Minimal Waste Wedding; Pernikahan Yang Baik Untuk Alam

Minimal Waste Wedding; Pernikahan Yang Baik Untuk Alam

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Penikahan di Indonesia merupakan bagian dari fase kehidupan yang sakral karena erat kaitannya dengan unsur religiusitas, upacara adat, kekeluargaan, serta kekayaan nilai-nilai sosial-budaya yang unik. Kompleksitas nilai tersebut membuat pernikahan di Indonesia seringkali dilaksanakan dalam perayaan sederhana hingga mewah yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak dan sumber daya pendukung. 

Terdapat daftar persiapan panjang yang perlu dilakukan calon pengantin sebelum melaksanakan pesta pernikahan: seperti lokasi acara, persiapan adat, katering makanan, pakaian pernikahan bagi pengantin dan keluarga, make-up, mas kawin, cincin dan perhiasan lainnya, undangan, souvenir, fotografer dan video dokumentasi, dan banyak lagi.

Bahkan, pesta pernikahan di Indonesia tak jarang dilakukan dalam serangkaian acara yang berlangsung lebih dari satu hari dengan ratusan hingga ribuan tamu undangan.

Rangkaian persiapan yang dibutuhkan dalam melaksanakan pesta pernikahan tak ayal menjadi sebuah industri baru dengan perputaran ekonomi yang tinggi. Industri pernikahan di Indonesia mengalami peningkatan dalam sepuluh tahun terakhir dan menempati posisi ekonomi yang berpengaruh di dalam kehidupan masyarakat.

Trend pesta pernikahan ditawarkan oleh berbagai media, majalah, serta pameran-pameran pernikahan yang semakin menjamur di pusat-pusat keramaian.

Selain biaya yang perlu dikeluarkan pasangan untuk melaksanakan pesta pernikahan kini kian melambung tinggi, bagi beberapa pihak, trend industri pernikahan ini ternyata memunculkan persoalan lingkungan yang lain karena banyaknya residu dan limbah sisa yang ditinggalkan.

Sisa-sisa makanan, sampah plastik dari bungkus undangan atau undangan itu sendiri yang berbahan tebal, bungkus suvenir dari plastik mika, wadah makan plastik sekali pakai, atau aksesoris tambahan lainnya seringkali berakhir sebagai limbah sisa yang sulit terurai.

Ditambah pula dengan berbagai macam pelengkap dan dekorasi lainnya yang tidak bisa digunakan berulang dan kerap berakhir di penampungan sampah. Hal-hal ini bisa didapati hampir di setiap pesta pernikahan tanpa penanganan yang optimal.

Meski masih minim, kesadaran pasangan pada dampak lingkungan ini kini perlahan mulai terlihat. Di antara trend industri pernikahan kekinian, mulai muncul gerakan pernikahan minimalis dan minim sampah yang mengusung perayaan pesta pernikahan dengan mengurangi penggunaan bahan-bahan yang berpotensi menjadi limbah tak terdaur ulang.

Pemanfaatan undangan berbasis website, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai serta memilih suvenir ramah lingkungan menjadi pilihan yang dapat dilakukan oleh pasangan. Kesan pernikahan yang besar-besaran juga mulai bergeser dengan trend intimate yang mengundang hanya sedikit tamu, keluarga dan kerabat dekat saja.

Tak jarang, persiapan pernikahan minimalis dan minim sampah seperti ini dilakukan sendiri oleh calon pengantin tanpa menggunakan jasa wedding organizer dan tentu saja turut menekan biaya yang perlu dikeluarkan secara umum.


Konsep pernikahan minimalis dan minim sampah ini juga menjadi pilihan terbaik bagi saya dan pasangan. Selain karena kesesuaian nilai yang kami percaya tentang pentingnya menjaga lingkungan dan menerapkan pola hidup minim sampah, ternyata konsep pernikahan ini juga sangat memudahkan bagi kami yang hanya memiliki waktu persiapan tidak sampai tiga bulan. Berikut hal-hal yang dapat kami bagikan terkait pernikahan dengan konsep minimal waste:

1. Venue
Pernikahan kami dilaksanakan pada April 2019 di Bandar Lampung. Rumah menjadi pilihan venue karena selain tidak perlu menyewa gedung dan dekorasi, lokasi rumah terbilang cukup untuk menampung sekitar 300 tamu undangan.

Tamu undangan sendiri sebagian besar adalah keluarga dan kerabat orang tua. Saya dan pasangan tidak banyak mengundang teman karena kebanyakan teman sepermainan kami memang tidak tinggal di kota tempat pernikahan dilaksanakan.

Tentu transport dan akomodasi yang diperlukan akan cukup berat apabila teman-teman harus datang ke lokasi acara. Selain memberatkan, transport juga pasti akan meninggalkan jejak karbon yang tidak sedikit bagi atmosfer.

2. Dekorasi
Karena rumah sudah menjadi venue pilihan, maka memikirkan bagaimana mendekorasi rumah agar menjadi ruang pernikahan juga perlu dilakukan. Keputusan bersama sepakat menggunakan tenda di halaman rumah dengan nuansa white-gold-navy, sekaligus sebagai tirai yang menutupi beberapa bagian dinding rumah.

Dekorasi pelaminan juga tidak dibuat rumit, hanya mengandalkan tiang-tiang penyangga berwarna putih dengan nuansa taman alami menggunakan tanaman hidup di pot-pot bunga putih yang memang sudah ada di rumah.

Kami tidak banyak menggunakan dekorasi bunga segar dengan pertimbangan bunga-bunga tersebut tentu tidak akan bisa digunakan lagi selanjutnya. Dekorasi meja akad juga disusun menggunakan meja kaca yang sebelumnya adalah meja makan, dengan kursi-kursi yang dicat warna putih lalu diikat dengan sisa kain tulle untuk memberi kesan manis.

3. Undangan
Kami menggunakan dua konsep undangan: cetak dan digital. Untuk undangan cetak, kami mendesainnya sendiri. Konsepnya seperti sepucuk surat dalam amplop tanpa dibungkus dengan plastik setelahnya. Undangan ini dicetak sebanyak 300 buah dan ditujukan  hanya bagi tamu-tamu orangtua.

Di dalam desain undangan tersebut, terdapat pula barcode yang bisa discan dan akan langsung mengarah pada laman daring undangan di website. Undangan di website sendiri kami buat tidak hanya untuk sekali pakai. Kami membeli domain bersama, Kulawarga.id yang kami gunakan hingga hari ini sebagai alamat blog keluarga.

Di dalam undangan website, kami mencantumkan pula peta lokasi acara yang terhubung melalui google maps, lengkap beserta keterangan akomodasi dan transportasi yang dapat dipilih apabila memang ada tamu undangan yang datang dari luar kota.

4. Katering
Kami tidak menggunakan jasa katering makanan. Proses belanja bahan masakan, memasak hingga menghidangkan catering prasmanan semua dilakukan oleh tim masak yang diawasi oleh ibu. Semua proses memasakpun dilakukan di garasi mobil rumah yang disulap menjadi “dapur umum”.

Alat-alat masak dan prasmanan juga memang sudah tersedia di rumah, tinggal kami menambah piring dan gelas kaca untuk camilan lainnya agar tidak menggunakan wadah plastik sekali pakai.

Namun demikian, justru karena sepenuhnya berada di bawah pengawasan keluarga, residu makanan dapat tertangani dengan baik. Harapan kami untuk tidak menggunakan plastik sekali pakai dapat terlaksana dengan cukup baik. Makanan berlebihpun dapat langsung dibagikan kepada tim masak dan tetangga untuk dibawa pulang.

5. Suvenir
Seringnya, suvenir yang didapatkan dari acara pernikahan hanya berakhir di lemari menjadi pajangan dan tidak fungsional. Kami tidak ingin suvenir pernikahan kami bernasib sama, sehingga bukan hanya bersepakat untuk tidak menggunakan plastik pada suvenir, kami juga ingin agar suvenir yang kami pilih dapat bermanfaat dan digunakan oleh para tamu undangan.

Kami memilih tiga jenis suvenir dalam rangkaian acara pernikahan ini, yaitu sedotan bambu, biji tanaman dan totte bag dalam packaging kertas. Perhatian kami pada estetika dan fungsi dari suvenir inilah yang kemudian membuat Manualle lahir sebagai alternatif suvenir pernikahan yang mengusung konsep minimal waste.

6. Pakaian Pernikahan
Kata orang, “Gaun pernikahan indah adalah impian setiap pengantin,” meskipun kenyataannya tidak terlalu berlaku bagi kami. Kebetulan, saya dan pasangan bukanlah tipe yang sering membeli baju. Rata-rata pakaian harian kami adalah baju sponsor acara atau hibah dari keluarga lain yang sudah jarang digunakan.

Kalaupun membeli pakaian, paling hanya sekali dua kali dibelikan saat lebaran. Sehingga saat menikah, kami cukup kebingungan harus menggunakan pakaian apa. Akhirnya, kami memutuskan untuk menjahit gaun pengantin wanita berwarna putih dan sederhana menggunakan jasa tetangga.

Kabarnya, tetangga ini juga baru mau memulai usaha jahit pakaian pengantin, maka bisa juga menjadi eksperimen bagi beliau. Sementara untuk pengantin laki-laki, kami membeli pakaian gamis putih dan menyewa jas berwarna putih. Setelah acara pernikahan kami selesai, pakaian pernikahan ini disimpan dan kami pinjamkan bagi sesiapa saja yang membutuhkan.

7. Seragam Keluarga
Sejak awal kami sudah menginformasikan bahwa konsep acara pernikahan ini adalah minimalis dan minim sampah, sehingga kami juga tidak akan menyediakan seragam keluarga dan tidak ada bridesmaid.

Pakaian yang menjadi seragam keluarga merupakan pakaian batik bernuansa senada dengan wedding tone yaitu white-navy yang kemudian digunakan kembali saat Hari Raya.

8. Make-up
Salah satu yang menjadi perhatian utama para calon pengantin juga adalah tata rias alias make-up. Uji coba tata rias sebelum pernikahan biasanya dilakukan untuk memastikan riasan pada hari istimewa itu kelak adalah yang tercantik dan manglingi. Namun demikian, saya dan pasangan tidak melakukan uji coba tersebut.

Riasan baru kami coba tepat pada hari-H acara pernikahan. Tidak juga menggunakan jasa MUA ternama, kami hanya dibantu oleh beberapa teman dan saudara yang sudah cukup terbiasa menjadi MUA. Riasan yang diaplikasikan juga tsederhana, tidak terlalu berat dan tanpa bulu mata palsu.

Ini dipilih karena kami juga sempat berpikir bahwa bulu mata palsu adalah bahan sintetis yang hanya dipakai satu kali dan juga akan menjadi sampah nantinya.

9. Tidak ada balon, confetti, atau bridal shower.
Trend bridal shower dan pernikahan dengan pernak-pernik balon atau lentera yang diterbangkan ke udara makin banyak dilakukan oleh pasangan pengantin saat ini.

Namun demikian, opsi tersebut juga tidak kami terapkan di acara pernikahan kami. Sudah banyak fakta yang menunjukkan dampak buruk yang terjadi pada lingkungan akibat sisa-sisa limbah balon, confetti atau plastik lainnya yang dihasilkan dari pesta pernikahan dan kami tentu tidak ingin menjadi salah satu kontributornya.


Pernikahan adalah momen sakral yang melibatkan banyak pihak. Namun pernikahan yang indah dan berkesan bukan berarti harus menghabiskan banyak biaya apalagi sampai meninggalkan dampak buruk bagi lingkungan.

Kami percaya bahwa pertemuan dua insan manusia pastilah juga bagian dari kerja sama semesta, begitupula pertemuan kami. Maka ketika kami bersepakat untuk menikah, kami ingin memastikan perayaan sakral itu adalah juga terima kasih kami pada alam.

Perayaan pernikahan kami bukan yang terbaik, tapi ini adalah upaya kami untuk meninggalkan kenangan dan jejak baik bagi keluarga juga lingkungan. Semoga kisah kami membantu, dan semoga persiapan pernikahanmu berjalan lancar, ya!

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Hello! Thankyou for visiting our page! Hit me up through Instagram too @gita.prayitno or send me some mails to hellogita@kulawarga.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *