Cara-Cara Suami Membujuk Istri Yang Ngambek

Cara-Cara Suami Membujuk Istri Yang Ngambek

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Pada dasarnya, saya dan pak suami tidak pernah bertengkar. Selain karena kami menjaga baik-baik infrastruktur rumah tangga yang costly, suami saya juga bukan tipikal cowok nyebelin yang semaunya sendiri dan sering bikin nggrundel.

Suami saya ini pria baik-baik. Kalau bicara sama istri, lembut sekali. Sering bercanda sekaligus pendengar yang tabah untuk semua kebawelan saya setiap hari.

Tapi tentu saja dia tetap manusia, bukan intelejensi artifisial yang diprogram selalu menyenangkan. Ada kalanya sesekali dia bikin saya kesal karena hal-hal kecil. Ujung-ujungnya saya juga sediki-sedikit ngambek, meski nggak kebangetan.

Seperti kemarin sore saat kami berkeliling di salah satu mall di Malang, dia mengatakan sesuatu yang bikin saya sebal. Saya sudah lupa sih persisnya dia bilang apa, yang pasti respon saya langsung bad mood.

“Ah, mas nyebelin ah. Aku sedih nih,” tanggap saya waktu itu sambil rasa-rasanya kok pengin menangis.

Dia tentu saja berusaha merangkul, menggenggam tangan, atau melakukan hal-hal yang terpikirkan olehnya supaya saya nggak ngambek. Meskipun mungkin dia nggak tahu persis sebenarnya di sebelah mana kesalahan yang dia katakan.

Ya tapi itulah peran suami ‘kan? Sejak hari ijab qobul diucapkan, laki-laki harus siap mengucapkan “maaf” kapanpun – di manapun, meski nggak tahu kesalahannya apa. Pokoknya harus bisa rendah hati, minta maaf saja, nggak pakai tanya-tanya. Mungkin dari sini kepercayaan bahwa “perempuan selalu benar” itu juga jadi mutlak adanya.

Tapi bukan perempuan namanya kalau bisa langsung membaik mood-nya sekejap mata. Kadangkala kita yang perempuan ini, makin dibujuk, makin manja. Ngambeknya malah makin menjadi. Kenapa? Saya juga belum pernah baca riset psikologisnya.

Saya mengelak dari semua usaha suami saya untuk meminta maaf. Dia mau merangkul, saya menjauh. Dia mau nggandeng, saya tepis. Sampai dia bilang begini:

“Yaaah, iyadeeh. Mas minta maaf… maafin mas dooong. Yuk kita jajan cilok yuk.”

Gubrak!

Ini istrinya ngambek, kok suaminya bisa membujuk dengan mengajak makan cilok. Saya langsung pengin tertawa. Ide darimana sih suami saya berpikir cilok bisa meredakan ngambek istrinya.

Tapi saya terus ngambek, meski kini agak pura-pura. Saya menggeleng. “Nggak mau,” ujar saya. “Mau pulang aja.” Saya terus berjalan mencari eskalator turun menuju parkiran mobil. Padahal, apa yang kami cari di mall itu belum didapatkan.

“Yaah, masa pulang sih? Pulang beneran nih? Kalau nggak mau cilok, jajan bakso aci mau?”
bujuk suami saya lagi.

Suami saya sepertinya benar-benar berpikir, istrinya pemuja bakso aci yang bisa luluh diajak jajan.

Saya diam sejenak, mikir-mikir apakah bakso aci bisa cukup jadi kompensasi ngambek sore itu.

“Ehm… aku mau bakso aci. Tapi nggak! Aku masih mau ngambek dulu,”
balas saya sambil cemberut. Sepertinya, suami saya akan terus berusaha menawarkan sesuatu supaya ngambek saya ini bisa reda. Dan tampaknya, dia terus menaikkan tawarannya, seperti lelang.

Kami berjalan terus sampai ke lantai dasar. Kebetulan, dari eskalator turun yang terakhir, terlihat pintu masuk Guardian. Suami saya paham betul saya bisa khilaf kalau sudah mau Guardian. Berbagai macam produk skincare, make up, shampoo, sabun dan vitamin sering saya beli di sana.

“Yuk ke Guardian yuk, belanja skincare,” tiba-tiba suami saya berceletuk.

Di sini tawa saya pecah. Tesis saya bahwa pak suami akan terus meningkatkan nilai penawarannya benar terjadi. “Aku mau nunggu penawaran tertinggi mas apa, kalau cocok, baru lelang aku terima,” kata saya.

Sejak awal saya ngambek, saya tidak benar-benar marah padanya. Saya agak sedih, sih, memang. Tapi saya tidak marah. Saya juga tidak menyalahkannya. Toh kita memang selalu butuh sejenak waktu untuk meredakan kesedihan dan lonjakan emosi berlebih.

Bujukan suami saya untuk belanja di Guardian juga gagal. Kami tetap menuju parkiran mobil dan bersiap pulang. Meskipun saat melihat banyak penjual jajanan di parkiran dirinya masih berusaha menawarkan. “Yakin nih nggak mau cilok? pentol? telor gulung?”

Di tengah jalan menuju rumah, suami saya memutar balik mobil karena melihat seorang bapak tua berjualan bakpao di pinggir jalan.

“Au mau bakpao?” tanyanya.

“Mas aja. Au nggak mau.”


Suami saya lalu turun, menyebrang menuju ke tempat bapak penjual bakpao. Saya diam-diam memperhatikan dari dalam mobil. Saya lihat bapak penjual bakpao ini berjualan sendirian dan bakpaonya masih banyak. Suami saya sepertinya sedikit mengobrol dengan si bapak, lalu lima buah bakpao dibungkuskan ke dalam plastik.

Saya selalu tentram melihat karakter suami saya yang seperti ini. Dia sering sekali tiba-tiba menghampiri penjual apapun lalu membeli beberapa barang meskipun kadang dia tidak butuh. Berbagi rezeki, sepertinya. Dia juga akan mengajak mereka mengobrol, bertanya di mana rumahnya, berjualan sejak jam berapa, atau bertukar kontak.

Bagaimana bisa saya berlama-lama ngambek pada hati setulus dirinya?

Suami saya bukan laki-laki terbaik di dunia. Seperti saya yang juga bukan istri terbaik di dunia. Kadang kelakuannya juga seperti anak kecil, tapi lebih sering lagi saya melihatnya sangat berkharisma dan ramah pada orang lain. Suami saya selalu memikirkan kebutuhan orang lain melebih dirinya sendiri. Dia juga sangat terbuka mendengarkan pendapat orang lain, termasuk pendapat saya. Jadi kalau saya merasakan sesuatu, saya bisa bercerita apa saja padanya tanpa canggung sedikitpun.

Saya kira, ngambek pada pasangan itu lumrah. Kelak, kalau kamu berkeluarga, kamu juga akan melalui masa-masa ngambek kecil pada pasanganmu.

Sebenarnya, mengatasi ngambek pasangan itu juga mudah. Kuncinya adalah mau berkomunikasi. Menurunkan ego dan meminta maaf adalah langkah yang pertama. Introspeksi diri adalah langkah selanjutnya. Jangan lupa pasang wajah tersenyum, tatapan yang lembut, dan ekspresi benar-benar merasa bersalah (meskipun kamu nggak tahu letak kesalahanmu itu di mana).

Membujuk pasangan dengan sesuatu yang dia sukai juga bisa menjadi solusi. Seperti suami saya yang memasukkan cilok, bakso aci dan skincare pada daftar cara-cara membujuk istri yang ngambek, mungkin kamu juga bisa mencobanya.

Berikan pasanganmu waktu untuk berdamai dengan emosinya. Kalau sudah sedikit tenang, pelukan erat bisa menjadi penyembuh yang ampuh.

Jangan langsung bertanya “kamu kenapa?” pada pasangan yang sedang ngambek. Jangan sesekali berani melakukan itu. Karena hasilnya hanyalah pasanganmu akan merasa dirimu tidak peka. Perkara “tidak peka” dalam hubungan ini bahaya lho, bisa merembet sampai jauh hingga merasa “kok dia nggak ngerti aku? dia nggak beneran sayang aku ya?”. Nah lho! Ambyar!

Terakhir, untuk kita para perempuan dan istri, tarik napas dalam-dalam dan pahami para laki-laki telah berusaha sekeras tenaga untuk peka di tengah ketidakmampuan mereka untuk memahami kompeksitas perempuan. Mereka itu kalau sedang merasa bersalah gemesin lho, apalagi usahanya untuk bikin para istri nggak ngambek lagi. Coba deh perhatikan wajah bingungnya yang mencari ribuan cara supaya dimaafkan.

Sering-sering bercanda bareng pasanganmu. Tertawa bersama dan menangis bersama akan melembutkan hati kalian berdua. Dan kalau ada peristiwa yang bikin emosi jiwa, ingat-ingat kembali momen-momen bahagia kecil dan keluguan suamimu, sungguh itu bisa meredakan ledakan amarahmu.

luv ~

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Hello! Thankyou for visiting our page! Hit me up through Instagram too @gita.prayitno or send me some mails to hellogita@kulawarga.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *