemukan ketentraman seperti itu sulit sekali saat sekitarmu lebih suka memuja gemerlap.

Beberapa waktu sebelum aku akhirnya bersepakat untuk menikah, mungkin aku masih dikenal sebagai orang yang suka main-main. Tapi daripada itu, aku hanya tidak menemukan frekuensi kuat yang mengarahkanku untuk yakin menikah. Aku pernah dekat dengan beberapa laki-laki, tapi ada saja masalah yang terjadi. Apalagi kalau aku merasa mereka memang tidak memenuhi ‘standar’ ku secara karakter dan intelejensi. Tidak sekali dua kali aku dicap sebagai perempuan yang jahat, senang memanfaatkan laki-laki di sekitarku, egois, tidak punya perasaan, bahkan materialistis. Waktu itu, mendengar ada yang membenciku rasanya lumayan menyakitkan. Seringnya memang kita merasa paling tahu tentang keburukan orang lain, tapi buta untuk melihat perilaku diri sendiri.

Kadang aku berpikir, pernikahanku memang seperti kehendak Tuhan. Dia seakan melakukan ‘program pembersihan’ tepat di masa menjelang aku akan menikah. Semacam filterisasi, semua yang kukira baik bagiku justru tampak buruknya. Semua potensi malapetaka di masa depan, sekejap tertinggalkan. Kehidupanku yang dulu seketika hilang. Tiba-tiba aku sendirian, dan di sana, orang yang tidak pernah kuduga datang.

Laki-laki satu ini tidak main-main. Kasarnya, dia memang juga agak gila. Dia baik, hanya sedikit gila.

Coba bayangkan, ini cerita lama tapi dia dulu punya pacar dan mereka hampir menikah. Perempuan itu juga tidak suka padaku (tentu saja!). Dia berupaya membujuk orangtuanya untuk menerima pacarnya itu, tapi tetap gagal. Hubungan mereka kandas. Di saat yang sama, dia mengundurkan diri dari pekerjaannya. Lalu tak lama, dia bilang ingin serius mengajakku menikah (kalau aku berkenan, katanya, dia tidak memaksa).

Gila kan?

Kukira juga, ajakannya itu punya tenggat waktu lama. Ternyata, beberapa minggu setelahnya, ibunya datang langsung mengajak bertemu. Ambyar. Dia serius. Laki-laki yang bicara langsung pada ibunya dan meminta izin untuk menikah tanpa banyak memberi janji pada seorang perempuan, itu pasti serius.

Di lantai lima apartemen mewah di bilangan Salemba Raya, aku bertemu ibunya. Cantik, anggun luar biasa. Kami bicara tentang kesibukan, pekerjaan, dan beberapa rencana kecil masa depan. Masih belum soal pernikahan.

Kukira hanya akan sampai di sana. Tapi ternyata hari berikutnya beliau kembali mengajak bertemu. Kali ini kami duduk berdua di sofa, di tepi kolam renang atas gedung. Dan kali ini, beliau yang bercerita: tentang puteranya, tentang mantan kekasih puteranya, tentang rumah tangganya, keluarganya, keputusannya soal meninggalkan posisi mapan di sebuah bank, hingga yang sampai hari ini tidak aku lupakan: poligami (mungkin akan kuceritakan lain kali)

“Apakah keluarga Gita berkenan menerima kondisi keluarga kami?” tanya ibunya. Aku bukan puteri raja yang sedang dilamar. Tapi saat itulah aku merasa, barangkali, pernikahan tidak lagi akan jadi asing untukku.

Aku sadar betul aku akan menikah dengan seorang manusia. Seseorang yang —sama sepertiku— masih banyak belajar. Dia manusia yang bebas, dia tidak tumbuh dengan mantra sesuai yang kuinginkan. Jadi pasti ada satu atau dua bagian dari diri kami berdua yang kelak akan siap berdebat.

Tiba-tiba saja waktu melesat sangat cepat. Waktu dia datang menemui orangtuaku, lalu aku ditanya apakah siap menerima lamarannya, aku tidak menjawab. Aku diam saja. Tapi jiwaku bilang “iya”. Kurasa, kalau hari itu aku bersuara, yang muncul malah akan air mata. Aku tidak sedih. Hanya sulit percaya bahwa aku benar-benar akan menikah.

Tidak sampai tiga bulan dari hari lamaran, akad diucapkan. Sepenuhnya bagiku, perayaan itu adalah milik orangtua. Pernikahanku adalah bagian yang heningnya, keramaiannya adalah untuk orangtuaku dan tamu-tamu mereka.

Kuserahkan semuanya sesuai keinginan kedua orangtuaku. Gaun pernikahan yang putih susu lengkap dengan khimar panjangnya, tamu yang terpisah antara laki-laki dan perempuan, pelaminan yang terpisah antara aku dan suamiku, pilihan menu makanan yang orangtuaku suka, hiburan hadrah dari para santri dan tamu-tamu dari yayasan yatim, warna nuansa pernikahan yang orangtuaku suka, tata panggung yang alami sesuai keinginan mereka juga.

Pernikahanku bukan euforia. Aku tidak menyebarkan undangannya di media sosial. Tidak ada hastag di media sosial. Tidak ada pula pre-wedding. Sekalipun ada yang kuinginkan, adalah sebisa mungkin acara itu juga baik untuk lingkungan dan tidak perlu mahal. Undangan pernikahan tanpa plastik, suvenir berguna tanpa plastik, alat-alat prasmanan tanpa styrofoam sekali pakai, dekorasi tanaman yang hidup dan tidak dibuang setelahnya, juga busana pernikahan yang kelak bisa digunakan kembali.

Perayaan pernikahanku selanjutnya adalah hari-hari bersama laki-laki itu sebagai suamiku. Bangun tidur, membersihkan rumah, memasak, mencuci baju, berbelanja kebutuhan rumah tangga, bekerja di depan laptop masing-masing, berpelukan saat lelah, ciuman tiba-tiba di pipi, kadang kami juga saling mengomel sambil tertawa, berebut selimut saat tidur atau saat tiba-tiba di kamar kami banyak nyamuk, dan pesan singkat jarak jauh saat kami berkali-kali harus terpisah jarak.

Pernikahan ternyata tidak lagi terasa asing. Tidak ada tuntutan untuk berbagi foto di sosial media supaya terlihat mesra. Tidak ada rasa takut menghadapi dunia yang makin tidak waras. Di sebuah rumah kecil di Surabaya, dalam perjalanan kereta, atau di negara yang berbeda, kasih sayang dalam pernikahan ini akan selalu cukup dan tidak perlu euforia.

Sisanya adalah pertanggungjawaban berat. Tapi sekali lagi, saat perasaan asing tentang pernikahan itu hilang, kami yakin perjalanan ini akan jadi luar biasa dan semoga sampai tua.

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Hello! Thankyou for visiting our page! Hit me up through Instagram too @gita.prayitno or send me some mails to hellogita@kulawarga.id

One comment

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *