Menuju Keberanian Fase Baru

Menuju Keberanian Fase Baru

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Menyampaikan niat untuk serius dalam hubungan pada orang tua membutuhkan keberanian. Tapi untuk mewujudkannya dengan baik membutuhkan ketenangan. Dua hal yang tentu saja sulit untuk dicapai bersama.

Keberanian itu ibarat api yang menyambar-nyambar. Tidak terkendali, tidak terduga, tidak pula disukai. Ia hanya terlihat gagah dalam kesendiriannya melahap bahan bakar yang ia duduki dan hanguskan perlahan. Namun keberanian memang diperlukan utamanya untuk setiap makhluk hidup.

Aku tidak terkecuali.

Rasanya memang baru beberapa bulan yang lalu aku selalu berada dalam ketakutan. Berada dalam ancaman verbal yang tidak ada hentinya. Terus menekan hingga menghabiskan kekuatan. Memanipulasi hanya untuk mencapai kepuasan sendiri. Mempermalukan orang lain demi menutupi hilangnya pengendalian atas seseorang. Tidak terbayang bahwa aku akan mengalami hal seperti itu.

Mungkin itulah pelajaran yang di dapatkan dalam perjalanan pigrim kala itu. Perjalanan yang benar-benar membuka mata bahwa aku memang memiliki keburukan, yang tidak perlu lagi dilakukan. Saat itu juga tidak akan pernah melakukannya lagi.

Trauma, tentu. Tapi bisa jadi aku harus berterima kasih dengan kejadian itu. Bahwa selalu ada fase baru yang sedang menunggu. Dan fase baru itu menuntut keberanian kita untuk ditapaki.

Ya aku berusaha untuk berani. Sebagaimana aku pernah jelaskan sebelumnya tentang kemantapan kaki melangkah.

Tapi kali ini, keberanian itu harus disertai dengan ketenangan. Tenang untuk mengatur perencanaan dan perbekalan. Sebab akhir tahun 2018 adalah masa yang sulit. Tahun 2019 harus dilalui tidak lagi dengan jaring pengaman yang selama ini menjadi sandaran.

Menjadi pegawai bukan lagi pilihan, sehingga jalan berikutnya adalah harus mampu berdiri sendiri dalam situasi akan meminang seseorang yang dicintai.

Nekad, kata salah seorang senior.

Mungkin.

Tapi memang yang jelas aku selalu mengukur setiap langkah-langkah yang terjadi. Tidak serampangan untuk keluar dari jalur atau bahkan masuk ke jalur.

Keluar dari hubungan yang buruk pun begitu. Tidak serta merta terjadi dalam satu momen. Tetapi semua dipertimbangkan dan diukur apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki keadaan.

Hanya saja, mengukur dalam ketenangan tidak bisa menjawab apapun. Semua butuh keberanian untuk memutuskan. Aku pun tidak sekali dua kali dianggap terlalu banyak berpikir dan mengukur. Overthink kata mereka.

Nyatanya inilah keputusan itu. Jalan yang ditempuh bersama untuk menjadi kebaikan yang lebih.

Tidak ada yang menyangka langkah-langkah berani itu menjadi hal menakjubkan. Kulawarga ini salah satunya. Dan aku tidak tahu, apa lagi yang akan lahir di masa depan. Mungkin, mungkin saja, jika diizinkan akan datang generasi-generasi yang hebat yang akan membawa lebih besar manfaat.

Siapa yang tahu. Doakan saja. Karena memang inilah fase baru itu.

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Penulis konten yang punya latar belakang pendidikan bisnis. Sempat jadi jurnalis. Kemudian terobsesi dengan buku dan pengetahuan. Impian terbesarnya adalah membuat film dokumenter dan bikin perusahaan yang peduli keberlangsungan alam.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *