Pemilik Punggung Dari Balik Pintu Kaca

Pemilik Punggung Dari Balik Pintu Kaca

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Hari itu, sebuah invitasi pertemanan muncul di beranda media sosialku. Seperti puluhan invitasi lainnya, aku menerimanya tanpa ekspektasi. Invitasi itu datang darinya.

Media sosial memang tempat kita bisa menjadi apa saja dan bertemu siapa saja. Kita bisa memiliki akun sebanyak apapun yang kita mau atau bahkan berpura-pura menjadi orang lain. Kita tidak pernah benar-benar tahu ada (si)apa di balik sebuah avatar. Sama seperti aku tidak pernah tahu siapa dan bagaimana kehidupannya.

Beberapa waktu kemudian, dia menyapaku sama seperti dia menyapa semua orang yang lain. Aku bukan tipikal yang cepat membalas pesan, apalagi kepada yang bukan lingkaran terdekat. Dan seperti itulah komunikasi kami terjalin. Tidak ada tukar nomor ponsel, tidak ada pertanyaan personal. Selain menurutku wawasannya menarik, dia sama sekali tidak spesial.

Tapi ternyata, jalan ceritanya berkata lain. Dia bilang dia akan berkunjung ke Jakarta untuk sebuah perjalanan kerja. Katanya, bila aku luang dan berkenan, mungkin kami bisa bertemu.

By the way, tentu saja keberadaannya dan rencana pertemuan pertama kami itu bukan rahasia. Teman-temanku saat itu tahu aku punya teman baru dari kota yang lain. Teman-temanku juga tahu aku dan teman baruku akan bertemu, maka karena aku tidak ingin bertemu hanya berdua dengan lelaki asing, aku datang mengajak sahabatku yang lain.

Aku dan sahabatku datang lebih dulu, memilih lokasi seadanya, lalu menunggu sembari melanjutkan pekerjaan kami. Sahabatku ini, aku yakin dia kelak bisa berteman dengan si teman baru. Mengenalkan teman dengan teman lainnya adalah hal yang selalu kulakukan, tentu saja aku ingin mereka berkenalan.

Dia terlambat hampir satu jam (atau lebih). Aku masih ingat betul kali pertama punggungnya menyembul dari balik pintu kaca. Jaket hitam yang lusuh, kemeja merah marun yang kusut kerahnya, celana jeans biru yang kusam, kacamata dan ransel hitam yang sebelah talinya diselempang di pundak kanan, juga aroma parfumnya yang sampai saat ini tidak berubah.

Punggung itu menghentikan waktu sejenak. Ada sesuatu yang aku tidak tahu apa namanya, tapi seakan berbicara padaku, “hey, selamat bertemu”.

Kalimat berikutnya adalah ia meminta maaf atas keterlambatan dan menceritakan moda transportasi yang menemaninya dalam kemacetan Jakarta.

Obrolan kami berlanjut, pertanyaan yang sangat umum, lalu mulai membahas tentang isu-isu sosial dan seni yang kemudian oleh sahabatku langsung dituliskan dan diunggah ke media sosialnya. Tak dinyana, unggahan itu memicu keributan yang sebenarnya sangat personal. Sialnya, teman baruku yang asing ini terlibat.

“Menurutku, kamu nggak perlu melakukan sesuatu yang terus-menerus hanya untuk membahagiakan orang lain, atau membuat orang lain tidak marah. Ada kalanya kebahagiaan diri sendiri itu lebih penting dari pada membahagiakan orang lain,” katanya

Waktu itu aku berpikir, barangkali ada yang salah dan dia ada benarnya. Mungkin ada yang harus kuubah dari caraku yang sering berkata ‘iya’ untuk memenuhi keinginan orang lain (yang sebenarnya membuatku tertekan). Atau aku yang tak suka membela diri bila ada yang mempersalahkanku atau membicarakan hal-hal buruk tentangku. Kata-katanya menamparku. Dia sedang mengajakku untuk berani menjadi sedikit lebih egois untuk menentukan langkah sendiri.

Cerita malam itu ternyata cukup panjang. Dia kemudian memberiku sebuah buku berjudul “Take and Give” karya Adam Grant. Katanya, memberi buku adalah ritual perkenalan untuk teman yang baru.

Kami memilih berjalan kaki hingga pintu masuk stasiun kereta untuk pulang. Saat itu sahabatku bertanya bagaimana kesan pertemuan pertama kami bertiga. Aku lupa bagaimana kesannya terhadapku, tapi ketika ia bertanya padaku yang berjalan tepat di belakang punggungnya malam itu, kubilang padanya, “Kamu orang yang hangat.”

Entah seperti apa kehidupannya di kota yang jauh sana, aku tidak pernah tahu dan tidak juga ingin bertanya. Entah pula seperti apa dirinya di mata orang lain; dinginkah, kakukah, menyebalkankah… tapi yang kutahu, ada percik api yang hangat di dalam diri pemilik punggung di hadapanku itu.

“Terima kasih pertemuan malam ini, kukira kau tidak mau menerima ajakanku untuk bertemu,” katanya.

“Tentu saja aku senang bertemu teman baru. Aku suka bertemu orang-orang baru, denganmu juga sama,” balasku.

“Oh iya, boleh kita bertukar nomor ponsel sekarang?” tanyanya agak ragu.

“Sudah boleh.”

Bagaimana bisa aku melihatnya berbeda? Aku juga tidak tahu. Tapi cerita selanjutnya membuktikan bahwa penilaian itu tidak salah.

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Hello! Thankyou for visiting our page! Hit me up through Instagram too @gita.prayitno or send me some mails to hellogita@kulawarga.id

One comment

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *