Cara Memulai Gaya Hidup Minim Sampah Dengan Manajemen Konsumsi

Cara Memulai Gaya Hidup Minim Sampah Dengan Manajemen Konsumsi

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Beberapa waktu lalu, aku diminta sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa “Go Green” di Universitas Jambi untuk mengisi materi di seminar online nasional mereka. Kebetulan, temanya adalah soal hidup minim sampah.

Sejujurnya aku agak bingung juga mau memberi materi apa karena persoalan hidup minim sampah ini panjang sekali ulasannya. Hingga aku memutuskan hanya akan membagikan sedikit materi singkat dan lebih banyak berdiskusi tanya jawab dengan teman-teman peserta.

Lagipula, pengalaman berusaha hidup minim sampah yang kujalani bersama suamiku juga jauh dari sempurna. Mungkin memang praktek besarnya adalah saat kami melaksanakan pernikahan dengan konsep minim sampah tahun lalu, serta mulai menginisiasi penggunaan souvenir minim sampah melalui Manualle.com. Selebihnya adalah kegiatan keseharian dari bangun tidur hingga tidur lagi yang kami upayakan mengurangi dampak sampah bagi lingkungan.

Nah, karena pesertanya rata-rata mahasiswa, aku pun memilih memberikan tips dan trik hidup minim sampah yang sederhana dan bisa dipraktekkan langsung sehari-hari. Karena, kan, buat apa kita panjang lebar bahas materi kalau ujung-ujungnya tidak applicable.

Sebagai pembuka kelas, kami sama-sama mengingat kembali bahwa sebagian besar sampah yang dihasilkan manusia selain limbah industri adalah sampah rumah tangga.

Berdasarkan data, Indonesia sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia menghasilkan 175.000 ton sampah setiap harinya. Sebuah berita yang dilansir oleh Okezone pada 2 Maret 2020 menyebutkan, Indonesia menduduki posisi kedua sebagai negara penghasil sampah terbesar di dunia setelah China.

Sebagai akumulasi, pada 2019 lalu, total sampah yang dihasilkan Indonesia bahkan menyentuh angka 69 juta ton. Kabar buruknya lagi, sebagian besar sampah ini berasal dari sampah rumah tangga hingga kegiatan usaha.

Kira-kira, yang paling dominan adalah sampah rumah tangga sebanyak 48 persen, sampah pasar tradisional 24 persen, sampah plastik sebesar 14 persen, kertas sebesar 9 persen, sisanya terdiri dari logam, karet, kain, kaca dan lain-lain. Ini belum termasuk sampah kawasan komersial seperti kantor, kampus, sekolah dan industri lainnya.

Dari jumlah yang sedemikian besar itu, sayangnya, diperkirakan hanya 40 hingga 60 persen yang dapat terangkut ke tempat pembuangan akhir. Sisanya terbuang sembarangan.

Lalu, kalau sampah sudah terbuang sembarangan, akan ke mana perginya? Tentu saja jadi polusi bagi tanah, menumpuk di saluran air hingga mengotori sungai dan laut.

Sedih sekali melihat data tersebut. Padahal, justru sampah rumah tanggalah yang paling dekat dengan keseharian kita. Bukankah mestinya kita punya andil untuk membantu mengurangi sampah rumah tangga? Sebenarnya apa yang menyebabkan sampah rumah tangga bisa sangat banyak?

Permasalahan Sampah Dan Manajemen Konsumsi Manusia

Hal yang sering aku tekankan mengenai persoalan sampah bukan hanya perkara penggunaan plastik atau zat kimia berbahaya saja. Kondisi ini bisa terjadi juga karena pola konsumsi kita yang seringkali tidak memikirkan dampak panjang dari barang-barang yang kita beli dan kita gunakan.

Kita sering berpikir apa yang sudah dimasukkan ke tempat sampah itu cukup. Seakan bukan lagi tanggung jawab kita. Tapi kita lupa, tidak semua yang kita masukkan ke tempat sampah akan berakhir dengan benar.

Tidak semua sampah itu terangkut ke pembuangan akhir. Kalaupun sudah sampai di pos pembuangan, belum tentu bisa dipilah-pilih dengan benar. Kalau sudah dipilah-pilih pun belum tentu terdaur ulang semuanya.
Sehingga, yang sangat perlu kita lakukan adalah mulai berpikir ulang tentang pola konsumsi kita.

plastic bottles on net
Photo by Angela Compagnone

Iya sih, pasti akan ada yang berkomentar bahwa pengelolaan sampah ini jadi tugas negara. Tapi sebelum berpikir sejauh itu, selama ada hal-hal kecil yang bisa kita ubah melalui tangan kita sendiri, kenapa tidak dilakukan, ya kan?

Ada banyak pertanyaan mengapa permasalahan lingkungan ini seakan hanya dibebankan pada konsumen, sementara kehidupan kita tidak bisa terlepas dari berbagai produk yang menghasilkan sampah tak terdaur ulang seperti plastik.

Selain sampah sisa makanan organik, kertas, logam atau kaca, sampah plastik dalam rumah tangga juga punya daftar panjang sebagai polutan di bumi. Bayangkan, hampir semua kemasan produk saat ini adalah plastik. Mulai dari kemasan minuman, kemasan makanan, kemasan bahan-bahan pokok, kemasan pelengkap kegiatan mandi dan mencuci, perawatan diri dan rumah tangga, semuanya dikemas dalam plastik!

Terlebih, banyak juga produk yang menggunakan kemasan berlapis: skincare, misalnya. Zat cair atau krim di dalam botol, lalu botolnya dilapis lagi dengan kemasan kardus bagian luar. Lalu diberikan kepada konsumen menggunakan wadah kantong plastik juga. Bahkan, untuk beberapa produk pakai ulang seperti piring, gelas atau botol minum (tumbler) kita saja berbahan dasar plastik —Tapi kalau aku pakai kaca dan stainless sih. Soalnya plastik gampang rusak kena suhu panas dan dingin.

Yap! Benar sekali kita hidup tidak terlepas dari produk plastik. Di sinilah sebenarnya mengapa mindset soal manajemen konsumsi menjadi penting.

Kenapa Sih Plastik Dibuat?

Bakelite adalah sintetis plastik pertama yang dibuat oleh Leo Baekeland pada tahun 1907. Tujuannya apa? karena Baekeland khawatir konsumsi manusia dan industri bisa cepat menggerus alam. Waktu itu banyak bahan dari kayu dan kertas. Pemanfaatan alam ini tidak seiring dengan kecepatan menumbuhkan kembali sumber dayanya.

Dengan adanya plastik, diharapkan manusia bisa menggunakannya berulang kali dan meminimalisasi penggerusan sumber daya alam yang bersifat destruktif. Awalnya, niat “menciptakan” plastik itu baik, tapi lagi-lagi, permasalahannya ada pada tingkat konsumsi manusia.

Imajinasi Baekeland ternyata meleset. Konsumsi manusia tetap sangat tinggi. Plastik-plastik yang dulu diklaim cukup ramah untuk alam mulai diproduksi masal dengan berbagai sintetis yang tidak lagi baik untuk alam —juga demi menekan biaya produksinya. Sayangnya, ini tidak diimbangi dengan proses daur ulang plastik yang sistematis. Sehingga akhirnya, dampak lingkungannya menjadi sangat besar.

Plastik yang tujuan awalnya adalah “menyelamatkan”, ternyata menjadi masalah ketika konsumsi manusia tidak bisa terkontrol. Masalah pola konsumsi ini sangat pelik. Toh apabila akhirnya sekarang kita “dipaksa” kembali ke berbagai produk alami, ramah lingkungan dan non plastik, seberapa jauh kita bisa menjaga rantai sustainability-nya?

Jadi sebenarnya, kalau ditanya “bagaimana terlepas dari plastik”, mungkin perlu direvisi jadi “bagaimana terlepas dari produk yang sekali pakai dan menyisakan limbah tidak terdaur ulang?”. Produk-produk plastik atau non plastik yang saat ini ada, selama bisa digunakan berulang dan bertahun-tahun, akan lebih baik sehingga tidak perlu menambah konsumsi.

bag of apple
Photo by Priscilla Du Preez

Kalau memikirkan sustainability, menggunakan botol minum plastik, piring plastik, gelas plastik, itu mungkin nggak terlalu jadi masalah karena kita punya waktu mempersiapkan rencana daur ulangnya nanti bagaimana. Idealnya sih begitu, nggak dibiarkan jadi sampah mengambang di lautan

Kita memang tidak bisa terlepas dari plastik, tapi kita bisa merencanakan plastik apa yang bisa digunakan berkali-kali, bagaimana nanti saat rusak harus diapakan, ke mana bisa dikirim untuk didaur ulang dan sebagainya… begitu juga produk lainnya selain plastik.

Katakan misal begini, seandainya tidak ada imbauan pemerintah untuk mengganti plastik sekali pakai yang diberikan kasir supermarket dengan totte bag, apakah kita terpikir untuk menggunakan plastik yang sudah ada di rumah untuk belanja?

Di rumah kita, yakinlah plastik berbagai ukuran banyak menumpuk. Tapi kita sendiri jarang terpikir untuk membawanya kembali membeli sesuatu. Setiap berbelanja, kita dapat plastik baru… begituuu terus. Padahal, mental menggunakan yang reusable dan tidak konsumtif adalah kuncinya.

Kalaupun kelak kita kembali ke kehidupan tanpa plastik, ke totte bag, ke sedotan stainless, ke sedotan bambu, apa yakin akan sustainable tanpa mengontrol pola konsumsi kita?

Kita kerap saja membeli berulang, menambah jumlah barang di rumah padahal yang ada masih bisa digunakan. Coba ingat lagi, berapa banyak totte bag yang kita beli cuma karena desainnya lucu, bukan karena fungsinya? Hayooo…

Tips Manajemen Konsumsi Untuk Pola Hidup Minim Sampah

Aku bersama teman-teman selalu menekankan kunci dari prinsip 6R: reuse, reduce, recycle, refill, replace dan repair dalam kehidupan sehari hari. Karena setidaknya, inilah yang bisa kita lakukan, berdampak, dan bisa masif kalau dilakukan kolektif.

Ada banyak sekali kebiasaan kecil yang bisa kita terapkan untuk memulai pola hidup minim sampah. Misalnya seperti ini, bayangkan di suatu hari kita harus pergi ke luar rumah. Kita bisa mulai memperhatikan hal-hal berikut ini:

1. Isi penuh botol minum kamu

Sebelum berangkat, pastikan kita membawa botol minum yang bisa diisi ulang, membawa sedotan reusable supaya kita tidak perlu menggunakan sedotan plastik, dan membawa sapu tangan sendiri supaya tidak menghabiskan banyak tisu.

2. Pakai Totte Bag untuk belanja

Kita juga bisa membawa totte bag sendiri sebagai pengganti plastik belanjaan apabila nanti membeli sesuatu. Atau juga, apabila ada plastik-plastik yang kita simpan di rumah, bisa lho kita bawa untuk wadah belanja lagi.

3. Bawa kotak makanan untuk jajan

Kalau kita punya wadah-wadah makan kecil dan ringan, ini juga bisa kita bawa apabila nanti kita ingin jajan di jalan. Jadi kita tidak perlu menggunakan plastik sekali pakai sebagai wadahnya, karena kita sudah bawa wadah sendiri. Ini yang mulanya susah aku praktekkan. Kepengin banget rasanya jajan cilor, bakso tusuk, telur gulung, tapi semuanya pakai plastik. Akhirnya, demi bisa jajan micin, niat banget deh bawa wadah dari rumah. Hehe.

4. Jangan lupa bawa alat makan juga

Membawa alat makan sendiri juga sering berguna, karena tak jarang warung-warung makan hanya menyediakan sendok plastik atau sumpit sekali pakai. Ini juga awal mulanya ide Manualle muncul. Manualle menyediakan sendok, sumpit dan garpu kayu untuk digunakan berulang kali. Semuanya dikemas dalam pouch dengan bahan kuat dan tanpa plastik, sehingga mudah dibawa ke mana-mana.

5. Pikir ulang jika ingin beli makanan kemasan

Setiap kali kita ingin membeli sesuatu yang berwadah plastik seperti air mineral botol, susu botol, minuman rasa-rasa botol, camilan dengan bungkus plastik, mari berpikir ulang… Apakah nanti wadah-wadah plastik tersebut bisa digunakan kembali atau di daur ulang? Kalau tidak, alangkah baiknya kita mengurungkan niat kita ya. Tentu juga bisa berhemat kan jadinya. Tapi jangan terlalu keras pada dirimu, oke, sesekali nggak apa-apa kok 🙂

6. Beli yang paling besar

Kalaupun ternyata harus sekali membeli sesuatu berbungkus plastik seperti di poin 5, pilihlah yang ukuran besar. Dengan demikian kita mengurangi jumlah konsumsi plastik kecil-kecil yang banyak.

7. Perhatikan bahannya

Utamakan membeli produk dengan bahan-bahan alami, organik dan produk lokal. Kita juga perlu lho memperhatikan komposisi dari produk yang kita beli. Jangan-jangan di dalam sana, ada zat-zat kimia yang berpotensi buruk dan menjadi sedimen bagi lingkungan. Ini masih berat banget menerapkannya, tapi nggak apa apa, tetap semangat!

8. Belanja sekaligus dalam jumlah banyak

Kalau kurang mendesak. kurangi belanja online yang kecil-kecil. Kenapa? Karena boleh jadi meski harganya terjangkau, belanjaan kita yang kecil dari e-commerce itu menghasilkan banyak jejak karbon sebelum sampai ke rumah kita. Mulai dari kemasan plastik, bubble wrap, hingga emisi kendaraan ekspedisi yang dihasilkan. Kalau produknya masih bisa ditemui di toko terdekat, beli di toko yang dekat saja yaa…

9. Simpan dulu sampah sampai bisa dibuang di tempatnya

Kalau di jalan kita ternyata menghasilkan sampah atau menemukan sampah, bawalah dulu di dalam saku atau tas kita. Silakan buang apabila menemukan tempat sampah, atau bawa sampai di rumah, buang di rumah.

10. Pakai transportasi publik

Kurangi menggunakan kendaraan yang menghasilkan banyak emisi karbon. Utamakan menggunakan transportasi publik masal, bersepeda atau jalan kaki ya.

11. Gunakan teknologi digital

Ubah kebiasaan manual ke digital: corat coret catatan kertas kita bisa mulai dibuat digital lho untuk mengurangi limbah kertas. Atau apabila kita terbiasa dengan manual, coba manfaatkan bagian kosong dari kertas-kertas bekas sebagai catatan. Atau sekalian menggunakan kertas daur ulang.

Pernah kepikiran nggak kalau struk belanja atau struk dari ATM bisa kamu manfaatkan sebagai kertas catatan kecil sebelum kamu remas dan buang di tempat sampah? Hehe.

green plants in planter on wooden surface
Photo by Anna Oliinyk

Selain saat ke luar rumah, di dalam rumah juga banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mengurangi sampah, misalnya: 

12. Pilah sampah berdasarkan kelompok

Mulai memisahkan antara sampah organik, sampah kertas, sampah plastik, sampah kaca, dan sampah kimia. Ini juga akan membantu petugas kebersihan mengelola sampah nantinya.

13. Buat kompos dari sampah

Membuat kompos sederhana dari sampah organik. Sampah-sampah organik yang sudah kamu pilah-pilah itu bisa digunakan untuk kompos. Kompos berguna untuk penyuburan tanah dan tanaman.

14. Perhatikan 6R

Melakukan prinsip 6R yaitu Reuse, Reduce, Recycle, Refill, Replace dan Repair. Ada banyak sekali tips daur ulang atau Do It Yourself yang bisa kamu terapkan di rumah lho.

15. Cari pengganti produk sekali pakai dengan yang berkelanjutan

Subtitusikan barang-barang yang digunakan berulang dengan bahan yang lebih berkelanjutan. Misalnya: seperti pembalut bagi perempuan yang bisa mulai diganti dari konvensional ke pembalut kain atau menstrual cup. Mengganti kosmetik ke bahan-bahan alami atau yang cruelty free. Kurangi sheetmask. Hehe. Gunakan sabun-sabun yang tidak mengandung banyak busa, scrub berbahan mika ataupun zat tidak terurai di air lainnya.

16. Makanlah dengan bijaksana

Habiskan makananmu! Ini penting sekali meski tindakan kecil. Karena tahukah kamu, limbah makanan organik sangat berbahaya bagi bumi karena bisa menghasilkan zat metan dan gas mudah terbakar. Kalau kamu tidak yakin makananmu habis, ambillah secukupnya. Kalaupun bersisa, kamu bisa menjadikannya kompos dan pakan ternak (bila ada).

17. Pertimbangkan kontribusi ke bank sampah

Apabila kamu mulai terbiasa memilah sampah konsumsimu di luar maupun di dalam rumah, kamu bisa mengirimkannya ke bank sampah atau ke pengelolaan sampah lainnya lho, untuk memastikan limbahnya terdaur ulang dengan baik.

18. Coba untuk menanam makanan sendiri

Kalau kamu suka berkebun, mulailah menumbuhkan kembali sayur-sayuranmu. Bisa menggunakan media air. Sehingga bagian pangkal sayur-sayuran yang biasanya kamu buang, bisa tumbuh lagi menjadi sayuran segar yang baru.

19. Beli pakaian secukupnya

Perhatikan simpanan pakaianmu. Ketika mau membeli yang baru, kamu bisa mengeluarkan yang lama untuk disumbangkan atau daur ulang. Kamu juga bisa mencoba thrift fashion, tukar baju dan membeli baju preloved yang masih bagus.

20. Ikut mengampanyekan pentingnya hidup minim sampah

Mulai terlibat mengampanyekan pentingnya mengatur pola konsumsi untuk pola hidup minim sampah kepada orang terdekatmu. Misalnya, apabila mengirimkan barang gunakanlah pembungkus kertas atau tas yang bisa dipakai ulang. Sampaikan dengan cara yang paling menyenangkan!


Mengurangi konsumsi kita terhadap plastik sangat penting. Membangun kedasaran kolektif akan dampak lingkungan karena konsumsi manusia perlu kita lakukan bersama. Selain mendesak pihak berwenang mengimplementasikan kebijakannya dengan sesuai .

Pembahasan soal ini akan panjang sekali. Ini juga kita belum melihat dari sisi industri. Seperti misalnya kenapa sih pabrik pasta gigi atau skincare membungkus produknya dua lapis? Bagaimana karyawan-karyawan pabrik bekerja kalau produksi komoditasnya berkurang? Bagaimana kebijakan negara membuat regulasi produksi dan konsumsi plastik? Atau bagaimana menerapkan pola hidup minim sampah yang “eksklusif” ini ketika kondisi ekonomi tidak memungkinkan beralih ke produk-produk ramah lingkungan yang harganya lebih mahal?

Kita seringkali berpikir hal-hal besar, tapi luput mem-breakdown permasalahan yang sebenarnya bisa dimulai dari diri kita sendiri. Kalau kita fokus pada hal-hal besar, biasanya kita akan bertanya: lalu bagaimana bisa menyelesaikan permasalahan besar itu? Apalagi kalau sudah menyangkut peran pemerintah atau undang-undang. Tentu juga perlu menjadi perhatian kita.

Tapi kalau bicara tentang sampah, mari kita bertanya dulu ke diri sendiri: sejauh ini, pola hidup kita bagaimana? Apakah sudah mulai menerapkan pola hidup minim sampah? Mengurangi konsumsi? Bertanggung jawab atas limbah keseharian kita sendiri?

Sebisanya saja, nggak apa-apa.

Apabila ingin melakukan perubahan, apa hal kecil yang actionable dan bisa kita lakukan dalam waktu dekat? Karena yang kecil-kecil akan membawa perubahan besar. Sambil permasalahan sistemik diselesaikan di meja sidang paripurna. Hehehe.

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Hello! Thankyou for visiting our page! Hit me up through Instagram too @gita.prayitno or send me some mails to hellogita@kulawarga.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *