Cara Mengobati Kesepian: Menjadi Teman Bagi Diri Sendiri

Cara Mengobati Kesepian: Menjadi Teman Bagi Diri Sendiri

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Dulu, rasanya aku nggak bisa kemana-mana sendirian. Makan, pergi ke cafe, olahraga pagi, main ke Timezone, bahkan belanja bulanan rasanya nggak nyaman kalau tidak ada yang ikut menemani. Nggak harus kekasih, teman juga nggak apa-apa. Bahkan, saking rasanya butuh “ditemani”, menghubungi orang asing atau layanan ojek online untuk menemani belanja bisa jadi pilihan solutif di kepalaku —untungnya belum pernah nekat aku lakukan.

Aku menilai semua kegiatan itu sebagai “aktivitas sosial”. Makan bukan hanya untuk kenyang, makan juga jadi waktu untuk saling bercerita. Belanja bukan hanya untuk mendapatkan kebutuhan bulanan, belanja juga jadi waktu untuk menghilangkan kepenatan bersama. It’s all social bonding activities. Begitu menurutku.

Setiap kali aku merasa sendirian, aku berusaha menghubungi orang lain. Beruntung waktu itu aku tidak punya relasi romantis dengan siapapun yang membuatku harus bergantung hanya pada satu orang —setidaknya menurutku begitu. Alhasil, siapapun yang sekiranya available akan aku ajak keluar. Bahkan aku secara sadar mengeluarkan biaya lebih sebagai kompensasi “mengajak teman”. Iya dong, nggak mungkin aku yang ajak tapi aku nggak traktir kan? Setidaknya membelikan segelas kopi, deh.

Yang paling lucu adalah ada satu momen ketika aku mengajak dua orang teman untuk pergi ke tempat karaoke di mall dekat kampus. Aku yang memesan ruangan untuk dua jam, mereka yang bernyanyi. Aku cuma duduk mendengarkan dan senang melihat teman-temanku heboh bernyanyi. Nggak peduli nadanya tepat atau tidak. Keramaian itu bagiku cukup.

Pernah suatu ketika, aku meminta ditemani mengerjakan skripsi di perpustakaan kampus. Di sana, temanku duduk di dekatku, memainkan ponselnya, menulis di laptopnya dan lama kelamaan tertidur. Sebenarnya aku tidak ada masalah dengan aktivitasnya, kecuali ketika dia hanya hadir tapi tertidur. Aku berpikir, untuk apa menemani tapi tidak terkoneksi?

Waktu itu, aku tidak menyadari bahwa kebiasaanku itu adalah hal yang kurang sehat. Aku beberapa kali merasa tidak nyaman kalau teman yang aku ajak tidak benar-benar “menemani”. Ternyata, definisi “menemani” ini berbeda bagi setiap orang.

Bagiku, menemani bermakna “presence“, “connected“. Bukan cuma fisik yang hadir, tapi juga untuk waktu, pikiran dan jiwa yang hadir utuh. Live in the moment.

Waktu itu aku sempat merasa campur-aduk. Antara aku kecewa karena “tidak ditemani”, tapi juga merasa bersalah karena “memaksa seseorang menemani”. Perasaan yang tidak terkendali ditambah emosi yang setengah matang membuat kalimatku jadi nggak baik: “Kamu boleh bilang kalau nggak mau menemani, nggak apa-apa. Kamu boleh bilang kalau kamu lelah, istirahat saja di rumah nggak apa-apa. Kamu tolong bilang kalau bosan, atau kalau merasa terpaksa menemaniku. Tolong bilang, nggak apa-apa,” begitu kira-kira.

Sialnya, aku juga bukan orang yang cukup peka pada perasaan sendiri, tapi juga nggak sensitif sama perasaan orang lain. Ini kekuranganku hingga saat ini. “Silakan bilang”, mengemukakan apa yang dirasakan dengan kata-kata lugas sangat penting untukku, agar aku tidak salah paham. Aku bersedia menerima segala keluhan dan ketidaknyamanan orang lain atas sikapku, tapi tolong utarakan dengan bahasa yang jelas.

Ujung ceritanya, ternyata, banyak orang yang memang merasa kepribadianku toxic. Aku dinilai demanding, senang memanfaatkan orang lain, hedonistik, bahkan manipulatif. Aku tidak mau menyangkal, karena memang bisa saja aku salah dalam berpikir dan bersikap. Hanya saja rasanya jadi sedih, saat tidak ada yang mengomunikasikannya padaku langsung untuk aku memperbaiki diri.

Lama-kelamaan aku menyadari, bahwa bagiku “menemani” nggak sekadar hadir atau duduk dekat di sebelah sepanjang waktu. Menemani bagiku seperti sebuah kedekatan jiwa yang mungkin tidak kasat mata. Bila banyak yang bilang, “yang jauh akan kalah dengan yang selalu ada di dekat”, bagiku tidak begitu sama sekali. Aku justru merasa, barangkali, seseorang yang berjarak jauh dengan kita lebih bisa menemani daripada yang duduk di sebelah tapi tidak saling terkoneksi. Agak rumit memang.

Aku belajar banyak dari beberapa hal di masa laluku. Aku agak berubah. Dari seseorang yang selalu butuh ditemani, kini aku mulai merasa jadi seseorang yang lebih nyaman ketika sendirian daripada ramai tapi merasa kesepian. Meski masih membutuhkan “keramaian”, duduk sendiri di coffeeshop memperhatikan orang-orang ternyata bagiku cukup.

Beberapa teman dekatku dikenal introvert. Mereka menikmati hari-hari bersama dirinya sendiri. Melakukan semua yang mereka suka sendiri. Bahkan bisa sama sekali tidak terkoneksi dengan orang lain. Dulu aku heran, kok bisa ya? Tapi kini aku mulai paham, ternyata memang benar-benar bisa.

Karena yang kita khawatirkan sebenarnya adalah perasaan takut kesepian. Sementara kesepian tidak bisa diobati dengan ditemani orang lain. Kesepian adalah sesuatu yang berbeda. Kesepian ada di pikiran kita sendiri, makanya, kadang kita bingung juga bagaimana caranya menghilangkannya.

Aku mulai menemukan jawabannya ketika bertemu dengan seorang teman yang luar biasa introvert. Aku pernah bertanya, kenapa saat kami bersama dia lebih banyak diam. Waktu itu, jawabannya adalah “Live in the moment“. Menikmati momen adalah salah satu cara mengobati kesepian.

Kamu nggak perlu terlalu keras pada dirimu sendiri untuk terkoneksi dengan orang lain. Cukup terkoneksi dengan dirimu sendiri dulu. Temani dirimu sendiri dulu. Ajak dirimu bicara lebih sering. Nikmati setiap momen, karena tidak ada momen yang bisa terulang lagi dengan persis sama.

Kita memang makhluk sosial yang butuh “teman”. Tapi “teman” nggak harus orang lain. “Teman” bisa jadi adalah diri kita sendiri, mungkin bisa dilengkapi dengan lebih dekat dengan alam, peliharaan, tanaman, udara, suasana, atau musik favorit. Apalagi ketika kelak bertemu dengan seseorang yang membuat kita nyaman, saling menemani akan tumbuh dengan sendirinya tanpa perlu usaha keras. Meskipun cuma saling diam.

Bagiku, ini level tertinggi dari menemani. Aktivitas sosial yang jadi kedekatan batin. Hingga akhirnya, ini mengubah pandanganku soal “rasa ingin ditemani”.

Sekarang, bertahun-tahun dari aku yang dulu, meski masih sering merasa kesepian yang entah dari mana asalnya, aku cukup bisa menemukan “jalan keluar” bagi rasa sepi itu. Aku bisa menjadikan diriku sendiri sebagai teman.

Meski tidak tidur sampai pagi karena merasa kesepian, ternyata keluar sendirian di pagi hari sambil mendengarkan audiobook di earphone bisa mengobati rasa sepi itu. Melihat langit, mendengar suara langkah kaki, terkena sinar matahari, dan tanpa suara menikmati ambience yang alami bisa mengobati rasa sepi itu. Aku jadi sangat menikmati momen-momen sendiri, yang nyatanya tidak sepi. Aku tidak lagi merasa “butuh menghubungi orang lain untuk ditemani”.

Membuat secangkir kopi atau sepoci teh rempah, meracik sarapanku sendiri, pergi ke coffeeshop sendiri yang memang hanya untuk minum kopi, atau menyalakan musik favorit di telingaku ternyata menyenangkan sekali. Aku tidak merasa sedih hanya karena kolom obrolan media sosial sepi. Aku merasa, ditemani oleh orang lain pasti membahagiakan, tapi bilapun sendirian, aku tetap akan baik-baik saja.

Dibanding aku yang dulu, aku yang hari ini merasa jauh lebih baik. Hidup adalah perjalanan yang sebenarnya singkat tapi terasa seperti sedang merantau di tempat yang jauh. Kita tidak pernah tau keberuntungan atau ketidakberuntungan apa yang akan terjadi. Satu-satunya yang tidak akan pergi meninggalkan kita hingga detik paling akhir hanyalah diri kita sendiri.

Jadi, barangkali, cara mengobati kesepian terbaik adalah menjadi teman bagi diri kita sendiri dan mencintainya jujur se-apa-adanya.

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Hello! Thankyou for visiting our page! Hit me up through Instagram too @gita.prayitno or send me some mails to roadiastutyputri@gmail.com

One comment

  1. Diana says:

    Sukaaa bgt tulisannya. Relate sama aku sendiri hehe. Jadi ngerasa ada ngertiin banget. Makasih mba udah menulis tentang ini.

    Semangat terus menulisnya mba 🙂

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *