Kebimbangan, Mencari Jawaban di Tengah Badai

Kebimbangan, Mencari Jawaban di Tengah Badai

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Ada gemuruh yang terasa semakin menguat kala itu. Interaksi-interaksi sederhana, singkat dan terkesan sepele. Tapi entah bagaimana gemuruh itu seakan terus menerus muncul. Aku tidak tahu, apa sebenarnya itu. Dan aku memutuskan untuk berbicara dengan dengan sosok baik yang aku kenal kala itu.

Saat itu aku berbicara dengannya di depan air terjun. Berbagi cerita dan merencanakan banyak hal. Termasuk berbincang tentang bagaimana aku mengenal seseorang. Lewat dunia maya, yang kala itu aku mengatakan padanya kalau dia cukup unik dan mari kita berteman dengannya.

Perjalanan waktu rupanya mengantarkanku pada situasi yang berbeda. Saat itu aku mendapat kesempatan untuk berangkat menjawab panggilan menjadi tamu di Tanah Haram. Sehingga aku berencana untuk menyampaikan keresahan tentang apa yang harus diperbuat.

Secara mengejutkan. Sebelum keberangkatan, nyaris sebelum aku masuk ke bandara yang baru saja diresmikan itu ia muncul dan memberiku sebuah pena. Pena hitam yang entah saat ini aku tidak tahu ada di mana.

Aku terheran-heran ketika ia rela datang ke bandara dari tempat tinggalnya. Membutuhkan perjalanan setidaknya dua jam dari tempat ia tinggal dekat kampusnya ke bandara ini. Tapi katanya, ia sudah biasa. Ah aku menyadari satu hal, betapa besar hati perempuan ini. Padahal kami baru mengenal beberapa bulan saja.

Singkat cerita sampailah aku di Tanah Haram, aku berusaha untuk memahami dan mengerti apa saja yang harus dilakukan di sana. Aku mengamati dan membimbing jamaah lain yang kebanyakan adalah orang-orang sepuh. Sembari berusaha meminta nasehat-nasehat beliau tentang kebimbangan yang sedang aku alami.

Paus yang besar, sedang dalam badai yang besar.

Di sana, aku juga bertemu dengan kerabat sahabatku. Kembali aku meminta nasehatnya, bagaimana seharusnya aku bertindak dan memutuskan. Sebab keputusan besar tidak bisa diambil sendiri, melainkan memang harus melibatkan restu orang tua yang kala itu tidak juga aku dapatkan.

Ada beberapa momen unik yang mungkin bisa diingat kala itu. Seperti saat tiba-tiba bertemu dengan seseorang bernama Mirza Muzammil dari Bangladesh. Ia mengaku sebagai seorang pengajar bahasa Inggris di Riyadh. Keunikannya adalah sejenak setelah mengenalnya sholat magrib berlangsung dan imam melantunkan pula surat muzammil. Orang yang berselimut. Entah apa maknanya.

Sementara seusai perjalanan rasanya jawaban tidak benar-benar terindera. Tidak ada kecenderungan pada siapa harus menuju. Aku berkesimpulan untuk tetap berteman baik dengan siapapun. Kemudian tidak lagi risau untuk menyegerakan hingga orang tua menunjukkan persetujuan.

Badai itu mereda sejenak. Namun aku tidak menyangka akan ada badai yang lebih besar mendatangi di beberapa bulan kemudian.

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Penulis konten yang punya latar belakang pendidikan bisnis. Sempat jadi jurnalis. Kemudian terobsesi dengan buku dan pengetahuan. Impian terbesarnya adalah membuat film dokumenter dan bikin perusahaan yang peduli keberlangsungan alam.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *