Bertahan atau Keluar

Bertahan atau Keluar

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Hidup ini adalah tentang sikap pada pilihan-pilihan di persimpangan jalan. Seseorang tentu tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Masa di mana kita telah berjalan kemudian menemukan persimpangan yang memaksa kita untuk memilih. Seperti bagaimana memilih antara bertahan atau keluar.

Para so called “love coach” selalu berujar pada audiensnya bahwa ketika kita merasa sudah tidak cocok dengan pasangan, keluar saja dari hubungan tersebut. Sesederhana itu, kata mereka. Dengan berbagai teori macam-macam mereka berusaha menjustifikasi bahwa kliennya berhak mendapatkan hubungan romantis yang lebih baik.

Jika diperhatikan baik-baik, apa yang disarankan oleh love coach juga adalah sebuah pilihan yang tentu saja tidak menjamin apapun di kemudian hari. Sebab belum tentu dalam hubungan, seseorang akan mendapatkan sosok yang jauh lebih baik, meski ada pula kemungkinan untuk mendapatkan yang jauh lebih baik.

Semua bermuara pada kemungkinan-kemungkinan yang kita pun tidak pernah tahu apa hasil akhirnya. Bagiku pribadi, akhirnya yang bisa kita lakukan adalah kita harus bertanggung jawab sepenuh hati dalam memilih keputusan-keputusan yang kita ambil. engan begitu, hasil apapun yang didapatkan baik maupun buruk tidak akan pernah disesali dan tidak akan pernah disandarkan pada orang lain.

Bertahan atau keluar adalah pertanyaan yang sama ketika aku mempertimbangkan diri untuk berhenti dari pekerjaan sebagai jurnalis (lepas) di Good News From Indonesia ataukah melanjutkan karir. Padahal saat evaluasi akhir sebelum saya angkat kaki dari kantor, manajemen mengungkapkan bahwa ada rencana untuk menempatkan seorang Bagus Ramadhan di posisi manajer hanya saja keburu memutuskan untuk keluar.

Sementara saat ini, aku harus berjuang untuk bisa mendirikan sebuah perusahaan yang secara tidak sadar telah saya impikan sejak lima tahun lalu. Sebuah perusahaan periklanan yang berjalan dengan modal seadanya dan pengalaman yang mungkin cukup prematur. Tapi jelas ini adalah pilihan dan dengan begitu sadar aku harus menghadapi setiap lika-liku dari pilihan di persimpangan jalan yang aku tempuh. Menyesal tidak bertahan di kantor lama? Sedikit, tapi jelas itu adalah godaan yang harus dituntaskan.

Begitupun soal komitmen kala itu. Menjaga komitmen atau keluar dari komitmen adalah tentang sebuah pilihan yang harus diambil secara sadar dan bukan dari pengaruh orang lain. Komitmen untuk berjuang mengajukan sebuah nama yang akhirnya memang aku putuskan untuk tidak lagi diperjuangkan. Tentu saja seperti keputusan-keputusan yang lain, ada banyak pertimbangan yang harus dipandang secara objektif sebelum keputusan bisa benar-benar diambil.

Seperti bagaimana aku harus berada di dalam sebuah komitmen yang menyakitkan bila tetap terus bertahan. Suasana yang hampir memicu kembali depresi dan rasa frustasi akut. Begitu juga tentang bagaimana relasi kekuatan yang ternyata tidak seimbang, yang menempatkanku menjadi sosok yang terus menerus dihantui ketakutan dan bergerak karena ancaman-ancaman.

Hidup dalam ancaman, bertahan karena komitmen? Atau keluar dan kembali mengembara di hutan belantara. Mana yang ingin dipilih?

Mengetahui kapan bertahan dan kapan keluar rasanya menjadi sebuah ilmu yang harus didalami dalam pengambilan keputusan. Bukan hanya karena aku harus menghadapi persoalan pribadi tetapi ilmu tentang decision making adalah ilmu yang telah dipelajari dalam dunia bisnis dan dianggap sebagai sesuatu yang akan menentukan nasib sebuah perusahaan.

Mengingat aku adalah orang yang tidak ingin menjalani sesuatu dengan tekanan dan paksaan orang lain, tentu saja pilihan yang diambil adalah keluar dan kembali mengembara. Tidak mudah jelas, karena harus menjalaninya dalam proses penyembuhan dan kembali bangkit.

Mungkin ini maksudnya dari judul awal tahun 2018 yang tertulis kala itu. Reanimation, kembali menghidupkan. Menghidupkan kesadaran, kembali menghidupkan gairah untuk mencapai sesuatu. Belajar tanpa henti, meski harus compang-camping bertahan hidup.

Lagi-lagi tiada yang menyangka bahwa Kulawarga menjadi bagian dari pilihan penting di persimpangan itu, begitu pula TEKNOIA Creative. Pilihan yang kini telah menjadi komitmen dan menjadi impian yang harus diupayakan. Itu sebabnya aku berusaha untuk terus menerus mengisinya dengan setiap jengkal pengalaman yang aku miliki. Semoga saja bermanfaat untuk kami, anak, ataupun Anda sekalipun suatu saat nanti.

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Penulis konten yang punya latar belakang pendidikan bisnis. Sempat jadi jurnalis. Kemudian terobsesi dengan buku dan pengetahuan. Impian terbesarnya adalah membuat film dokumenter dan bikin perusahaan yang peduli keberlangsungan alam.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *