Di Kafe itu Semua Bermula

Di Kafe itu Semua Bermula

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Hari itu aku sepakat untuk menemuinya untuk pertama kali. Setelah beberapa minggu hanya berkorespondensi melalui aplikasi tukar pesan berwarna biru. Pertemuan yang benar-benar asing. Kami bahkan tidak pernah bertatap muka apalagi bertukar nomor telepon.

Hari itu, sore itu aku hanya bersiap seadanya. Berpakaian kemeja formal berwarna marun ala pegawai kantoran dengan jaket hitam yang sudah usang. Aku berangkat menggunakan kereta setelah tugas meliput usai.

Tibalah di Tebet yang terkenal dengan kulinernya itu. Berbagai macam kafe dan restoran tersebar di sudut-sudutnya. Aku tidak paham, manakah yang enak, mana yang pantas. Bodohnya aku datang terlambat. Ia sudah keburu memberitahukan di mana kami harus bertemu.

“Di sebuah kafe di sudut,” ujarnya lewat aplikasi itu.

Aku masih tidak mengerti dimana lokasinya. Akupun saat ini tidak ingat apa nama kafe itu. Aku hanya ingat interiornya. Sepertinya berwarna cerah kekuningan. Aku datang ke kafe itu melihatnya duduk dengan seorang laki-laki. Siapa dia? Aku tidak mengenalnya saat itu. Tapi kini ia adalah salah satu sahabat.

Chat photo by Joshua Ness

Kami kemudian bertegur sapa dan aku mulai duduk di sebrangnya. Seperti biasa saat bertemu orang baru, basa basi perkenalan. Dari mana, sibuk apa dan obrolan receh lainnya.

Aku tidak ingat pula saat itu memesan makanan apa. Sialnya, aku juga lupa kami bercakap apa saja. Aku hanya ingat beberapa momen aneh yang terjadi malam itu.

Kala itu ia bersama temannya tiba-tiba ribut tentang seseorang yang tidak ada di sana.

Ketika cekcok itu reda, aku berusaha memberikan masukan. Aku hanya ingat kala itu berkata, “ada kalanya kebahagiaan diri sendiri itu lebih penting dari pada membahagiakan orang lain.”

Entah mengapa aku berani-beraninya berkata seperti itu, sebab aku ingat sekali aku sendiri masih kerap berusaha membahagiakan semua orang tanpa memperhatikan kebahagiaan diri sendiri. Sesuatu yang beberapa waktu kemudian aku sadari dengan sumber pesan yang berkebalikan.

Malam itu pula entah mengapa aku memutuskan untuk memberikan sebuah buku tentang berbagi. Sebuah buku yang sempat menjadi tradisi ulang tahun untuk diberikan kepada seseorang yang rasanya layak untuk memilikinya.

Singkat cerita, malam semakin larut dan pertemuan berakhir singkat. Kami memutuskan untuk pulang.

Dalam perjalanan menuju moda transportasi masing-masing, aku bertanya padanya bagaimana kesan pertama kali bertemu dengan orang asing sepertiku.

Ia menjawab, “kamu adalah orang yang hangat.”

Jawaban yang mengejutkan karena selama ini kesan orang padaku selalu tentang dingin dan diam. Deskripsi yang jelas jauh dari kata hangat. Malam itu aku pulang dengan keheranan. Bagaimana mungkin ia melihat sesuatu yang berbeda. Siapa dia sesungguhnya.

Sisanya kemudian menjadi sebuah sejarah besar. Ya pertemuan di kafe malam itulah ketika semuanya bermula.

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Penulis konten yang punya latar belakang pendidikan bisnis. Sempat jadi jurnalis. Kemudian terobsesi dengan buku dan pengetahuan. Impian terbesarnya adalah membuat film dokumenter dan bikin perusahaan yang peduli keberlangsungan alam.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *