Pengalaman Bedah Plastik Ringan di RS. Manyar Medical Center

Pengalaman Bedah Plastik Ringan di RS. Manyar Medical Center

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Alohaa… Apa kabarmu di tengah terpaan pandemi yang belum juga usai ini? Semoga sesulit apapun kondisinya, tetap ada cercah syukur dan bahagia yang membuat hati kita sedikit lapang, ya…

Nah, kali ini aku mau cerita tentang pengalamanku untuk pertama kalinya memberanikan diri mengunjungi dokter bedah plastik. Tepatnya di rumah sakit Manyar Medical Center, Surabaya. Keputusan datang ke dokter bedah plastik bukan tanpa alasan. Justru sebenarnya sudah lama ada hal mengganjal yang semestinya membuatku datang ke sini sejak lama.

Di tulisan ini, aku akan menceritakan dari penyebab aku sampai datang ke “bedah plastik”, seperti apa pelayanan RS Manyar Medical Center dan berapa kisaran biaya perawatannya.

Bermula Dari Jerawat di Pipi

Singkat cerita, di pipi kananku bersemayam sebuah jerawat batu besar yang usianya sudah menahun. Awal mulanya terjadi tahun 2013, karena terpapar polusi akibat aktivitas lapangan. Mungkin juga aku tidak membersihkan wajah dengan benar, jadilah di pipi kananku muncul sebongkah jerawat. Awal mulanya sih kecil, biasa banget. Tapi karena lagi-lagi aku “bodo amatan” dan berpikir “ah nanti juga hilang”, aku tidak memeriksakan jerawat tersebut.

Lama-lama jerawat yang tadinya kecil itu semakin besar dan meradang parah. Benar-benar parah sampai membengkak, warnanya membiru dan aku jadi sulit membuka mata. Separuh wajahku bengkak seperti habis dipukuli. Waktu itu aku takut sekali, tapi aku benar-benar minim informasi harus bagaimana. Aku memutuskan datang ke klinik kampus, diberi obat salep, sampai si jerawat meradang pecah sendiri. Tapi masalah tidak berhenti di situ.

Setelah ia pecah sendiri, aku membersihkan sekenanya. Waktu itu memang rasanya kulit di pipiku seperti kantung kosong yang isinya habis keluar. Menggantung dan kendur. Yang lama-kelamaan, karena aku juga bodoh sekali tidak segera menyelesaikan masalah ini dengan penanganan yang tepat, jadilah bentuk di pipiku seperti ada kulit yang menebal. Sama sekali tidak bisa kembali mulus seperti sedia kala. Menonjol, ada bolongan di tengahnya, dengan tekstur yang berantakan. Tentu saja nggak bisa ditutupi dengan make-up setebal apapun.

Foto Tepat Sebelum Tindakan: Radangnya sudah mereda

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Aku mencoba berbagai perawatan, akupunktur, sampai terapi lintah (ya ampun!). Tapi kondisi bekas jerawat di pipiku masih tidak berubah. Insecure, sih, kadang-kadang. Tapi aku belum merasa masalahnya sangat urgent, sampai kemudian satu bulan yang lalu (Juli 2020) masalah baru muncul. Di dekat bekas yang menonjol dulu itu, muncul dua jerawat baru yang hampir sama besarnya. Kali ini, aku sampai demam.

Kali ini aku tidak bisa berpikir ini jerawat biasa. Kurasa posisinya cukup dalam di bawah epidermis. Dan dia membesar. Artinya dia meradang. Pipiku kembali meradang, kali ini dengan dua jerawat aktif. Aku khawatir kejadian di 2013 akan berulang di 2020.

Aku juga jadi ingat, siapa ya yang pernah bilang dulu, bahwa yang sebelumnya kukira bekas lama dari kulit yang menebal, sebenarnya adalah jaringan mati yang kalau bisa memang perlu dibedah. Inilah awal mula aku memutuskan berani ambil tindakan pembedahan dengan benar, sampai kemudian aku datang ke RS Manyar Medical Center.

Memilih Dokter Bedah di RS Manyar Medical Center

Sebelumnya ke RS Manyar, pada 29 Agustus 2020 aku lebih dahulu menghubungi Hayyu Syar’i, klinik kecantikan di Surabaya untuk appointment konsultasi langsung dengan dokter spesialis kulit di sana. Aku memilih klinik kecantikan karena menurutku ini adalah akses pertama yang bisa aku kunjungi sebelum aku datang ke rumah sakit mencari dokter bedah. Kebetulan juga, konsultasi dokter kulit di Hayyu Syar’i tidak berbiaya alias gratis. Lain kali aku juga akan menulis review soal Klinik Hayyu, ya.

Aku datang ke Hayyu pukul 4 sore, bertemu seorang dokter perempuan dengan APD lengkap. Cek-cek di sana, ibu dokter menjawab pertanyaanku sesuai dugaan “Ini harus melalui tindakan pembedahan, karena bekas lama sudah menjadi jaringan. Saran saya, carilah dokter bedah, bedah plastik lebih baik,” ujarnya sambil memberikan beberapa referensi.

Saran dokter kulit dari Hayyu aku jadikan pegangan untuk berani datang ke rumah sakit. Karena berbagai kesibukan, dan setelah mencari banyak referensi untuk bedah plastik, akhirnya tanggal 30 September 2020 aku memutuskan datang ke RS Manyar Medical Center. Rumah sakit ini sebelumnya dikenal sebagai rumah sakit spesialis bedah di Surabaya. Dari bedah cantengan jempol kaki sampai bedah jantung, rekonstruksi bedah plastik, bedah leher dan kepalapun ada. Semua dokternya adalah dokter spesialis bedah.

Di RS Manyar Madical Center, aku melakukan pendaftaran di resepsionis pukul 1 siang, ini karena sebelumnya aku tidak tahu bagaimana jadwal dokter di sana. Beruntung, di hari itu dokter bedah plastik ada dan akan praktek pukul 4 sore.

Resepsionis di bagian pendaftaran awalnya menyarankan aku ke dokter bedah umum saja kalau mau lebih cepat, karena dokter bedah umum sedang ada di poli pukul 1 siang itu. Tapi aku benar-benar minta tolong dibuatkan janji dengan dokter bedah plastik, apalagi setelah melihat bentuk “luka” di pipiku. Meski kasus ringan, tapi aku membutuhkan rekonstruksi bedah. Nah, bagian pendaftaran mengizinkan dan aku diminta kembali nanti pukul 4 sore.

Pukul 4, aku dipanggil masuk ke poli bedah plastik. Tidak lupa patuh protokol kesehatan, sanitasi lengkap dan cek suhu tubuh. Suhu tubuhku 37.4°C, iya aku demam. Hampir saja aku disuruh rapid test duluan. Kabar baiknya, rumah sakit bedah ini bukam rujukan Covid-19, jadi situasinya memang lebih sepi, kondusif dan aman sesuai protokol kesehatan.

Di sana aku bertemu dengan dr. Agus Santoso Budi. Seorang dokter senior yang chill abis. Konsultasi pertama ini dokter Agus memeriksa pipiku dengan seksama. Dokter Agus memintaku tersenyum, lalu bertanya apa aku punya keluhan saat tersenyum. Aku bilang, sepertinya tidak ada. Kecuali aku merasa senyumku tidak simetris dan kadang mata jadi kecil sebelah saat tersenyum.

Dokter Agus juga menyentuh bagian bengkak di pipi. Aku bercerita sebelumnya aku sudah konsultasi dengan dokter kulit dan kabarnya di dalam pipiku sudan menjadi jaringan. Dokter Agus bilang, sepertinya ada kista di dalam pipiku yang mempengaruhi tekanan otot wajah saat tersenyum. Ini yang membuat senyumku tidak simetris.

Dokter tidak bisa mengambil tindakan bila kondisi luka masih meradang. Karena kemungkinan sayatan akan lebih besar dan berisiko infeksi lebih tinggi. Akhirnya hari pertama aku cek ke dokter ini hanya diperiksa saja, lalu aku diberi antibiotik sporetik untuk konsumsi selama satu minggu, dan diminta kembali di minggu berikutnya untuk tindakan operasi.

Seminggu kemudian, sesuai janji, kembalilah aku tanggal 8 Oktober 2020 pukul 4 sore. Aku baru merasa takut di operasi setelah sampai di rumah sakit dan menunggu. Kami membeli roti dan minuman sari kacang hijau untuk menenangkan batin. Aku khawatir bagaimana perubahannya nanti, apakah bekasnya akan hilang, seperti apa bentuk jaringan yang nanti dioperasi dan semacamnya. Untungnya, Bagus diizinkan masuk ke poli operasi untuk menemani. Walaupun sepanjang waktu operasi, suamiku ini justru scrolling timeline di tempat duduknya. Bhaaiiqq.

Aku naik ke brankar operasi. Kakiku diselimuti oleh nurse dan bagian betis bawahnya diletakkan semacam plat logam yang dingin. Katanya itu mencegahku tidak tersetrum selama proses operasi yang ternyata menggunakan alat pemotong seperti laser listrik.

Wajahku ditutup dengan kain yang hanya bolong di bagian yang akan di operasi saja. Bantal dialasi dengan semacam perlak, mencegah apabila ada pendarahanan. Lalu dokter Agus kembali memintaku berekspresi: tersenyum, cemberut, wajah datar, tertawa. Lalu beliau menggambar siluet siluet rekonstruksi bedah di pipiku.

Suntikan bius pertama dilakukan. Buatku sih nggak sakit. Jauh lebih sakit saat patah kaki. Aku mendapat suntikan bius beberapa kali. Mungkin enam kali? Delapan kali? Kalau tidak salah sih habis dua botol obat bius lokal. Aku juga bisa merasakan saat pisau bedah mulai membelah kulit pipi, meski tidak bisa kulihat dengan mata.

Selama proses bedah, aku cuma bisa berdzikir. Serius agak ngeri juga. Bukan takut dokter Agus salah potong, aku percaya padanya. Aku cuma takut tiba tiba kakiku gatal, terus nggak sengaja aku angkat dari plat yang menempel di betis tadi, lalu aku tersetrum. Kan nggak lucu.

Ketika dibedah, dugaan dokter Agus benar. Ternyata rongganya dalam sekali dan lebar. Di dalam sana ada pecahan jaringan yang sudah berantakan, sehingga tidak bisa sekali angkat. Dokter Agus memutuskan proses kuret. Jaringan yang berantakan diangkat, beberapa daging kecil (?) mungkin diangkat, dan semua sisa sisa lemak jahat juga diangkat. Aku dengar dokter Agus bicara pada dua nurse asistennya, “Lihat, lemak di pipi bisa sebanyak ini”. Aku penasaran seberapa banyak itu.

Rasanya dikuret di pipi itu geli-geli sedap. Apalagi karena posisinya dekat dengan tulang pipi dan otot wajah yang mempengaruhi ekspresi. Seperti dasar wadah eskrim yang dikerok. “Kruukk kruukk srookk” gitu. Ngilu-ngilu lucu.

Selesai proses kuret, ternyata ada jaringan mengeras yang juga perlu diangkat. Ini dia kistanya. Si impostor utama. Pisau dan gunting bedah tidak mempan, sobat. Di sinilah peran laser pemotong listrik tadi bekerja. Apa ya.. Aku lupa tanya nama alatnya. Yang pasti rasanya seperti daging sate disayat. Panas yang tepiannya langsung terpotong dan kering. “Crrrssshhh” begitu suaranya. Dalam hatiku cuma bisa “asdfghjkl” begitu.

Sebagian Kecil Cyst yang Diangkat.
Lainnya masih banyak. Sengaja di greyscale supaya agak tersensor ya..

Proses operasi sebelah pipi ini memakan waktu 1 jam 15 menit. Waktu yang cukup lama untuk sekadar “operasi jerawat”. Ini karena dokter Agus hati-hati sekali, soalnya jaringan yang mengkista di pipiku itu posisinya sudah dekat sekali dengan otot wajah. Salah sedikit saja, kena otot, bisa-bisa aku tidak lagi bisa berekspresi saat tersenyum seumur hidup. “Alhamdulillah berhasil… Kalau dibiarkan kamu bisa kehilangan ekspresi saat senyum.” ujar dokter Agus saat selesai proses operasi dan masuk ke proses jahit.

Proses jahitpun punya perjuangannya sendiri. Karena lukanya luas, banyak daging dan kulit yang dibuang, jarak antar lubang jahit di pipiku jadi lebar, sampai 1cm dengan panjang sekitar 4.5cm. Dokter Agus bilang ini pakai benang jahit yang harus di lepas. Karena kalau pakai benang tanam yang tidak dilepas, justru bekasnya bisa lebih menebal dan sulit hilang. Bekas jahitan operasipun tidak ditutup perban. Supaya cepat kering dan tidak basah atau lembab. Wajah ini sensitif. Karena sensitif, wajah bisa mudah luka, mudah infeksi, tapi juga mudah menyembuhkan jaringannya sendiri. Jadi, hasil dari operasi ini nantinya juga adalah kemampuan tubuhku menyembuhkan jaringannya sendiri.

Aku antara senang dan masih ada rasa khawatir sih. Apalagi melihat bekas luka pasca operasi saat itu. Besar sekali dan berdarah. Yah namanya juga jaringan hidup dijahit. Justru proses jahit lebih sakit dari proses bedah. Karena yang dibedah adalah jaringan mati dan yang dijahit adalah jaringan hidup yang syarafnya lebih aktif. Aku benar-benar penasaran hasilnya bagaimana.

Satu minggu pasca operasi jahitan akan dibuka. Setelahnya pemulihan dan treatment ekstra agar bekas pasca operasi memudar maksimal. Sambil menunggu lepas jahitan, dokter meresepkan antibiotik minum dan salep khusus. Aku masih diperbolehkan cuci muka dengan air mengalir, langsung keringkan setelahnya, dan oleskan salep setiap habis wudhu.

Uniknya dokter Agus membiarkan jahitan berjarak tidak terlalu rapat dan tidak terlalu kencang. Supaya kulitku berusaha menyembuhkan dirinya sendiri dan bukan “dipaksa” oleh benang jahit. Supaya ketika nanti lepas jahitan juga, bekas jahitannya tidak terlalu rapat atau kencang, sehingga semoga saja, bekasnya lebih cepat memudar.

Update: Kondisi H+3 Tindakan vs Foto Januari 2021. Perbaikannya halus sekali.

Biaya Bedah Plastik Ringan

Selama proses pemeriksaan, tindakan hingga lepas jahitan, biaya yang dihabisan kira-kira sebagai berikut:

  • Pendaftaran: Rp 50.000
  • Jasa Dokter: Rp. 250.000 / satu pertemuan (aku melakukan 3 pertemuan)
  • Biaya Tindakan Bedah: Rp. 1.500.000 (kisaran ini, rinciannya aku lupa)
  • Biaya Antibiotik Sporetik: Rp. 400.000
  • Biaya Alat Medis / Obat Tindakan: Rp. 500.000 (kisaran ini, tergantung pemakaian saat tindakan)
  • Biaya Obat lain-lain: Rp. 50.000

Biaya tersebut bisa dicover asuransi atau BPJS jika ada. Kita juga bisa minta diresepkan obat generik, supaya biaya obat atau antibiotiknya tidak terlalu mahal. Saranku, datanglah saat kondisi yang mau dibedah sedang tidak radang ya, supaya bisa langsung tindakan, menghemat biaya konsultasi.

Rumah sakit Manyar Medical Center sendiri, meski mungkin tidak mengklaim diri, menurutku bernuansa seperti rumah sakit islami. Semua perawat, kasir, farmasi, dan instalasi gizinya berjilbab. Untukku rumah sakit ini nyaman sekali, tenaga medisnya amah, lokasi dekat dengan rumah, pembiayaannya terjangkau (aku tidak menggunakan asuransi). Meskipun memang di sini gedungnya kecil, jadi untuk kebutuhan tindakan medis besar, mungkin perlu dirujuk ke rumah sakit lain.

Di pengalaman pertamaku tentang bedah plastik ini, aku belajar bahwa dokter bedah plastik punya ilmu “rekonstruksi”, untuk mengubah kondisi abnormal kembali ke kondisi normal untuk beraktivitas. Seperti saat membedah pipiku, dokter Agus memperkirakan bagaimana aku akan berekspresi setelah operasi. Sudah sesuaikah, atau masih ada posisi atau letak yang mengganjal.

Aku pun sejauh ini bersyukur operasi bisa dilakukan dengan tujuan kesehatan. Kalau dibiarkan seperti dulu, yang aku khawatirkan bukan penampilan, tetapi kondisi jaringan di dalam kulit yang kita tidak tahu bagaimana berkembangknya. Bisa-bisa justru bahaya kan. Kalau soal bekas luka di wajah, hmm… Tentu aku kepikiran, tapi ya nggak apa-apa. Menurutku bekas luka adalah sejarah. Tubuhku punya banyak sejarah. Akan jadi pengalaman, riwayat dan pelajaran bagi banyak orang.

Untuk kamu yang membaca sampai di sini, semoga segala yang ada pada diri dan tubuhmu selalu sehat dan indah sebagaimana Tuhan menciptakan. Tubuh adalah amanah. Rawat ia, jaga ia yang telah dititipkan menemanimu hidup di dunia saat ini. Oh iya, dan jangan anggap remeh jerawat! Hehe.

Cheers! — Gita.

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Hello! Thankyou for visiting our page! Hit me up through Instagram too @gita.prayitno or send me some mails to roadiastutyputri@gmail.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *