Alasan Konyol Aku Berhenti Menulis

Alasan Konyol Aku Berhenti Menulis

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Dua belas tahun yang lalu, aku sangat rajin menulis di blog. Waktu itu aku masih SMA dan situs yang paling mudah diakses adalah blogger.com. Setiap hari, sepulang sekolah, aku menyempatkan diri untuk pergi ke depan selasar laboratorium kimia, duduk di satu-satunya bangku kayu panjang di sana, membuka laptop ACER 4736 dan menulis apa saja yang ada di kepala.

Waktu itu nggak ada sama sekali perasaan malu menuangkan isi pikiran apalagi isi hati. Semua ditulis apa adanya dengan bebas. Kadang pendek seperti puisi, kadang juga panjang tak beraturan. Aku nggak pernah terpikir tulisan-tulisanku yang lebih mirip isi buku diary itu memalukan. Aku juga nggak pernah berpikir apakah orang akan membaca atau tidak, pokoknya aku cuma senang menulis. Kegiatan ini sangat aku suka, mungkin, kalau di zaman sekarang bisa dibilang seperti “selfcare to overcome anxiety” —sayangnya dulu istilah-istilah begini belum terkenal.

Dari menulis di blog pribadi, kemudian menulis di koran lokal, menulis cerita pendek yang dilombakan dalam festival, menulis naskah film pendek, hingga saat kuliah menulis untuk dibayar. Ya, menulis bahkan pernah jadi sumber bertahan hidup saat aku jadi anak kost.

Saat menulis ini, aku sedang merefleksikan diri. Entah sejak kapan aku justru berhenti menulis. Benar-benar berhenti karena bukan hanya “tidak menulis”, aku bahkan “tidak mampu memikirkan sesuatu untuk ditulis.” Tidak menulis bisa jadi kita tetap memikirkan banyak hal untuk diceritakan, hanya tidak dituangkan saja dalam kata. Tapi tidak mampu memikirkan sesuatu untuk ditulis ini lain soal. Memangnya kita bisa benar-benar tidak memikirkan sesuatu? Kan nggak mungkin. Atau sebenarnya masih banyak yang dipikirkan, tapi tidak berniat dibagikan. Ini lebih bahaya lagi.

Padahal, dulu aku pernah ada di fase tidak ada satu haripun terlewat tanpa menulis. Bahkan, sebelum aku mengenal blog, aku sudah menulis di buku tulis yang tebalnya 58 halaman itu, dan isinya adalah cerita tentang teman-teman sekelasku yang kugubah menjadi karakter dongeng kerajaan. Setiap hari cerita baru kutulis dan buku itu akan berkeliling dari meja ke meja, dibaca oleh teman sekelas. Mereka menunggu-nunggu, kapan giliran karakter mereka diceritakan.

Intinya, aku merasa ini bisa jadi masalah besar. Apalagi, aku sendiri nggak terlalu mengerti kenapa saat ini menulis rasanya jadi sangat rumit. Bahkan, menjadi beban. Jangankan menulis yang sampai memenuhi standar layak dipublikasi dan diapresiasi dalam rupiah, menulis curahan hati apa-adanya saja aku nggak bisa. Menulis postingan yang sedang kamu baca saat ini mungkin adalah prestasi menulisku paling terbuka dalam tahun-tahun terakhir.

Bagiku, menulis rasanya jadi rumit. Aku nggak bisa menyampaikan karena aku juga nggak punya sesuatu untuk disampaikan. Aku seperti wadah kosong. Nggak ada apa-apa yang bisa diambil dari sebuah wadah kosong.

Banyak orang bilang, mereka yang menulis pasti membaca. Aku setuju membaca bisa membuat kita terpicu untuk menulis. Mengenali dan memahami sesuatu bisa melatih indera kita untuk peka. Kalau kita membaca novel romantis, misalnya, tentang seseorang yang jatuh cinta, bisa jadi kita ikut merasakan jatuh cintanya si tokoh. Atau kalau membaca novel detektif, kita bisa ikut merasakan deg-degannya saat memecah kasus kriminal, bahkan kita ikut menebak-nebak siapa psikopatnya. Nah, bisa jadi, aku nggak bisa menulis lagi karena aku kurang banyak membaca.

Tapi memang benar juga, aku membaca sangat sedikit buku bahkan tidak sama sekali. Kalau saat sekolah dulu aku bisa membaca satu buku dalam empat atau enam jam saja sampai selesai, dan dalam satu tahun mungkin aku bisa membaca tiga puluh buku, lain halnya saat aku mulai kuliah. Aku membeli buku tapi sebagian besar hanya menjadi koleksi. Mungkin ada tuntutan membaca bahan referensi kuliah seperti jurnal-jurnal ilmiah atau buku-buku akademik yang entah bagaimana, aku jadikan alasan untuk tidak lagi membaca buku-buku yang bisa melatih daya imajinasi dan kepekaan rasaku. Ternyata, konsumsi kita memang perlu diseimbangkan.

Kembali pada soal menulis. Blog ini sebenarnya dibuat agar aku rajin menulis, dan kalau bisa, tulisan itu bermanfaat untuk banyak pembacanya. Mungkin, “menulis sesuatu yang bermanfaat” bisa juga jadi beban. Ada teori psikologi yang membahas relasi antara prokrastinasi dengan fear of failure. Kita terus menunda dan “rasanya tidak bisa” bukan karena benar-benar tidak bisa, tapi karena di alam bawah sadar kita, kita takut akan kegagalan.

Aku, barangkali, takut tulisanku jadi tidak ada isinya. Tidak bermanfaat untuk diriku sendiri apalagi orang lain. Akhirnya aku terus menunda, sampai tidak ada juga yang muncul di kepala untuk dituliskan. Atau bisa jadi juga, sebenarnya karena aku malas saja.

Sebelum menyadari ini, aku pernah menjadikan “kehilangan inspirasi” sebagai alasan kenapa aku berhenti menulis. Beberapa temanku tahu aku pernah cukup sering menulis cerita pendek di akun Mediumku. Mungkin tulisan-tulisan di Medium terlihat imajinatif dan tertata. Cerita-cerita di sana, sebenarnya kisah nyata —yang sedikit dinarasikan jadi fiksi. Saat orang-orang di kehidupan nyatanya tak lagi bisa kujangkau, aku seakan “kehilangan inspirasi”.

Kamu tahu apa alasan yang lebih buruk lagi kenapa aku berhenti menulis? Karena “aku tidak lagi sedang jatuh cinta” —tapi juga tidak patah hati. Pasti kamu pernah dengar, puisi-puisi terbaik ditulis oleh para pujangga patah hati. Ada benarnya, lho. Aku sendiri merasa tulisanku paling mengalir saat aku sedang memikirkan seseorang, sedang merasakan kecewa atau jatuh cinta, atau sekadar sedang berharap. Kukira, dulu aku tidak lagi merasa tulisanku punya nyawa karena memang yang menjadi “alasan aku menulis” sudah tidak ada. Ternyata, semua alasan itu konyol.

Sampai hari ini, dari semua yang kualami soal tulis-menulis, dari tentang perasaan, berbasis ilmiah hingga yang bisa merajut kejadian-kejadian, aku merasa menulis memang benar-benar rumit. Apalagi untuk menghasilkan sebuah tulisan yang baik. Tulisan yang menggerakkan orang lain.

Meski banyak sekali teknik yang diajarkan pada kita untuk “membuat tulisan yang baik”, sebenarnya kunci dari menulis adalah menemukan nyawa bagi aktivitas itu, sehingga nanti, tulisannya pun akan bernyawa. Kalau “nyawa” terdengar absurd, aku akan menyebutnya dengan kata “sadar”. Menulis dengan sadar. Tulisan yang membuat pembacanya seperti mendengar suaramu di tiap kalimatnya. Dan yang harus aku pelajari adalah untuk kembali berkesadaran sehingga bisa menulis lagi.

Kalau tadi aku bilang aku seperti wadah kosong yang nggak punya apa-apa untuk disampaikan, itu mungkin karena aku tidak berkesadaran. Tidak punya nyawa. Terlalu banyak mempertimbangkan dan punya ketakutan tanpa alasan juga akan berdampak buruk. Karena boleh jadi, argumenku tentang “menulis itu rumit” bisa saja salah.

Barangkali bukan menulisnya yang rumit, tapi isi kepalaku saja yang rumit dan banyak alasan. Aku yang terlalu banyak ngawang-awang, nggak sepenuhnya sadar untuk bertutur dengan tenang. Sebagaimana mestinya menulis seperti sedang berbicara pada orang terkasih di teras rumah sambil minum teh sore-sore.

Aku harus bisa mengobati fase ‘sakit’ ini supaya bisa kembali menulis dengan sadar. Semoga saja cepat sembuh

Dan semoga kamu sehat selalu.

Share juga ke kawanmu ya. Terima Kasih!

Hello! Thankyou for visiting our page! Hit me up through Instagram too @gita.prayitno or send me some mails to roadiastutyputri@gmail.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *