Jari-jari yang Siuman

Jari-jari yang Siuman

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Aneh rasanya ketika menyadari bahwa ternyata jari-jari ini telah lama tertidur. Jari-jari yang biasanya menari-nari menyampaikan cerita-cerita lucu, aneh, dan jenaka ternyata malah tertidur usai melompat ke sana kemari. Entah apa yang sebenarnya terjadi, tapi itu tidaklah penting lagi.

Fakta terpenting saat ini adalah rupanya jari-jari itu telah kembali. Dia siuman dari tidurnya yang cukup lama sejak pandemi dinyatakan berakhir. Pandemi yang membuat setiap orang mengurung diri kemudian hanya fokus pada jempol-jempolnya yang tidak terkendali. Rasa iri yang membuat jari-jari tidak ingin menari. Dia menyaksikan para jempol semena-mena mengatai siapapun yang dia sukai dan benci.

Mungkin itu perasaannya selama ini. Perasaan tidak nyaman yang terpendam selama ini karena hanya menjadi saksi namun tidak punya kemampuan untuk berkontribusi apalagi mengubah situasi. Dia hanya melihat bagaimana jempol yang hitam memicu keributan dan saling hasut, setiap hari.

Di lain sisi, jempol pula yang berusaha mencari simpati. Viral jadi goal utama yang dihargai lebih dari bongkahan emas sikap diam. Saat itu tidak tercapai, betapa marahnya dia dengan dirinya sendiri. Mencak-mencak, bertanya kenapa dunia ini tidak adil untuk dia. Padahal, para jempol harus menyadari, tidak semua yang di internet harus viral dan diterima banyak orang.

Pemandangan dua sisi koin gila yang seperti ini membuat jari-jari bertanya-tanya, lalu apa artinya hidup ini. Apa artinya tarian kata-kata yang selama ini dilakukan, jika ternyata rekan terdekatnya hanya punya orientasi untuk mencari keuntungan dari setiap sentuhannya di layar berpendar itu.

Mempertanyakan tujuan ketika berjalan adalah hal terburuk yang dilakukan oleh seorang pengembara. Sebab pengembara hanya akan menemukan makna ketika dia telah tiba di tujuan. Tidak peduli apakah itu tujuan yang benar atau salah. Tapi perjalanan itu harus tetap dilakukan sampai tuntas. Baru kemudian dia bisa menyimpulkan, apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Sementara mereka yang mempertanyakan tujuan di tengah perjalanan, hanya akan menciptakan keraguan. Dia bahkan tidak tahu mana yang akan dilakukan. Di kepalanya ragu apakah harus kembali ke tempat keberangkatan, atau melanjutkan sampai ke tujuan. Perdebatan gila yang hanya akan membuat dia terhenti di tengah perjalanan. Sampai akhirnya menjadi mati karena statis tanpa pergerakan.

Semua berkat sorot mata kejam, semua berkat jempol yang tidak terkendali. Menciptakan keraguan bahkan ketika seseorang sedang berusaha menyelesaikan misi. Fenomena yang kini jamak jari-jari temui. Tidak heran jika kemudian jari-jari berhenti, sebelum kembali melanjutkan perjalanan ke sana kemari.

Tidak peduli apakah dia dicari. Tidak peduli meski ada uang menanti. Bahkan tidak peduli jika dia tidak lagi dipercaya karena dianggap tidak lagi profesional pada komitmen yang sudah terjadi.

Satu hal yang menjadi paling berarti adalah dia bisa menikmati, setiap detik istirahat yang dia lalui. Dalam tidur yang pelan tapi pasti. Penuh kesadaran yang selama ini tidak dia temui.

Tapi berlama-lama berhenti bukanlah jawaban atas apa yang selama ini terjadi. Untuk menemukan solusi, jari-jari perlu kembali siuman menemani jempol-jempol yang selama ini berperi sesuka hati. Bukan lagi untuk mengubah dunia ini, tapi untuk kembali berkontribusi. Tidak harus perubahan terjadi, tapi setidaknya jari-jari menemukan makna dari berkreasi.

Karya, tidak harus selalu berarti. Apalagi untuk orang lain yang jadi pemerhati. Sebab yang terpenting adalah diri sendiri. Bukan karena egois diri, tapi karena tubuh dan kalbu adalah pondasi. Tanpa keduanya, tidak akan ada lagi tari-tarian yang menginspirasi. Karena lagi-lagi para jempol yang mendominasi hanya peduli pada keuntungan dan ketenaran, dan bukan kesadaran diri.

Jari-jari yang siuman kembali, mungkin bisa menjadi motivasi serta kabar baik di pagi hari. Sembari kembali menanti, kita hanya bisa bersulang untuk merayakan sendiri. Sebelum perjalanan kembali di mulai seorang diri. Selamat datang kembali jari-jari yang telah dinanti.

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Penulis konten yang punya latar belakang pendidikan bisnis. Sempat jadi jurnalis. Kemudian terobsesi dengan buku dan pengetahuan. Impian terbesarnya adalah membuat film dokumenter dan bikin perusahaan yang peduli keberlangsungan alam.

Leave a Comment

Your email address will not be published.