Almamater, Polemik Gaji dan Kebutuhan Industri

Almamater, Polemik Gaji dan Kebutuhan Industri

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Tempo hari, temanku menunggah sebuah tangkapan layar yang katanya tengah ramai dibicarakan di media sosial. Dia memberikan komentar tentang betapa pongah si pembuatnya; seorang lulusan muda dari universitas ternama yang menolak perusahaan lokal karena hanya menawarkan gaji 8 juta.

Hello!! walaupun gue fresh graduate, gue lulusan UI pak, Universitas Indonesia! Jangan disamain dengan fresh graduate lulusan kampus lain,” unggahnya.

Jujur, ini bukan pertama kali segelintir “lulusan UI” berurusan dengan sensasi. Persoalan prestis university bukan bahan baru dan pemuda ini bukan satu-satunya warga UI yang punya pemikiran demikian.

Dulu, ketika masih menjadi mahasiswa pun aku pernah terjebak di pemikiran serupa. Coba deh, anak UI, ngaku hayo: pernah nggak terlintas di pikiran kalian “gue kalau punya pasangan maunya dengan sesama lulusan UI, ITB atau UGM”.

Pernah nggak kalian merasa “nggak seru ya diskusi kalau bukan dengan sesama anak UI, nggak se-open minded UI”; “UI tuh levelnya emang udah beda, punya banyak kenalan dan jejaring berpengaruh di perusahaan, pemerintah”, atau mungkin kalian berpikir “nanti lulus dari UI, ijazah gue bakal dipilih duluan dibanding lulusan kampus lain, trus dioffer gaji yang di atas UMR lah”

Perlu diakui, sebagai produk keluaran ‘pabrik’ Universitas Indonesia, pride semacam itu memang ada. Kehidupan di UI didukung oleh berbagai fasilitas, sarana sekaligus pressure dan competitiveness yang memacu perkembangan diri mahasiswanya jauh lebih pesat. Alhasil, kadang kala mahasiswa UI kurang bisa menyesuaikan diri dengan kondisi di luar kampus yang tidak sepesat di lingkungan UI.

Inipun bukan hanya menyoal “tempat kuliah” lho ya, tapi juga lingkungan pertemanan, pemikiran, diskusi, yang membentuk pola pikir.

Tapi kemudian aku sadar, meskipun kesannya ini keren sekali, tapi ternyata main kita cuma sekeliling Margonda – Beji – Srengseng – Kelapa Dua. Kurang jauh. —paling jauh ya lagi-lagi Kokas.

Aku adalah bagian dari orang-orang cukup beruntung yang merasakan dunia industri bahkan sebelum sidang skripsi. Bekerja dengan hanya dibayar uang makan 20 ribu sehari tanpa transport atau mendapat gaji 500 ribu sampai 9 juta perbulan juga pernah kurasakan saat status KTMku masih aktif.

Bukan angka yang “wah”, tapi pengalaman yang cukup berarti untuk mahasiswa yang belum punya ijazah, dan pasti banyak juga selain aku yang mungkin pernah mendapatkan pengalaman serupa.

Dari pengalamanku yang minim itu, aku belajar bahwa dunia kerja dan industri tidak akan terlalu memikirkan almamater universitasmu. Asalkan kamu punya kemampuan sesuai dengan bidang yang kamu geluti, punya sopan santun, berkepribadian profesional, dan mau berjuang, maka mari kita bekerja sama.

Perusahaan atau lembaga pemerintah sudah punya standarnya masing-masing dalam mencari tim kerja. Bisa jadi kamu merasa punya kemampuan dan hebat tapi tidak diterima karena bukan kamu yang mereka cari. Atau adakalanya kamu merasa tidakk percaya diri, tapi ternyata kamu diterima karena mungkin mereka melihat ada potensi di dalam dirimu.

Dunia kerja dan industri berbeda dari ruang kuliah. Bahkan bisa berbeda dari tongkrongan kampus atau mimbar organisasi. Almamater kebanggaanmu bisa jadi menarik, tapi belum tentu signifikan. Industri mencari lebih dari sekadar prestis, tapi skill, attitude, experience, inovasi bahkan strategi.

Pikiran egois dan perilaku minus empati yang sampai perlu diunggah ke instagram story jelas bukan salah satu kriteria yang menarik bagi industri.

Pernah beberapa kali dilibatkan untuk menyeleksi calon pekerja, aku menemukan pola yang sama: 1. kesungguhan yang luput dan 2. terlalu percaya diri. Pasti sudah jadi komentar banyak perusahaan kalau ada pelamar kerja yang mengirim e-mail sekenanya, pada jam-jam tidak lazim, berikut CV yang ala kadarnya pula.

Lalu yang membuatku agak heran adalah saat menemukan para fresh graduate yang melamar kerja dengan melabeli dirinya dengan kamampuan-kemampuan unik:

  • kemampuan bahasa inggris 9/10
  • kemampuan menggunakan photoshop, corel dan AI: 8.5/10
  • kemampuan teamwork dan leadership: 9/10
  • ERP specialist, SEO specialist
  • Saya merupakan lulusan dari universitas X dan pantas dengan gaji sekian – sekian – sekian

Sayangnya, itu semua luput menampilkan bukti yang valid.

Bagaimana cara menguji validitas kemampuan bahasa inggrismu 9/10? Apalagi bila kamu luput mencantumkan nilai TOEFL atau IELTSmu? Bagaimana menilai validitas poin 8.5/10 untuk kemampuan desain grafismu kalau bahkan kamu tidak mencantumkan portfolio dan pengalaman kerjamu? Atau hal apa yang bisa memastikan benar kamu sangat ahli dalam teamwork dan leadership?

Toh kalau kamu ahli sekali, mengapa kamu melamar pekerjaan ini, mengapa tidak kamu lead saja sebuah tim lalu membuka lapangan kerja sendiri?

Belum lagi yang menyebut diri “specialist” tapi setelah dilihat, latar belakang keilmuan dan pengalaman kerja di bidang tersebut kurang dari dua tahun atau bahkan tidak ada.  Beberapa spesialis bahkan butuh sertifikasi. Lalu juga yang menyatakan “pantas mendapat gaji sekian” tapi tidak bisa memastikan apa yang bisa diberikannya untuk perkembangan perusahaan.

Begini, para sahabat fresh graduate-ku, kita selalu boleh berbangga dan yakin akan kemampuan diri kita. Hanya saja, tetaplah rendah hati dan tahu diri, bahwa industri berbeda dengan kepanitiaan organisasi. Sebagai orang baru, calon pekerja, yang perlu digarisbawahi adalah kontribusi seperti apa yang bisa kamu berikan sebelum memikirkan berapa besaran gaji yang bisa kamu dapat.

Kontribusi dan pengembangan diri itu berpusat pada kemauan dirimu dulu, akan semakin baik bila lingkunganmu mendukung. Tapi bukan berarti kalau kamu tidak bisa mendapat yang kamu mau, lantas kamu menyalahkan pihak lain (perusahaan yang tidak bisa memberimu gaji tinggi atau lingkungan kerja yang tidak membuatmu berkembang).

Sama halnya dengan gaji. Ketika melamar pekerjaan, biasanya akan ditanya berapa besaran gaji yang menurutmu pantas kamu terima sesuai dengan kualifikasimu. Pastikan ketika menentukan besarannya, kamu juga sudah tahu seberapa berpengaruh keberadaanmu kelak bagi perusahaan. Yakinlah, seseorang yang punya kapabilitas akan selalu dicari.

Nah, kalau ternyata tawaran gaji tidak sesuai dengan yang kamu mau, alih-alih kamu meremehkan perusahaan, perlu ada dua hal yang bisa kamu catat: pertama, mungkin kamu lupa mencari tahu dulu standar gaji di perusahaan tersebut, lalu kedua, bisa jadi ini hanyalah langkah awal karena mereka ingin melihat dulu kapabilitas dan kualitas kerjamu, apakah sesuai dengan CV dan janji-janjimu saat interview, karena kenaikan gaji juga bukan hal yang mustahil.

Maka, jauh sebelum itu, penting pula untuk mempersiapkan hal-hal mendasar sebelum memasuki dunia kerja. Barangkali, berikut lima tips yang dapat kamu lakukan sebelum memasuki dunia kerja dan industri:

1. Kenali kemampuan dirimu dan di bidang mana kamu ingin berkontribusi.

Ada yang memang sejak kuliah sudah tahu ke mana dia akan melangkah setelah lulus. Ke lembaga mana dia ingin melamar pekerjaan atau mungkin ingin membangun startup sendiri. Butuh lebih dari sekadar ijazah dan IPK, maka mengenali sejauh apa kemampuan diri menjadi penting. Dari sanalah kita bisa tahu kekurangan kita, potensi kita, untuk terus belajar dan dilatih supaya berkembang makin berkualitas.

Seringnya, para fresh graduate ini tidak tahu saat ditanya kemampuannya apa, atau lucunya mereka tidak bisa membuktikan dan meyakinkan perusahaan tentang skill yang mereka sebutkan.

Ini bukan perkara lulusan kampus mana yang lebih baik lho ya, secara umum, ini pula keluhan banyak perusahaan. Industri butuh banyak pekerja baru, tapi sayangnya, tidak banyak calon pekerja yang memenuhi standar kualifikasi industri.

2. Buatlah CV yang jujur dan serius.

Curriculum Vitae harus baik, meyakinkan, tapi tidak perlu berlebihan.

Tulislah hal yang memang sesuai dengan dirimu dan kamu harus mampu membuktikannya. Contohnya seperti persoalan skill yang kusebutkan di atas.

Sejauh ini, aku tidak pernah berani menulis kemampuan bahasa inggrisku 8/10. Meski sehari-hari bisa berkomunikasi dalam bahasa inggris, belum bisa kupastikan kemampuan writing dan grammarku secara akademis juga baik. Alangkah lebih baik menampilkan skill dengan skala atau bar seperti ini mulai dikurangi. Jauh lebih baik langsung dicantumkan saja nilai TOEFL atau IELTSmu, atau tulis saja “mampu berkomunikasi dengan baik dalam bahasa Inggris”.

Ada baiknya pula kamu mencantumkan SWOT yang sesuai dengan bidang pekerjaan yang kamu tuju.

3. Mulailah mendokumentasikan pekerjaan dan kemampuanmu sebagai portfolio

Kamu senang menulis? Maka kumpulkan tulisan-tulisan terbaikmu dengan tema apapun yang kamu sukai sebagai sebuah portfolio.

Kamu suka desain? Manfaatkan berbagai media untuk mengumpulkan portfolio desain-desain terbaikmu.

Kamu suka membuat video, menggambar, menjadi pembicara, moderator, MC, melukis. atau apapun, kumpulkan itu sebagai validasi kemampuan yang bisa kamu tawarkan untuk industri.

Jadi, bukan hanya menampilkan pengamalan kerja, kamu juga bisa menyertakan portfolio ini sebagai bentuk konsistensi dan kesungguhanmu. Ini juga bisa menjadi faktor pendukung kalau kelak kamu mendapatkan rekomendasi kerja, artinya, bukan sekadar memanfaatkan jejaring dan kenalanmu, tetapi kamu juga bisa membuktikan kemampuanmu.

Kamu juga bisa mulai mengerjakan sebuah proyek pribadi dan menjadikannya sebagai portfoliomu.

4. Lakukan riset dan rencanakan karirmu

Beberapa calon pekerja tidak melakukan riset sebelum melamar pekerjaan.

Riset ini artinya adalah mencari tahu identitas perusahaan yang dituju; bagaimana latar belakang perusahaan, seperti apa identitasnya, apa afiliasinya, bagaimana lingkungan bekerjanya, seperti apa budaya kerjanya hingga berapa besaran gaji yang biasa diberikan bagi pekerja baru.

Ini bisa kamu lakukan untuk menghindari kejadian lucu #gaji8juta itu. Misalnya kamu sudah tahu berapa besaran gaji yang biasa ditawarkan dan itu tidak sesuai dengan harapanmu, kamu bisa coba melamar pekerjaan di perusahaan lain yang kamu rasa sesuai.

Melakukan riset dan perencanaan karir ini juga penting agar kamu tidak terjebak di lingkungan kerja yang “tidak bisa membuatmu berkembang” karena kamu bisa mempersiapkan diri lebih dulu dengan mengenali calon kantormu.

5. Kalau ada kesempatan yang tidak sesuai, rekomendasikanlah orang lain

“Bapak, mohon maaf, sepertinya saya belum cocok dengan amanah di perusahaan ini. Namun saya bisa merekomendasikan teman saya yang mungkin akan sesuai dengan kualifikasi perusahaan ini serta cocok dengan salary yang ditawarkan.”

Salah satu prinsip yang perlu kita genggam erat adalah “jangan pernah menghambat rezeki orang lain”.

Rezeki bukan hanya soal money tapi juga kesempatan, ilmu, atau tawaran pekerjaan. Bila ada kesempatan kerja yang datang pada kita namun belum sesuai dengan keinginan kita (misalnya waktu kerja atau gajinya tidak sesuai), maka rekomendasikanlah orang lain.

Biarkan perusahaan mendapatkan “rezekinya” berupa pekerja baru yang sesuai dan biarkan teman kita mendapatkan “rezekinya” berupa pekerjaan dan gaji yang sesuai.

Mungkin terkesan tidak biasa, tapi ini merupakan etika yang baik untuk dibiasakan. Etika ini menunjukkan bahwa kita menghargai perusahaan serta menghargai profesionalitas kerja diri kita sendiri.


Berapa banyak orang yang mengeluh sulit mendapat pekerjaan, tapi ketika ditawari pekerjaan ditolaknya karena merasa tidak cocok?

Tidak cocok gajinya, tidak cocok lingkungannya, tidak cocok afiliasi politiknya… haha.

Lalu saat ditanya apa kontribusi yang bisa diberikannya untuk perusahaan, dirinya tidak punya cukup kualifikasi standar industri.

Sayangnya, ternyata ada pula segelintir orang yang merasa sangat percaya diri dan merasa punya prestis, lalu justru bersikap tidak pantas.

Dalam bekerja dan mengasah potensi, kita memang tidak boleh rendah diri. Tapi tetaplah ingat untuk selalu rendah hati. Banyak memberi sebelum banyak mendapat.

Bekerjalah dengan visi dan value, tidak hanya mengejar gaji atau job security. Latih terus potensi diri, jangan hanya mengandalkan prestis university.

Persiapkan diri untuk masuk ke dunia industri, sebagai pekerja profesional atau membuka lapangan kerja, pastikan keberadaan kita dapat memberi solusi untuk orang lain.

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Hello! Thankyou for visiting our page! Hit me up through Instagram too @gita.prayitno or send me some mails to hellogita@kulawarga.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *