Menyambut Bintang Mavis dari Timur

Menyambut Bintang Mavis dari Timur

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Sebuah perasaan bahagia yang tidak terkira ketika rumah tangga kecil kami mendapat karunia anggota kecil baru. Ya, Kulawarga secara resmi bertambah satu orang pada 25 Oktober kemarin. Dan tulisan ini adalah sebuah cerita tentang bagaimana proses hadirnya buah hati kecil yang mewarnai hidup saya dan juga Gita.

Cerita yang akan merunut jalan cerita hadirnya bintang Mavis kami yang terbit dari timur. Sebuah bintang yang bersinar menyinari kehidupan rumah tangga kami.

Kisah bermula ketika Gita mulai menunjukkan gelagat yang berbeda di awal tahun 2021. Jika biasanya Gita makan sekenanya, dan terbilang sedikit, dia mulai banyak makan dan ngemil. Kala itu Gita sedang ke Lampung untuk sebuah keperluan keluarga. Di sana tentu saja bertemu dengan orang tuanya, dan juga paman dan tante.

Rupanya bukan cuma saya saja yang menyadari kebiasaan makan Gita yang berbeda. Tante-tante bahkan ada yang nyeletuk kalau bisa jadi itu tanda-tanda kehamilan. Entah apa respon Gita saat itu, karena saya tidak menyertainya selama perjalanan karena masih berada di Surabaya.

Usai pulang dari Lampung dan Jakarta, di Surabaya kami menjalani kehidupan seperti biasa. Saya mengerjakan konten marketing untuk klien dan Gita dengan aktivitas S2-nya di Ciputra. Tidak ada yang berubah signifikan, kecuali kebiasaan makan yang jadi lebih sering jajan. Sampai akhirnya Gita terlambat haid. Datang bulan yang biasanya tepat waktu karena Gita punya kebiasaan hidup yang sehat, ternyata datang terlambat. Sejak itu kami rencanakan untuk datang ke klinik dokter kandungan yang tidak jauh dari rumah.

Kabar Menggetarkan

Saya tidak ingat kapan jadwal periksa pertama itu terjadi. Mungkin nanti Gita sendiri yang akan menulis pengalamannya dengan lebih detil di sini. Tapi saya ingat, dokter menyatakan kalau Gita memang hamil. Hal yang menarik adalah, dokter memujinya karena punya siklus haid yang begitu akurat. Dokter mengatakan kalau siklus yang akurat akan membuat proses pembuahan menjadi optimal, begitu juga dengan perhitungan Hari Perkiraan Lahir (HPL) yang kira-kira akan jatuh di tanggal 25 Oktober 2021.

Kabar dari dokter ini tentu saja menjadi babak baru bagi saya. Saya menjadi calon bapak. Hati ini rasanya bergetar. Antara bergembira tapi juga gugup tak terkira. Apa yang harus dilakukan dan bagaimana menjadi bapak yang baik adalah pertanyaan yang terus teringiang.

Kehamilan Gita juga menjadi sebuah pertimbangan baru tentang bagaimana membiayai kehidupan Kulawarga yang semakin berkembang. Sebuah pikiran yang wajar terutama ketika menyadari kalau situasi ekonomi kami masih pas-pasan.

Menjadi Suami Siaga

Gita yang hamil membuat saya merencanakan banyak hal. Seperti merencanakan program kehamilan, di mana harus bersalin dan ke mana harus memeriksanakan kandungan. Banyak hal yang perlu dipikirkan dan dibiayai. Tentu semuanya tidak mudah. Malahan saya cenderung stres meski secara tidak sadar, saya melampiaskannya dalam bentuk banyak bermain game.

Pelampiasan ini adalah kelakuan yang buruk. Apalagi ibu hamil membutuhkan banyak perhatian dan kasih sayang. Naik turun emosi dan kondisi fisik yang terus terkuras selama hamil membuat seorang ibu hamil butuh banyak bantuan.

Saya lihat, Gita bisa begitu mandiri. Masih bisa memasak dan juga rutin menjaga kebugaran. Saya sendiri juga ikut membantu menyediakan apa yang ia butuhkan, termasuk masak juga. Sementara pekerjaan rumah saya selesaikan. Pokonya, ibu hamil tidak boleh banyak beraktivitas berat.

Sampai dengan trimester pertama, mual jadi pemandangan yang biasa. Saya harus siaga menyediakan ember untuk Gita. Muntah adalah hal yang lumrah, tapi saya juga selalu ingatkan untuk ibu hamil harus jaga hidrasi. Jadi minuman harus terus tersedia. Pastikan minim gula ya!

Sedangkan di trimester dua kondisi fisik dan mental Gita begitu fit. Di momen ini saya malah banyak nyantai karena memang tidak banyak aktivitas berisiko. Saya malah sering nge-game di momen ini. Bukan contoh yang baik.

Sementara saat memasuki trimester tiga. Kondisi kehamilan kembali sangat rentan. Pemeriksaan kehamilan menjadi sangat intens. Dari yang awalnya hanya satu bulan sekali menjadi hampir setiap pekan. Dampaknya, pemeriksaan harus berbeda dari trimester sebelumnya yang kami bisa berubah-ubah tempat periksa, seperti klinik Obgyn, Puskesmas, dan juga Bidan. Prioritas untuk kelahiran adalah tentang ketenangan ibu hamil untuk memilh siapa yang menjadi doula persalinan.

Di masa pandemi, menjadi Bapak Siaga tentu tidak mudah. Saat awal-awal kehamilan, saya begitu ketat untuk melarang Gita keluar rumah. Pun jika keluar rumah kami hanya berbelanja di swalayan. Kami tahu itu tetap berisiko, tapi belanja online tidak bisa sedetil berbelanja sendiri.

Untuk menjamin keselamatan ibu hamil, saya mencari terus informasi vaksinasi di Surabaya. Saya minta tolong rekan yang bekerja di Pemerintah Kota Surabaya untuk berbagi info paling update terkait vaksin di Surabaya. Sampai akhirnya saya berhasil mendapat vaksin dengan mudah berkat vaksinasi masal.

Dua kali saya mendapat vaksin, dua-duanya melalui proses masal yang diadakan oleh Pemkot Surabaya dengan rapi dan aman. Salut untuk manajemen yang berhasil mengadakan program vaksinasi masal terkendali seperti ini.

Saya sudah tervaksin, semuanya selesai? Tentu tidak, Gita harus juga mendapatkan vaksin. Tapi di masa trimester dua, masih belum terbit rekomendasi bagi ibu hamil untuk mendapatkan vaksin. Banyak peneliti yang berusaha mengkaji, dan menyatakan aman. Tetapi otoritas resmi seperti WHO dan Kemenkes RI belum menerbitkan informasi yang tegas.

Sampailah kemudian kehamilan memasuki trimester tiga, masa penting yang juga telah aman untuk ibu hamil melakukan vaksinasi. Beruntung, di masa yang sama Pemkot Surabaya sudah terbiasa mengadakan vaksinasi. Ibu hamil kemudian diperbolehkan untuk mendapatkan suntikan vaksin, tapi Moderna.

Vaksin Moderna punya reputasi sebagai vaksin dengan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang hebat. Demam adalah hal yang lumrah. Gita mengalaminya dan sempat turun berat badan.

Sedangkan saya, vaksin dua kali dengan Sinovac, tidak mengalami apa-apa kecuali saya menjadi sering melucu. Saya sering bilang pada Gita, “mungkin efek vaksinnya membuatku makin lucu”

Gita sering membalasnya dengan nyengir sinis. Haha.. wajar, karena saya dulunya sangat jarang berekspresi apalagi melucu.

Ketika seluruh anggota Kulawarga sudah divaksin, barulah kami berani untuk keluar rumah dan mulai banyak eksplorasi kemana harus melakukan persalinan.

Di awal perencanaan, kami membuat rencana untuk melahirkan di rumah sakit. Kami rancang biayanya dan programnya. Tapi nyatanya kelahiran terjadi di bidan dan lokasinya cukup jauh dari rumah. Tahu fakta ini, ibu saya (mertua Gita) tentu khawatir. Kenapa tidak pilih yang dekat dan “lebih terjamin”.

Saya yang menghormati dan sudah memutuskan bersama Gita tentu harus mengomunikasikan hal ini pada orang tua. Tidak mudah dan perlu kesabaran. Saya beberapa kali harus berdebat untuk mempertahankan keputusan. Sebenarnya tidak ada yang ingin persalinan berjalan dengan celaka. Tapi berkomunikasi dan menghormati keputusan adalah cara kita untuk menjadi suami yang siaga menjelang persalinan.

Sebagai suami siaga, hingga detik-detik akhir persalinan. Saya berusaha terus mendampingi Gita. Penyelesaian pekerjaan dengan klien saya percepat. Mengupayakan untuk tidak bekerja sampai larut karena ibu hamil membutuhkan perhatian yang cukup.

Masa siaga memuncak ketika kontraksi mulai begitu intens di tanggal 25 Oktober. Semua yang ada di rumah berharap-harap cemas, apakah bisa lahir dengan lancar atau tidak. Semua campur-aduk menjadi satu. Mertua juga mulai khawatir karena bidan rujukan menyarankan untuk di rumah lebih dulu sebelum pembukaan yang cukup atau intensitas kontraksi sekitar tiga menit secara konsisten.

Berjam-jam menemani Gita menghitung ritme kontraksi. Mulai dari sepuluh menitan sampai akhirnya empat menitan di pukul 18 sore. Kami siap-siap berangkat, dengan bergegas. Gita mulai kewalahan, dan sesampainya di bidan, hanya saya yang boleh untuk berada di lingkungan Papilio Natural Birth Center.

Kebijakan ini adalah kebijakan pandemi yang melarang banyak orang tidak berkepentingan untuk berada di lingkungan persalinan. Termasuk para orang tua dan pendamping. Bahkan kabarnya saat grafik kasus infeksi memuncak, pihak klinik melarang suami berada di ruang persalinan. Jujur saya salut dengan klinik ini karena begitu menjaga protokol kesehatan meski sangat ketat dan mungkin mengecewakan bagi sebagian orang.

Kalau saya ditolak untuk berada di ruang persalinan pun saya bersedia. Tapi jika Gita memang membutuhkan saya rela untuk mengenakan APD (Alat Pelindung Diri) di ruang bersalin.

Malam itu seperti yang sudah disepakati, saya bisa berada di ruang bersalin setelah melakukan antigen. Gita yang sedang kontraksi juga harus antigen. Semua dipastikan harus negatif sembari proses persalinan berjalan.

Di ruang bersalin saya terus dukung Gita untuk bisa melahirkan dedek bayi. Banyak sekali yang dikeluhkan Gita, keluhan lelah, sakit dan mengantuk jadi satu. Tapi saya melihat momen ini seperti naik gunung. Pendakian yang mengharuskan seseorang tetap sadar dan sabar menapak perlahan. Jika sampai menyerah untuk berhenti sejenak, bayi yang sudah ada di ujung vagina akan tertahan dan terancam sulit lahir. Itu kenapa saya ingatkan untuk tidak tidur, atur nafas dan mau untuk minum air.

Akhirnya tepat pukul 23.04, bayi lahir dengan selamat dan di saat itulah saya bergetar dan tersanjung. Bayi yang kami tunggu-tunggu telah lahir dengan jenis kelamin perempuan. Ukurannya cukup besar dengan bobot 2,9 kg dan panjang 50 cm. Saya terharu. Gita kelelahan tapi bahagia. Saya melihat keduanya melakukan inisiasi dini yang romantis antara anak dan ibu meski berpeluh dan masih berlendir.

Hadirnya Bintang Mavis

Bayi kecil cantik itu kami beri nama Mavis sejak masih berada di kandungan. Saya sebenarnya tidak terpikir nama lain karena tidak riset dan mencari inspirasi. Tapi satu nama yang terngiang di kepala saya adalah Mavis. Nama Mavis beberapa kali digunakan di budaya populer. Saya selalu teringat dengan karakternya. Sosok yang jenius, ceria dan setia kawan, mirip seperti ibunya.

Sedangkan penamaan lengkapnya saya serahkan pada Gita. Gita memilih untuk mencari inspirasi yang berkaitan dengan Timur dan bintang. Maka muncullah kata Hikina, dan Tala, jadilah nama lengkap Mavis.

Mavis lahir di tengah pandemi yang belum juga usai. Berbagai belahan dunia berjuang untuk bertahan. Sementara yang lain harus berhadapan dengan perubahan iklim yang tidak juga menjadi perhatian. Saya membayangkan bagaimana Mavis harus berjuang di garis depan untuk mengatasi masalah generasinya. Saya pun membayangkan masa tua yang akan mendampinginya berjuang jika masih ada kesempatan.

Cahaya dari timur adalah cahaya harapan. Mavis bukan hanya sekadar satu dari jutaan manusia yang terlahir di tanggal 25 Oktober. Dia adalah harapan, dia adalah generasi masa depan, sebagai bagian dari keluarga Kulawarga kami yang kami dedikasikan untuk semesta alam.

Kulawarga dan Mavis

Ini adalah momentum yang baru bagi kami. Memiliki amanah baru dan juga impian yang lebih baik di masa depan membuat Kulawarga harus bisa memberikan kebaikan yang lebih, bukan hanya untuk saya dan Gita tapi juga untuk banyak orang.

Artinya, situs kecil ini akan lebih aktif lagi sesuai dengan visi kami. Di sini kami akan berbagi banyak hal yang mungkin bisa menjadi inspirasi bagi kamu. Situs ini kami upayakan agar bisa terus hidup hingga Mavis dewasa, sehingga Mavis pun bisa berbagi pikiran dan inspirasinya pada banyak orang. Jadi simak terus Kulawarga ya. Jika ada pertanyaan seputar kehamilan dan persiapan persalinan, silakan tanyakan semoga kami bisa bantu kamu menyambut buah hati yang membanggakan.

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Penulis konten yang punya latar belakang pendidikan bisnis. Sempat jadi jurnalis. Kemudian terobsesi dengan buku dan pengetahuan. Impian terbesarnya adalah membuat film dokumenter dan bikin perusahaan yang peduli keberlangsungan alam.

Leave a Comment

Your email address will not be published.