Keputusan dan Keyakinan

Keputusan dan Keyakinan

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

“Kita bukan pabrik penghasil kebahagiaan yang tidak akan menyakiti pasangan kita. Sekali dua kali, pasti ada perkataan, tindakan, ketidaksengajaan kita yang membuat pasangan kita kecewa. Tapi menjalin hubungan bukan hanya tentang terus menerus memproduksi bahagia.”

Gita Prayitno, 2018

Kata-kata itu yang mungkin bisa mengawali tulisan kali ini. Sebuah kata-kata yang sering kali aku dapatkan darinya, sosok perempuan yang saat ini telah menjadi seorang istri untukku.

Langkah kaki kala itu memang mantab meski dalam situasi goyah tanpa pijakan yang benar-benar kuat. Hal yang menjadi keyakinan hanyalah senyapnya kata-kata dalam diri sebagaimana saat aku berhasil mendaki gunung tertinggi di pulau jawa bulan Juni tahun lalu.

Aku membayangkan hal yang sama, bekal apapun yang kita bawa. Sebanyak apapun tidak akan mampu untuk menjadi jawaban apakah kita akan mampu untuk mencapai tujuan. Sebab hanya satu yang kemudian akan memberikan kepastian, yakni keputusan dan keyakinan.

Ambil keputusan kemudian jalani dengan yakin. Sehingga bisa menjawab pertanyaan yang diluncurkannya saat itu juga.

“Do you have strength to make yourself better and better day to day?”

Gita Prayitno, 2018

Dengan keyakinan setiap tantangan akan bisa terjawab. Dengan keyakinan tentu saja jalan akan terbuka. Bukan berarti tantangan menjadi semakin mudah, tetapi kita akan menjadi semakin kuat. Setidaknya, secara mental. Menjadi lebih baik dari hari ke hari.

Dan keputusan itu akhirnya terjadi ketika aku memutuskan untuk berangkat bertemu kedua orang tuanya di Lampung. Perjalanan yang tidak singkat dan membutuhkan biaya tidak sedikit.

Semua seakan diuji, seberapa yakin diri ini. Hari itu adalah hari Jumat, aku berencana untuk sholat Jumat di bandara Juanda (SUB). Namun aku terlalu siang untuk memesan transportasi daring. Tidak ada satupun yang mau menyambut permintaanku. Dengan sedikit kekhawatiran akhirnya memutuskan untuk sholat Jumat saja di dekat rumah.

Tentu sholat Jumat di rumah mempersingkat waktu untuk bisa tiba di bandara. Pertarungan antara yakin aku akan diberi kemudahan dalam proses ini melawa ketakutan apakah aku tidak diridhoi bercampur dalam diri.

Tidak mudah untuk menenangkan diri dalam situasi ini karena pesawat yang aku tumpangi harus tepat waktu agar aku bisa berlanjut ke pesawat berikutnya yang sudah menunggu di bandara Soekarno Hatta (CGK) menuju bandara Raden Inten II (TKG). Jika datang terlambat jelas aku terlambat pula untuk penerbangan ke lampung.

Keraguan-keraguan harus dihadapi dengan tenang dan kepala dingin. Ini pertama kalinya aku merasa ada semacam bisikan yang membuat diri menjadi ragu. Itulah mengapa proses pernikahan buat aku seperti sebuah ujian keimanan, kepada siapa aku harus yakin dan percaya.

Singkat cerita aku bisa mencapai SUB dan naik pesawat dengan tepat waktu. Pesawat memang berangkat agak terlambat beberapa menit. Tapi aku masih tenang.

Penerbangan ke CGK juga tepat waktu, hanya saja ketika mendarat ternyata pesawat berada di lokasi mendarat yang jauh dari lounge kedatangan. Dari sinilah aku mulai kebingungan. Aku merasa harus keluar dari pesawat segera. Tapi tangga turun dari pesawat juga tidak juga tiba. Penumpang harus menunggu. Aku berusaha menyelip-nyelip untuk berada di dekat pintu keluar.

Tiba-tiba telepon berdering. Dari Gita.

“Mas di mana? Sudah mendarat? Sebentar lagi pesawat ke Lampung boarding”
“Masih di pesawat”
“Lho terlambat ini”
“Ya gimana, emang masih di pesawat mau keluar juga ga bisa”
“Kok tenang-tenang aja sih”

Telepon kemudian ditutup.

Belum beberapa menit telepon kembali berdering. Dari Gita.

“Mas pesawatnya delay, ada gangguan mesin.”
“Lah, kok bisa?”
“Ga tau, pokonya cepetan ke sini ya”

Telepon ditutup.

Tidak lama kemudian aku bisa turun dari pesawat. Entah bagaimana aku terharu dan tersenyum. Kemudian berkata hamdalah sembari berlari keluar kedatangan menuju lounge keberangkatan.

Aku masih bisa check in karena Gita sudah melakukannya untukku. Aku kemudian menuju ruang tunggu.

Saat aku menuju tangga, aku melihatnya berdiri. Keheranan sembari sepertinya berkaca-kaca.

“Hei, selamat datang mas. Kok bisa sih woles-woles aja gitu. Aku kabarin mama juga mama khawatir gara-gara gangguan mesin. Baru aja kemarin pesawat yang itu jatuh kan.”

“Ya namanya juga takdir, mas juga ga nyangka masih sempat.”

Malam itu kami masih juga harus menunggu karena delay diperpanjang akibat hujan deras. Tapi akhirnya kami bisa mendarat dengan selamat di TKG. Jika tidak, tidak akan ada cerita ini di sini.

Aku disambut selama tiga hari di rumah. Bercengkrama, menyampaikan maksud dan diajak berlibur bersama. Saya terkejut bisa dianggap sebagai orang dekat dengan begitu singkat. Terima kasih pada mama dan abinya Gita.

Dalam hati aku sangat bersyukur perjalanan ini seperti dimudahkan. Berbeda sekali dengan apa yang terjadi sebelum sholat Jumat.

Inilah momen yang kemudian berusaha aku ingat selalu. Bahwa keyakinan akan selalu bisa melampaui keraguan-keraguan. Meski kita merasa gugup, atau bahkan panik. Tapi kita harus bisa menenangkan diri mengambil keputusan kemudian menjalaninya.

Sebagaimana yang dikatakan Gita di awal. Perjalanan ini bukan selalu tentang selalu kebahagiaan. Tapi tentang bagaimana menjadi lebih baik dari hari ke hari. Terima kasih telah menerimaku dan mengingatkan selalu.

Tentu saja diberi jalan kemudahan tidak berhenti di saat ini saja. Masih ada cerita-cerita lain yang ingin aku sampaikan.

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Penulis konten yang punya latar belakang pendidikan bisnis. Sempat jadi jurnalis. Kemudian terobsesi dengan buku dan pengetahuan. Impian terbesarnya adalah membuat film dokumenter dan bikin perusahaan yang peduli keberlangsungan alam.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *