Menuju Hari Penentuan, Persiapan Akad Nikah

Menuju Hari Penentuan, Persiapan Akad Nikah

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Domain sudah dibeli, website sudah online, itu artinya kami sudah siap untuk menuju hari penentuan yakni persiapan akad nikah. Lahirnya situs keluarga Kulawarga adalah niatan untuk membuat undangan digital agar tidak banyak membuat undangan fisik sehingga menghemat biaya.

Ada banyak hal yang kemudian kami buat konsep dalam pernikahan yang akan datang kala itu. Kulawarga yang lahir pada bulan Februari, kemudian diiringi dengan pembahasan soal desain undangan yang kami ingin buat sendiri. Aturannya jelas, kami tidak ingin melibatkan plastik satupun dalam undangan ini.

Undangan Kertas

Berbagai model dan desain kami bicarakan. Menjelajahi pinterest dan instagram demi menemukan undangan yang bebas plastik dan tidak banyak membuang sampah. Kami benar-benar ingin sederhana.

Sebenarnya ada banyak yang menawarkan undangan lebih tebal yang menggunakan card board. Tapi kami berpikir bahwa undangan seperti itu akan membuat sampah menumpuk dan sulit untuk diolah kembali. Kalau amplop biasa, akan lebih mudah untuk dihancurkan dan didaur ulang.

Amplop ini adalah desain paling sederhana yang kami bisa buat dengan dua warna sesuai tema pernikahan: white, navy, dan gold. Undangan navy untuk acara akad nikah dan resepsi di Bandar Lampung. Sementara gold digunakan untuk acara di Malang.

Amplop ini seluruhnya kami desain sendiri, tapi memang sontek sana sontek sini sih. Desain ini kami pilih karena sederhana dan membutuhkan kertas paling efisien. Sementara bahannya kami pilih yang cukup tebal agar tidak mudah terlipat ataupun basah ketika terciprat air.

Niatan untuk membuat undangan custom tentu adalah hal yang baik. Bahkan lebih baik seperti itu untuk kamu yang ingin membawa idealisme mengurangi sampah. Tetapi pelajaran yang kami dapatkan adalah, membuat amplop sendiri adalah pekerjaan yang membutuhkan dedikasi.

Aku kemudian baru paham mengapa amplop atau undangan pernikahan begitu mahal. Penyebabnya bukan karena desain atau bahan yang mahal, tetapi biaya untuk melipat dan membuatnya menjadi undangan yang rapi adalah pekerjaan yang melelahkan. Para vendor undangan pasti saat memenuhi permintaan mereka harus pakai mesin yang bisa melakukan pekerjaan finishing rumit.

Sedangkan aku dan Gita saat itu memutuskan untuk melipatnya sendiri. Kami harus memotong, kemudian melipat, lalu mengelem, dan terakhir memasukkan undangan ke dalam amplop. Pekerjaan yang sempat membuat punggung dan tanganku cedera. Tapi membuat amplop ini sepenuhnya kreasi bersama kami menjadi merasa punya andil untuk berlangsungnya acara. Capek, tapi senang.

  • Contoh undangan

Beruntung, pengalaman ini tidak sia-sia. Karena kami malah terpikirkan untuk membuat usaha berkaitan dengan wedding. Undangan adalah salah satu produk yang ingin kami kerjakan.

Total biaya: Rp3.300.000

Cincin Nikah

Selain undangan, hal yang kami persiapkan adalah cincin nikah dan mahar.

Dua hal ini adalah hal paling krusial yang cukup menentukan nasib ku sebagai laki-laki yang melamar Gita. Aku cukup pusing memikirkan bagaimana mendapatkan mahar yang pantas dalam kondisi yang memang masih cukup sulit.

Cincin pernikahan kami sepakat untuk membelinya di Jakarta. Cikini Gold Center menjadi tujuan kami karena aku tidak paham daerah mana di Jakarta yang mudah untuk menemukan perhiasan. Sementara Gita pun juga sama, dirinya bukan perempuan yang biasa membeli perhiasan. Jadi berburu perhiasan menikah adalah hal baru untuk kami. Meski bukan yang pertama kali karena saat lamaran kemarin kami sudah mencari-cari perhiasan.

Di Cikini Gold Center, aku dan Gita yang memang buta harga pasaran dan tidak tahu seperti apa cincin yang bagus. Berputar-putar tanpa kejelasan di sana. Kami mencoba ke toko yang satu dan lainnya, harganya kurang lebih sama. Perbedaannya sering kali ada pada lama pengerjaan dan ongkos pengerjaan, selebihnya relatif sama. Mungkin karena perhiasan harganya selalu mengacu pada harga pasaran mineral seperti emas, perak dan lain sebagainya.

Cincin yang diprioritaskan adalah cincin bermata untuk Gita. Sementara aku hanya ingin cincin polos biasa tetapi bukan emas sehingga pilihan jatuh pada Paladium.

Sedikit memberi penjelasan pengalaman pribadi pada paladium. Mineral bahan ini memang kerap ditemukan untuk perhiasan sebagai alternatif dari perak. Pertanyaannya kemudian mengapa paladium lebih mahal dari perak meskipun keduanya memiliki warna yang relatif sama yakni silver atau keperak-perakan.

Aku sendiri saat ini merasa agak merugi untuk membeli paladium karena tidak ada fitur yang benar-benar berbeda antara paladium dengan perak. Bahkan sebagaimana perhiasan perak yang sulit untuk dijual kembali, paladium adalah mineral yang jarang sekali diterima untuk dijual lagi.

Cincin yang akhirnya aku beli berbahan paladium berwarna rose, kompakan dengan Gita. Sayangnya warna ini ternyata luncur kembali menjadi warna asli paladium yakni perak! Lalu apa bedanya dengan membeli perak? Itulah yang aku sesali.

Seharusnya aku bisa saja meminta pengrajin cincin untuk menyepuh perak agar berwarna sama seperti emas mawar seperti milik Gita. Selain harganya lebih murah, toh perak juga cenderung bisa dijual kembali.

Ya sudahlah itu pelajaran lain tentang membeli perhiasan untuk pria.

Sementara cincin milik Gita memang benar-benar berkualitas. Meski bukan bermata berlian, cincin yang dia kenakan menurutku cukup mewah. Matanya besar dan warna rosenya cukup awet. Total gramnya sekitar 3 gram.

Sebenarnya berat cincin normalnya adalah sekitar 4 gram. Tetapi Gita punya ukuran jari yang agak sulit. Akhirnya harus dibuatkan dengan ukuran jarinya.

Jarak pemesanan cincin hingga cincin selesai tidak sampai satu bulan. Kalau tidak salah hanya tiga minggu, dan biaya pengerjaannya sudah termasuk dalam harga total sekitar 5 jutaan untuk dua cincin. Secara pelayanan dan hasil rasanya standar saja, tidak ada yang istimewa kecuali memang mereka memiliki contoh koleksi cincin yang lebih bagus dari toko lainnya (ya karena ada yang dipilih Gita).

Ternyata Gita bilang kalau Vins memberikan banyak servis terkait dengan cincin miliknya. Ada banyak custom yang berbeda dari contoh cincin yang Gita temukan di toko. Custom ini ternyata tanpa biaya dan harga tetap sesuai dengan biaya pembuatan itu sudah termasuk engrave namaku dan Gita.

Dan soal cincin ini adalah hal yang paling aku sukai dari sekian banyak keriwehan barang persiapan.

Total biaya: Rp5.200.000

  • Cincin nikah
    Foto: @Ziyanzeinzain

Usai cincin, selanjutnya adalah soal suvenir.

Benih-benih suvenir

Soal suvenir jelas kami berpikir keras apa yang bisa diberikan pada tamu yang hadir saat acara. Di acara lamaran sebelumnya suvenir yang diberikan adalah sedotan bambu Pinus Anima. Tentu suvenir yang sama tidak bisa diberikan kembali di acara akad.

Lagi-lagi instagram dan pinterest jadi tempat mencari referensi. Berbagai jenis suvenir coba kami diskusikan bersama. Mana yang tidak menimbulkan sampah dan mana yang memiliki manfaat agar bisa digunakan oleh para penerimanya.

Tidak ada yang cocok.

Suvenir gaya hidup tanpa plastik seperti sedotan ataupun alat makan sudah digunakan di acara lamaran kemarin. Tentu kami tidak ingin mengeluarkan suvenir itu lagi. Alhasil harus mencari suvenir dalam bentuk lain untuk acara akad nikah dan resepsi.

Gita tiba-tiba menemukan sebuah akun di instagram yang menjual produk suvenir murah. Produknya adalah benih tanaman sayur yang dikemas menggunakan botol kecil. Benih itu dihias dengan pernik-pernik mini yang membuat suvenir terlihat seperti sebuah miniatur botol bersurat di dalamnya. Unik dan kreatif. Harganya pun terjangkau.

Lokasi sellernya cukup jauh dari kota, tapi ya namanya mau jalan bareng. Waktu itu kami rela untuk datangin masnya langsung untuk order. Set up nama dan rekues benih apa yang ingin dikemas. Kita beli sekitar 250 botol kalau tidak salah. Sesuai jumlah undangan acara akad dan resepsi di Bandar Lampung.

Total biaya: Rp805.000

Mahar

Dari barang-barang di atas sepertinya ini yang paling penting. Soal emas mahar nikah. Sebenarnya pusing sekali memikirkan soal ini. Gita awalnya meminta mahar yang cukup tinggi dan belum bisa aku jangkau. Tapi kemudian aku menawarkan mahar jumlah lain berupa koin dinar.

Saat itu aku memang sedang sering mengamati pergerakan harga emas karena memang untuk keperluan menikah, cepat atau lambat aku harus tetap beli kan?

Dinar dan dirham yang aku tawarkan saat itu berjumlah satu dinar dan lima dirham. Seluruhnya merupakan koin terbitan PT. Antam. Aku berpikir, dengan memberi dinar, setidarknya saat disebutkan dalam akad nikah agak sedikit keren. Bukan emas seperti biasa atau barang.

Koin-koin itu aku beli di Surabaya, di Butik Emas Antam yang terletak di jalan Pemuda di Gedung Medan Pemuda. Saat itu total mahar yang aku keluarkan sekitar tiga juta.

Perlu dicatat bahwa satu dinar setara dengan 4.25 gram emas dengan kadar 91,7 persen. Sementara dirham memiliki berat 2,975 gram perak dengan kadar 99,95 persen. Jadi harga dinar dan dirham akan tetap mengikuti fluktuasi harga emas dan perak. Detailnya bisa dicek di situs Logam Mulia milik Antam.

Aku kira setelah membeli mahar, sudah selesai. Mahar tidak perlu diapa-apakan dan hanya perlu diserah terimakan di saat akad. Ternyata tidak, Gita ingin mahar diberi kotak dan terlihat cantik sehingga saat akad tidak sekadar koin. Pusinglah aku saat itu, harus dihias seperti apa ya. Dan Gita seperti biasa ingin bisa membuat hiasan sendiri. Alhamdulilah masih sempat untuk mendapatkan vendor untuk kotak hias mahar.

Ini hasilnya. Bagus sekali dan ga nyangka sih bisa dibuat seperti ini. Seperti biasa, ini kreatifitas Gita. Emang jago kalo soal beginian.

Ini hasilnya.

  • koin mahar kulawarga

Total biaya: Rp2.800.000


*catatan: total biaya yang ditulis adalah perkiraan.

Undangan sudah, cincin sudah, suvenir sudah, mahar sudah dan aku lupa apa lagi ya yang kira-kira waktu itu kami persiapkan. Saat bertanya ke Gita, “apa aja sih yang kita riwehin waktu nikah kemarin?” dia cuma bilang, “nikahan kita ga ada yang riweh.”

Ya sudah, aku sendiri lupa sudah persiapin apa aja. Kira-kira empat barang di atas sih yang kami persiapkan khusus untuk acara di Bandar Lampung.

Nah, buat kamu yang sedang mempersiapkan pernikahan, ada baiknya semua barang dibuat daftarnya. Daftar inventarisir barang menjadi sangat penting untuk persiapan.

Selain mempermudah memeriksa apa saja yang sudah dan belum didapat, daftar itu juga bisa menjadi rekap proyeksi biaya yang dikeluarkan dan juga realisasi pengeluaran kebutuhan acara. Termasuk mendaftar vendor-vendor yang sudah mendukung berlangsungnya acara.

Tapi satu hal yang perlu dicatat adalah, sebisa mungkin kordinasi untuk catatan persiapan dikomunikasikan dengan pihak orang tua juga agar lalu lintas persetujuan dan uang bisa dicatat.

Kasus yang kami alami adalah orang tua ternyata juga melakukan dealing sendiri dengan vendor akhirnya, kami tidak sampai hati untuk bertanya berapa biaya yang dikeluarkan.

Selain terasa tidak sopan, bertanya biaya terkesan seperti berusaha untuk bisa menutupinya dengan uang kami sendiri. Padahal kami tidak punya banyak kemampuan untuk itu. Yah, akhirnya kami hanya bisa mengira-ngira berapa biayanya.

Kata Gita, persiapan untuk seluruh acara Bandar Lampung mulai dari akad hingga resepsi biayanya mencapai 60 jutaan. Biaya terbesar sepertinya ada di set up rumah agar pantas untuk diadakan acara (bapak Lampung mendatangkan beberapa truk angkut pasir untuk meninggikan tanah di depan rumah), tenda, dan juga katering.

Harga segitu kata Gita cukup wajar sebenarnya jika mengadakan acara di Bandar Lampung yang memang biaya-biaya pernikahan cukup mahal.

Ya, buat kami biaya akad nikah seperti ini bisa menjadi patokan berapa kira-kira uang yang ingin kami bisa kembalikan ke orang tua dalam bentuk atau kesempatan yang lain. Bagaimanapun ada hutang moral yang harus dipenuhi ketika dalam pernikahan mayoritas persiapan dibebankan pada orang tua.

Jadi, buat yang ingin menikah, persiapkan segalanya dengan detil dan lakukan bersama-sama. Berat memang, tapi jika dilakukan bersama pasangan tentu terasa seperti bermain bersama dan bertualang bersama untuk membangun sebuah acara bersama.

Bahagia, insyaallah.

Cerita selanjutnya akan membahas tentang bagaimana aku merasakan tekanan menuju akad nikah. Hal-hal penting yang menjadi pondasi sebuah pernikahan dan saat akad itu sendiri. Simak terus Kulawarga untuk mendapatkan kisah-kisah menarik dari keluarga kami.

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Penulis konten yang punya latar belakang pendidikan bisnis. Sempat jadi jurnalis. Kemudian terobsesi dengan buku dan pengetahuan. Impian terbesarnya adalah membuat film dokumenter dan bikin perusahaan yang peduli keberlangsungan alam.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *