Mantapnya Langkah Kaki

Mantapnya Langkah Kaki

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Memulihkan diri untuk kemudian berdiri kembali memang bukan hal yang mudah. Tahun 2018 sepertinya memang pantas bila disebut sebagai tahun Awakening. Tahun tentang sesuatu yang kembali berjaga, kembali tergugah. Dan siapa yang menyangkan kembali terjaga itu terjadi di akhir-akhir menjelang berakhirnya tahun.

Berharap untuk kembali bertemu mereka yang telah pergi, tentu saja membuat diri harus mampu bangkit sendiri. Tanpa bantuan, tanpa mengharapkan dukungan dari orang lain. Visi yang harus dicapai adalah tentang bagaimana bisa kembali berjalan menuju tujuan yang telah ditetapkan yakni membangun kebermanfaatan yang lebih besar dari diri.

Salah satu langkah dalam visi tersebut adalah mencari pendamping yang mau berkolaborasi, yang mau sama-sama melangkah kaki untuk memberikan kebaikan-kebaikan. Langkah yang kemudian menjadi misi yang mau tidak mau harus terselesaikan.

Bukan, langkah pencarian itu bukan karena alasan usia, bukan pula karena alasan-alasan lain yang remeh. Menemukan pendamping sesegera mungkin bagiku adalah misi yang dibutuhkan untuk tercapainya visi yang lebih besar.

Ketika aku menyampaikan pandangan dan angan itu pada seseorang itu artinya aku sedang mencari. Siapa yang menyambutnya dengan baik. Pun ia harus mau untuk berjuang bersama, fokus pada tujuan. Tidak terjebak pada perdebatan yang tidak esensial. Melakukan peran sesuai komitmen dan menyelesaikannya dengan baik.

Seorang teman sempat berkata padaku, dirimu seharusnya sedang mencari kekasih bukan sedang mencari partner kerja. Aku merenungi hal itu begitu lama. Benarkah aku sedingin itu? Sayangnya tidak ada jawaban yang cukup memuaskan, atau mungkin aku belum menemukan jawaban yang tepat. Tapi satu hal yang aku tahu adalah, kaki ini harus terus berjalan. Berjalan dengan langkah yang mantap dan juga kuat.

Perjalanan masih panjang, tentu saja gangguan-gangguan atau perdebatan yang sampai menghambat perjalanan harus dihindari. Jika sampai terjadi tentu penyebabnya harus diselesaikan jika perlu disingkirkan. Ini bukan tentang bersikap kejam dan dingin, tetapi tentang bersikap rasional dan progresif.

Siapa bilang aku tidak merasakan sakit ketika keputusan harus diambil. Keputusan yang tentu menyadarkan bahwa diri ini telah menyia-nyiakan waktu. Perasaan adalah kekayaan batin, dan tentu saja itu adalah harta yang berharga. Alasan itu pula yang seharusnya mendasari bagaimana pentingnya tetap menjaga perasaan untuk tetap hidup. Tidak mematikannya hanya karena komitmen dan tujuan.

Visi memang menjadi arah ke mana kaki ini melangkah, tapi yang terpenting adalah bagaimana kita menjalani perjalanan dengan kebahagiaan dan kebersamaan. Sebab hanya itulah cara yang akan mengantarkan kaki untuk sampai pada tujuan.

Sehingga pada akhirnya, aku harus percaya bahwa mantapnya kaki untuk melangkah adalah intuisi yang harus dipercaya. Setiap saat. Setiap waktu. Inilah Awakening yang sebenar-benarnya.

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Penulis konten yang punya latar belakang pendidikan bisnis. Sempat jadi jurnalis. Kemudian terobsesi dengan buku dan pengetahuan. Impian terbesarnya adalah membuat film dokumenter dan bikin perusahaan yang peduli keberlangsungan alam.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *