Ngerinya Mengalami Burnout

Ngerinya Mengalami Burnout

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

woman in black hijab smiling

Merasa tidak semangat, kehilangan keinginan dan hanya ingin rebahan sepanjang hari? Sebagian besar orang mungkin menganggapnya sebagai kemalasan. Tapi bagaimana jika itu terjadi pada sesuatu yang dulu pernah kita cintai kemudian menjadi sesuatu yang memuakkan. Inilah yang saya alami selama dua bulan terakhir. Akibatnya, kualitas hidup saya anjlok dan kehidupan terancam. Inilah pengalaman saya mengalami burnout terburuk.

Saya tidak pernah menyangka bahwa dalam perjalanan karir saya sebagai penulis, content strategist atau entrepreneur termasuk sebagai seorang bapak membuat saya perlahan-lahan kehilangan pegangan atas semangat hidup. Satu hal yang saya ingat di hari terakhir saya masih produktif secara profesional adalah, saya mulai menghindari membuka whatsapp pekerjaan.

Awalnya hanya satu hari penuh. Lalu kemudian besoknya, lusa, tulat, lalu tidak terasa satu bulan berlalu tanpa melakukan apa-apa. Padahal biasanya, saya bisa menghasilkan ribuan kata untuk sebuah artikel harian atau belasan konten dalam satu hari. Keinginan untuk melakukan itu semua, tiba-tiba sirna dan saya lebih kemudian menjadi fokus dengan segala hal yang ada di depan mata. Mulai mengurangi interaksi dengan orang-orang baru, termasuk klien dan rekan kerja.

Tidak ada lagi update media sosial, tidak ada lagi interaksi online yang signifikan kecuali untuk mencari hiburan dan mungkin pelarian. Selama proses ini satu-satunya media sosial yang saya masih berusaha pegang dan aktif adalah Twitter. Dan karena Twitter pula, saya merasa masih mendapat pegangan semangat untuk kembali berdiri.

Semua perubahan dan hidup tidak produktif ini jelas tidak sehat. Tidak ada pekerjaan sama sekali, tidak ada pemasukan dan tentu saja keluarga jadi taruhan. Hingga tulisan ini ditulis, isi rekening masih dalam kondisi kritis yang tidak cukup untuk kami bulan depan.

Apa yang sebenarnya terjadi? Saya jelas tidak bermalas-malasan. Di rumah, saya aktif untuk membantu istri dan mengasuh anak yang masih bayi. Tapi ketika saya sekadar memikir atau ingin membuka laptop dan bekerja, kepala terasa berat dan pusing. Tanda sedang mengalami stres. Saya lalu mencoba untuk melakukan sesuatu yang saya sukai di luar pekerjaan. Menulis bukan untuk klien atau bisnis yang sedang saya kelola, hal yang sama juga terjadi. Jelas ini lebih dari sekadar stres.

Saya lalu berkesimpulan, saya mengalami burnout. Sebuah kondisi kepayahan mental yang terjadi akibat aktifitas yang selama ini saya lakukan baik di rumah atau di pekerjaan.

Sebagai informasi, stres adalah hal yang biasa dalam pekerjaan atau di rumah tangga. Dan sebenarnya kita punya cara masing-masing untuk mengatasinya. Sepanjang karir dan usia saya, situasi yang mirip pernah terjadi setidaknya tiga kali. Namun tahun ini adalah yang paling parah. Tahun lalu, saat pandemi, saya mengalaminya, juga di bulan Ramadan. Tapi saat itu, saya masih aktif bekerja dengan klien.

Kali ini, bedanya, adalah saya sejak awal tahun belum mendapatkan pekerjaan yang dibutuhkan untuk bertahan hidup. Sebagai freelancer, dan solopreneur tentu aktifitas pemasaran dan mencari klien terus dilakukan. Inilah yang kemudian menjadi sumber utama beban mental. Sebab, setidaknya ada tiga Brand yang saya perlu kelola secara pribadi tanpa tim. Seluruh proses kreatif dan strategis dilakukan sendiri dengan hasil yang tidak juga terlihat. Jelas membuat frustasi.

Bahkan ketika saya mendapat job sampingan, saya merasa beban mental makin menjadi. Padahal, jika saya mampu profesional, saya bisa selesaikan pekerjaan itu dengan cepat, uang didapat dan pikiran lega. Nyatanya, tidak. Burnout membuat saya mengabaikan semuanya.

Melihat dampaknya yang begitu besar, saya kemudian memutuskan untuk mencari tahu apa itu burnout sebenarnya, dan bagaimana menanganinya. Dan apakah saya perlu bantuan untuk menyelesaikannya. Sayangnya, di literatur berbahasa Indonesia saya merasa tidak ada cukup informasi tentang kondisi ini kecuali artikel-artikel populer yang ditulis oleh para penulis lepas yang setengah hati.

Kamu bisa lihat, hasil pencarian tentang burnout di Indonesia kebanyakan ada di media-media arus utama dan sedikit yang ada di situs kesehatan. Inilah yang kemudian memotivasi saya untuk kembali menulis, melakukan riset dan melengkapi apa yang saya alami dengan literatur yang ada. Melangkah kecil seperti ini rasanya akan bisa mengembalikan semangat yang hilang dan sentuhan yang memudar akibat burnout.

Jadi, apa itu sebenarnya burnout?

Memahami burnout

Burn out secara jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, artinya adalah terbakar habis. Tapi dalam konteks medis kesehatan mental, istilah ini merujuk pada kondisi psikologis seseorang yang kehilangan semangat untuk melanjutkan apa yang seharusnya dia selesaikan. Tanda yang paling kentara adalah merasa kelelahan secara emosi kemudian diikuti kelelahan fisik.

Pengertian burnout menurut para psikolog dan peneliti

Salah satu psikolog yang cukup awal membahas tentang kondisi ini adalah Herbert Freudenberger dalam jurnalnya yang menyoroti tentang burnout di kalangan para pekerja tahun 1974. Herbert kemudian membahas kondisi ini dengan lebih detil di bukunya Burnout: The High Cost of high Achievement yang terbit terbit tahun 1980. Herbert menjelaskan bahwa burnout setidaknya bisa dimaknai sebagai hilangnya motivasi atau insentif, ketika seseorang terlalu berkomitmen pada sebuah aktifitas atau hubungan yang gagal untuk memberikan hasil yang diinginkan.

Penjelasan Herbert mungkin membuat kita tercengan, terlalu berkomitmen kok malah burnout? Bagaimana mungkin? Nyatanya Herbert menemukan hal demikian. Menurutnya, mereka yang mengalami burnout adalah mereka yang bekerja sangat intens, berdedikasi, sehingga bekerja terlalu lama kemudian memandang kebutuhan pribadinya tidak terlalu penting. Penjelasan ini, bagi saya sangat masuk akal, karena saya pun mengalaminya.

Kemudian di tahun 1991, Barry Farber mengamati kondisi burnout dikalangan para guru. Dari pengamatannya ini, Farber menghasilkan tiga jenis kondisi seseorang yang mengalami burnout:

Gambar dikutip dari artikel J. Montero-Marín et.al berdasarkan pengamatan Barry A Farber pada para guru di Amerika Serikat

Pertama, worn-out mereka yang merasa kalah dan tidak lagi komitmen pada pekerjaan karena stres tinggi atau penghargaan yang rendah

Kedua, frenetic adalah mereka yang tidak mau mengakui kewalahan, berusaha untuk menghadapi situasi yang stres dan untuk mendapatkan penghargaan yang layak kemudian bereaksi dengan bekerja lebih keras. Komit lebih sampai akhirnya kehabisan tenaga.

Ketiga, underchallenged adalah mereka yang tidak puas dan merasa kurang stimulasi melakukan hal yang sama terus menerus karena tidak mendapatkan penghargaan layak meski tingkat stres rendah

Farber juga menemukan bukti bahwa para guru yang terlalu idealistik akan lebih mungkin mengalami burnout dibanding para guru lainnya.

Tabel: J. Montero-Marín et.al

Di abad 21, burnout menjadi semakin sering dibahas. Tahun 2001 Maslach dan Leiter kemudian berusaha menyusun sebuah cara untuk mengukur tingkat kondisi burnout seseorang yang disebut dengan Maslach Burnout Inventory (MBI). Hingga saat ini MBI terus dikembangkan dan menjadi cara paling populer untuk mengukur burnout seseorang. Sebagai catatan, hingga saat ini saya belum memutuskan untuk meminta bantuan psikolog untuk memetakan kondisi burnout, jadi saya tidak akan bahas panjang lebar tentang MBI. Tapi ika suatu ketika saya melakukannya, saya akan perbarui artikel ini. Untuk yang ingin mengetahui MBI dari salah satu publisher resminya bisa kunjung ke situsnya,

Bagaimana dengan organisasi kesehatan dunia, WHO memandang burnout? WHO telah memasukkan burnout ke dalam International Classification of Diseases (ICD-10). Di laman ICD tersebut WHO menyebut bahwa burnout merupakan sindrom yang terjadi akibat stres kronis di tempat kerja yang gagal untuk diatur. WHO kemudian memberikan tiga ciri utama:

  • Perasaan kehabisan energi dan kelelahan
  • Menjauh dari pekerjaan atau aktivitas dan memandangnya dengan negatif atau buruk
  • Merasa tidak efektif dan merasa tidak mencapai sesuatu

Definisi ini jelas sudah mencakup segala pembahasan sebelumnya. Namun meski sudah terdaftar di ICD, WHO menjelaskan bahwa burnout tidak digolongkan sebagai kondisi medis. Sebab penjelasan inilah, saya merasa tidak tergesa untuk meminta pertolongan psikolog untuk kondisi burnout. 

Bahkan para psikiater juga menjelaskan untuk berhati-hati mengondisikan burnout sebagai kondisi medis karena jika disamakan dengan kondisi lain, seperti depresi misalnya pasien akan harus mengalami terapi obat-obatan yang punya risiko dan dampak samping. Rekomendasi yang paling sering untuk burnout adalah terapi kognitif yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing orang dengan bantuan psikolog.

Sumber api burnout

Dari berbagai artikel dan jurnal yang saya baca di atas. Saya merasa setuju dengan penjelasan Maslach dan Leiter yang menyebutkan bahwa penyebab burnout setidaknya ada lima

  • Kelebihan beban kerja (overload work)
  • Kurang kontrol kerja (lack of work control)
  • Sistem imbalan yang tidak memadai (under-rewarded work)
  • Diperlakukan tidak adil (treated unfairly)
  • Konflik nilai (value conflict)

Bagi saya yang menjalani multi peran baik di rumah maupun di tempat kerja. Rasanya saya mengalami empat dari lima penyebab, kecuali poin empat yakni diperlakukan tidak adil. Saya yang keseharian sebagai solopreneur harus mengambil peran sebagai pemasar, pengatur keuangan, pengembang produk, sampai administrasi. Kemudian semua pekerjaan itu dikerjakan di rumah dengan kondisi rumah ada bayi yang lucu nan aktif yang terus menerus membutuhkan perhatian. Saya dan istri memutuskan tidak melibatkan orang lain untuk mengasuh anak, sehingga semua pekerjaan rumah juga dikerjakan sendiri. Pekerjaan yang tentu tidak mudah.

Dari semua beban tersebut, muaranya adalah tentang hasil. Yakni rumah yang tertata, kondusif dan ideal, namun sulit tercapai tanpa mengorbankan waktu kerja. Sedangkan di situasi lain, kesukesan pekerjaan menuntut dedikasi lebih. Dengan berkurangnya kesempatan untuk bekerja dengan kondusif, pekerjaan jadi lebih terbengkalai dan tidak mendapatkan perhatian dengan profesional. 

Di kepala saya, kondisi ini seperti lingkaran setan yang tidak berhenti berputar. Memutusnya secara keseluruhan mungkin sulit, tapi mungkin saya bisa memperlambatnya dan menyiasati di beberapa sisi.

Kamu mungkin juga mengalami atau menyaksikan kalau situasi dilematis seperti ini juga terjadi di banyak kasus. Antara bekerja atau keluarga. Selama saya melakukan riset literatur tentang topik ini, saya menemukan beberapa profesi yang umum rentan mengalami burnout. Beberapa di antaranya, dokter, guru, pengusaha dan profesi-profesi lain yang sifatnya lebih banyak pada hospitality alias melayani. 

Saya yakin orang dengan profesi tersebut ketika sudah mulai berkeluarga, rentan mengalami burnout. Pertanyaannya, mengapa dilema seperti ini sering terjadi? Saya pribadi tidak punya jawabannya, tapi yang jelas semakin sukses seseorang secara finansial, dia akan punya lebih banyak pilihan untuk menyiasati dilema tersebut. Seperti misalnya memiliki tim, punya asisten di rumah, melakukan delegasi pekerjaan dan semacamnya.

Tapi kita juga perlu tahu, akses untuk mendapatkan kemudahan dan pilihan itu membutuhkan keberhasilan dalam pekerjaan dan karir. Bagi saya, bisa jadi ini adalah pemantik burnout. Dari segala hal yang saya lakukan sebagai konsultan, sebagai freelancer, sebagai founder, pencapaian yang tidak kunjung tercapai membuat diri menjadi frustasi. Dengan desakan waktu, stres menjadi berlipat-lipat lalu dampaknya adalah kelelahan dan distraksi berkepanjangan.

Belum lagi peran sebagai suami dan ayah yang sulit untuk menerima kegagalan. Bahkan menceritakan hal seperti ini seperti membuka aib kelemahan yang tidak maskulin sama sekali. Strerotip umum mengharuskan laki-laki selalu berhasil dan tidak punya cacat apalagi kelemahan mental. Kondisi seperti ini jelas makin membuat tekanan hebat.

Meski begitu, satu hal yang saya syukuri adalah. Saya sadar dan saya bisa mempelajari untuk mencari jalan keluar. Menemukan solusi, lalu kembali untuk beraksi.

Upaya memulihkan kembali

Mengingat saya tidak melibatkan tenaga profesional untuk memulihkan situasi burnout, saya hanya bisa menerka-nerka kira-kira apa yang bisa memulihkan. Belajar dari pengalaman, saya perlu mengurangi aktivitas yang membuat saya terus membandingkan diri dan fokus pada aktivitas yang esensial. Catatan, ini adalah cara yang saya lakukan, belum tentu cocok untuk kamu atau orang lain. Sebab kondisinya sangat beragam dan situasional.

Beberapa hal yang saya lakukan beberapa waktu ini adalah:

1. Tidak membuka whatsapp sama sekali.

Kelakuan saya untuk tidak buka whatsapp ini saya yakin sekali membuat reputasi tercoreng. Sulit dihubungi, menghilang, tidak bertanggung jawab. Saya sadar dan harus membangunnya kembali. Tidak mudah karena situasi burnout juga membuat saya mengalami sedikit gangguan kecemasan. Rasa takut berlebih untuk menghadapi konsekuensi. 

Ironis, karena saya sendiri pernah menulis tentang penyebab penundaan adalah rasa takut dan sifat pengecut. Tapi sebagaimana pepatah yang sering disebut seorang pengusaha muda di Surabaya, keberuntungan akan datang pada mereka yang berani. Fortes fortuna Adiuvat.

2. Mengurangi update dan scrolling di media sosial

Saya menyadari bahwa media sosial jadi sumber utama yang mempengaruhi kesehatan mental. Kondisi burnout yang saya alami pun bersumber dari sini. Wajar, karena saya memiliki profesi yang bersinggungan langsung dengan media sosial dan internet. Tanpa media sosial, profesi saya tidak berfungsi sama sekali. Secara saya adalah konsultan konten marketing, content strategist dan juga jurnalis lepas yang harus terus mengikuti tren yang ada.

Mengurangi update dan menggulir-gulir media sosial bisa mengurangi kemampuan dan membuat saya tertinggal. Dilematis dan membuat saya frustasi. Bagaimana caranya untuk bisa membuktikan kemampuan dalam hal pemasaran dan konten, jika saya sendiri tidak menyimak apa yang terjadi di media sosial? Tentu sangat kontradiktif.

Tapi saya memilih untuk vakum, tidak ada update konten di media sosial pribadi. Hanya twitter tempat saya aktif sesekali dan menyimak informasi. Alasannya karena Twitter adalah media sosial yang minim stimulus. Tidak banyak gambar dan video. Hanya teks. Itu kenapa saya juga masih aktif di Medium. Lalu, Instagram sama sekali tidak saya buka, begitu juga Facebook. Linkedin apalagi, saya sedang tidak ingin berurusan dengan pekerjaan.

Hiatus dari media sosial jelas bukan solusinya jika saya tetap bekerja berkaitan dengan konten. Itu kenapa proses ini hanyalah temporer. Perlahan saya akan kembali aktif sepenuhnya jika kondisi saya sudah lebih baik.

3. Lebih banyak bermain di rumah dengan keluarga

Sangat tidak sopan jika beralasan bahwa tuntutan rumah adalah yang mengganggu performa profesional. Sebab seharusnya seorang profesional yang baik, akan lebih bisa memilih mana yang prioritas. Pekerjaan memang membutuhkan dedikasi dan perhatian, tapi bukan berarti rumah harus diabaikan. Jadi saya memutuskan untuk lebih banyak bermain dengan keluarga di rumah. Bahkan saya bisa habiskan waktu seharian penuh untuk anak dan istri.

Meski, risikonya adalah saya mengabaikan potensi pendapatan dan pemasukan untuk kebutuhan rumah sehari-hari. Jadi aktivitas ini tidak bisa terus-menerus dilakukan. Selama pemulihan burnout saya coba untuk melibatkan keluarga dan berharap situasi akan bisa menjadi lebih baik.

4. Lebih sering membaca buku

Sedikit bertatap media sosial membuat ada waktu luang untuk membaca buku. Saya baca-baca kembali buku yang menginspirasi untuk terus melakukan kebaikan. Tentang pengetahuan dan juga beberapa buku tentang peningkatan performa diri.

Dulu saya tidak pernah menyadari kalau buku bisa memberi kita pengetahuan, tanpa kita banyak mengeluarkan effort. Sekarang saat, burnout dan saya punya sedikit informasi, malah bisa menikmati buku-buku non-fiksi dan menambah pengetahuan dan informasi tanpa melibatkan media di internet.

5. Tetap konsumsi konten yang insightful sesuai profesi, pengembangan diri dan wawasan

Sebagaimana saya sudah jelaskan di bagian media sosial, saya mengurangi penggunaan media sosial. Tapi tetap melakukan konsumsi konten. Caranya adalah saya lebih banyak menghabiskan waktu di Youtube dengan video-video insightful sesuai profesi, pengembangan diri dan wawasan kita. Dengan cara ini, kita bisa lebih proaktif untuk mengatur informasi apa saja yang ingin kita simpan dan pelajari sebagai seorang olahragawan profeisonal.

6. Mengurangi dan mengatur ritme kerja

Saya adalah tipikal orang yang tidak kenal waktu untuk bekerja. Saya bisa bekerja tengah malam sampai pagi hari. Saya juga terbiasa bekerja mulai pagi sampai malam hari. Konsekuensi dari pekerja konten adalah seperti ini. Belum lagi jika media sosial yang ditangani jumlahnya tidak sedikit. Ritme kerja bisa semakin terganggu dan kita menjadi sangat tidak produktif. Dampaknya pada hasil, dampaknya pada kepercayaan diri, dan akhirnya membuat kita takut untuk bisa mencapai capaian setiap hari.

Saya tidak mengklaim bahwa apa yang saya lakukan tersebut adalah cara yang efektif. Mungkin ada satu yang cocok denganmu, tapi bukan berarti cara yang saya lakukan bisa berhasil. Sebab setiap orang punya beban kerja masing-masing, mereka juga punya ekspektasi yang harus dijaga dikalangan profesi serta latar belakang yang jelas beda-beda.

Jadi jika kamu membaca tulisan ini dan ingin untuk menerapkan sesuatu, lebih baik kamu bersabar lalu kemudian meminta bantuan tenaga profesional untuk membantumu memulihkan diri.

Masa depan abu yang membisu

Saya sebenarnya tidak benar-benar tahu pasti apa yang ingin saya lakukan esok hari. Saya lebih melihat bahwa apa yang saya lakukan untuk mencari solusi dan pencapaian diri seharusnya sudah ada di jalurnya. Hanya saja saya perlu untuk lebih mawas diri dan tidak memaksakan kondisi. Memang saat ini saya tetap mengerjakan semuanya sendirian. Tapi anggaplah ini bagian dari kontribusi diri untuk karir di masa depan.

Berkaitan dengan konten, saya pun akan tetap menulis. Tulisan adalah kekuatan dan rumah saya untuk mengekspresikan diri. Walaupun nanti, ada niatan untuk belajar memanfaatkan video untuk tampil dan berbagi. Tidak tahu kapan, semoga akhir tahun ini bisa terealisasi.

Menjadi sosok yang hangus terbakar api tidaklah mudah untuk kembali berdiri. Siapa yang peduli dengan abu yang membisu? Paling akan tertiup angin dan pergi entah kemana lalu terlupakan. Saya tidak ingin itu yang terjadi. Tidak ada pasrah dalam kondisi apa pun. Sebab bahkan abu sekalipun akan punya nilai untuk mereka yang membutuhkan seperti tanah, lautan dan udara.

Tulisan saya tentang burnout ini bukan tentang menormalisasi. Apalagi menjadi referensi medis yang bisa digunakan setiap saat. Bukan. Ini hanyalah catatan pribadi yang mungkin akan memberi manfaat untuk diri sendiri. Syukur-syukur bisa membantu orang lain.

Akhirnya, saya berharap untuk bisa tetap tampil dan ikut berkarya. Tanpa harus risau dengan karya orang lain dan performa mereka. Fokus pada pengembangan kemampuan diri dan mulai untuk bekerja. Mohon maaf untuk yang mencari-cari, yang projeknya saya gantungkan, atau pun yang tagihannya saya abaikan. Usai tulisan terapi ini tayang, saya akan segera kembali merespon interaksi yang masuk, dan kembali bekerja.

Semoga ada manfaatnya. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya.

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Penulis konten yang punya latar belakang pendidikan bisnis. Sempat jadi jurnalis. Kemudian terobsesi dengan buku dan pengetahuan. Impian terbesarnya adalah membuat film dokumenter dan bikin perusahaan yang peduli keberlangsungan alam.

Leave a Comment

Your email address will not be published.